HOME  ⁄  Ekonomi

Indef Nilai BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen untuk Jaga Pergerakan Sektor Riil

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Indef Nilai BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen untuk Jaga Pergerakan Sektor Riil
Foto: (Sumber :Logo Bank Indonesia. ANTARA/HO-Dokumentasi/pri.)

Pantau - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate dapat membantu menjaga aktivitas sektor riil, termasuk perumahan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Ya, ini juga bagian dari upaya untuk tetap memastikan ekonomi sektor riilnya berjalan,” ujar Eko saat dihubungi di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Eko mengatakan terdapat guncangan di sektor nilai tukar akibat kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang menaikkan suku bunga acuannya.

Menurut dia, dampak kebijakan The Fed tersebut turut dirasakan berbagai negara, terutama negara berkembang.

BI-Rate Dinilai Menjaga Bunga Kredit Tetap Terjangkau

Eko menilai keputusan mempertahankan BI-Rate dapat menahan perbankan agar tidak secara tiba-tiba menaikkan suku bunga kredit.

“Kalau saya baca dari kebijakannya BI, upaya menahan BI Rate ini bagian dari setidaknya laju kredit itu, bunga kredit itu tidak langsung tiba-tiba pada menaikkan bunga, kira-kira begitu dari perbankan di tanah air. Hal itu memberikan optimisme, memberikan arah yang lebih agar bunga lebih terjangkau untuk sektor perumahan, terus kemudian juga UMKM,” katanya.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti sebelumnya menilai BI-Rate yang dipertahankan pada level 5,75 persen masih cukup untuk mendukung dan menjaga stabilitas di tengah era suku bunga global tinggi atau higher for longer.

Destry mengatakan ekonomi domestik terus bergerak ke arah yang lebih baik dengan BI turut memberikan dukungan melalui kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, kebijakan UMKM, dan kebijakan regional.

BI Proyeksikan Ekonomi Tumbuh 4,9-5,7 Persen

Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman mengatakan bank sentral memilih tidak menaikkan BI-Rate karena kenaikan suku bunga dapat berdampak terhadap harga-harga di dalam negeri.

Aida menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup baik meskipun terjadi kenaikan harga minyak global karena ditopang permintaan dan konsumsi domestik serta investasi.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026