
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 81,97 poin atau 1,36 persen ke posisi 6.118,86 pada perdagangan Senin sore, sejalan dengan penguatan mayoritas bursa saham Asia.
Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga naik 7,77 poin atau 1,30 persen ke posisi 603,23.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus atau Nico mengatakan penguatan bursa Asia terjadi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah meningkatkan ekspektasi sikap dovish The Fed.
“Bursa regional Asia bergerak menguat seiring dengan data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah mendorong dan mengurangi tekanan pada The Fed untuk terus memperketat kebijakan moneter,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Data Tenaga Kerja AS Dorong Ekspektasi The Fed
Data ketenagakerjaan AS menunjukkan tambahan 29.000 pekerjaan pada September 2026 atau jauh di bawah ekspektasi pasar sebanyak 90.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran AS meningkat menjadi 4,2 persen, sementara pertumbuhan upah tahunan secara tidak terduga melambat menjadi 3,0 persen.
Menurut Nico, kondisi tersebut mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Perkembangan itu sekaligus meningkatkan kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober 2026.
Pelaku pasar tetap berhati-hati karena imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia masih berada pada level tinggi.
“Namun demikian, pasar juga berhati-hati seiring dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia yang masih tinggi,” ujar Nico.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun menjadi sekitar 5,25 persen, sedangkan tenor 30 tahun bergerak turun ke arah 5,6 persen.
Meski mengalami penurunan, tingkat imbal hasil tersebut masih dinilai tinggi.
Rupiah dan Inflasi Jadi Perhatian Pasar
Dari dalam negeri, penguatan IHSG sedikit terbebani oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta kekhawatiran terhadap inflasi.
Harga minyak dunia yang masih tinggi di tengah ketegangan kawasan Timur Tengah juga menjadi perhatian pelaku pasar meskipun mulai mengalami penurunan.
Nico mengatakan kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai kerentanan eksternal Indonesia meskipun neraca perdagangan pada Agustus 2026 mencatatkan surplus.
Risiko inflasi turut menjadi perhatian setelah inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen atau mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen.
“Alhasil ada kekhawatiran mengenai kerentanan eksternal Indonesia, meskipun surplus perdagangan Agustus 2026, dengan risiko inflasi meningkat setelah inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen, mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen,” ujar Nico.
Sepuluh Sektor Saham Menguat
IHSG dibuka menguat dan bertahan di wilayah positif hingga penutupan sesi pertama sebelum melanjutkan pergerakan di zona hijau sampai perdagangan berakhir.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak 10 sektor mencatatkan penguatan dengan sektor properti memimpin kenaikan sebesar 2,13 persen.
Sektor barang baku menguat 1,89 persen dan sektor barang konsumen nonprimer naik 1,84 persen.
Sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor yang melemah dengan penurunan sebesar 0,98 persen.
Saham AKKU, PPRI, KKES, BLTZ, dan MITI tercatat sebagai saham dengan penguatan terbesar, sedangkan INTD, SONA, FORU, JAWA, dan TIRA mengalami pelemahan terbesar.
Frekuensi perdagangan mencapai 1,64 juta transaksi dengan 40,24 miliar lembar saham diperdagangkan senilai Rp9,96 triliun.
Sebanyak 547 saham menguat, 164 saham melemah, dan 252 saham tidak mengalami perubahan harga.
Bursa regional Asia juga mayoritas berakhir positif dengan Nikkei menguat 2,45 persen, Kospi 0,46 persen, Hang Seng 0,28 persen, Kuala Lumpur 0,05 persen, dan Strait Times 0,42 persen.
Sementara itu, indeks Shanghai tidak diperdagangkan karena libur Golden Week atau Hari Nasional China.
- Penulis :
- Leon Weldrick




