
Pantau - Lima Desa Binaan Imigrasi di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menggelar panen raya jagung dengan hasil sekitar 17,25 ton dari lahan seluas 2,5 hektare sebagai bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan nasional.
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan program penanaman jagung tersebut dilaksanakan melalui Desa Binaan Imigrasi di Kalurahan Semin, Bendung, Kemejing, Kalitekuk, dan Bulurejo.
"Total lahan mencapai 2,5 hektare dan hasil panen sejumlah kurang lebih 17,25 ton jagung," kata Hendarsam.
Menurut Hendarsam, panen raya tersebut menjadi langkah awal untuk melanjutkan program melalui penanaman kembali dan pengembangan kegiatan agar tidak berhenti sebagai acara seremonial.
Penanaman kembali juga diarahkan untuk membangun kemandirian dan produktivitas masyarakat sekaligus memperkuat semangat gotong royong serta keberlanjutan.
"Menanam kembali bukan hanya jagung, tetapi juga semangat kemandirian, produktivitas, gotong royong, dan keberlanjutan yang menjadi jati diri daripada bangsa kita," ujar Hendarsam.
Produktivitas Jagung Capai 6,9 Ton per Hektare
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi DIY Yuni Santi Nurani menjelaskan penanaman jagung merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat melalui program ketahanan pangan.
Lima kalurahan yang mengikuti program masing-masing memperoleh dukungan bibit jagung untuk ditanam pada lahan seluas kurang lebih 0,5 hektare.
"Sehingga total lahan program tersebut mencapai kurang lebih 2,5 hektar," kata Yuni.
Berdasarkan estimasi hasil panen, produktivitas jagung dalam program tersebut mencapai sekitar 6,9 ton per hektare.
Dengan luas lahan sekitar 2,5 hektare, keseluruhan hasil panen diperkirakan mencapai 17,25 ton.
"Maka estimasi hasil panen raya jagung mencapai 17,25 ton," ujar Yuni.
Pemkab Dorong Penguatan Kelompok Tani dan Akses Pasar
Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Gunungkidul Wibawanti Wulandari menilai keberlanjutan program ketahanan pangan melalui Desa Binaan Imigrasi membutuhkan kerja sama lintas sektor.
Menurut Wibawanti, perhatian tidak boleh berhenti setelah panen, tetapi perlu dilanjutkan dengan menjaga produktivitas lahan, memperkuat kelompok tani, dan memberikan pendampingan kepada masyarakat.
Akses pasar terhadap hasil pertanian juga dinilai perlu diperkuat agar hasil panen dapat terserap dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Setelah panen kita harus bicara tentang keberlanjutan, bagaimana lahan tetap produktif, bagaimana kelompok tani semakin kuat, bagaimana pendampingan terus dilakukan, dan bagaimana hasil pertanian memiliki akses pasar," kata Wibawanti.
Program tersebut diharapkan memberikan manfaat nyata terhadap kesejahteraan masyarakat melalui keberlanjutan kegiatan pertanian dan penguatan ekonomi.
- Penulis :
- Leon Weldrick




