HOME  ⁄  Ekonomi

DPTPH Kaltim Catat Produksi Pisang Kepok Tembus 129.386 Ton dari 3.085 Hektare, Kutai Timur Jadi Penyumbang Terbesar

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

DPTPH Kaltim Catat Produksi Pisang Kepok Tembus 129.386 Ton dari 3.085 Hektare, Kutai Timur Jadi Penyumbang Terbesar
Foto: Ekspor buah pisang kepok dari Kalimantan Timur ke Malaysia (sumber: Badan Karantina Indonesia)

Pantau - Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kalimantan Timur mencatat luas panen pisang kepok mencapai 3.085 hektare dengan total produksi sebesar 129.386 ton, menjadikan komoditas hortikultura tersebut sebagai salah satu andalan dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian petani di daerah.

Kepala DPTPH Kalimantan Timur, Fahmi Himawan, mengatakan capaian produksi tersebut menunjukkan besarnya potensi pengembangan pisang kepok, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus memperluas peluang pemasaran.

"Capaian luas panen pisang kepok ini menjadi tumpuan utama dalam mendukung ketahanan pangan serta penguatan ekonomi masyarakat tani," kata Fahmi Himawan di Samarinda, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, pengembangan pisang kepok terus didorong melalui peningkatan produktivitas, penyediaan bibit unggul, pengendalian hama dan penyakit, serta penguatan sarana pengolahan hasil pertanian.

DPTPH Kalimantan Timur juga menargetkan pengembangan komoditas tersebut dapat mendukung kebutuhan pangan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) sekaligus membuka peluang pemasaran hingga pasar ekspor.

Kutai Timur Dominasi Produksi Pisang Kepok Kaltim dengan 94.662 Ton

Berdasarkan pemetaan produksi daerah, Kabupaten Kutai Timur menjadi penyumbang terbesar produksi pisang kepok di Kalimantan Timur dengan luas panen mencapai 1.159 hektare.

Dari luas panen tersebut, Kutai Timur menghasilkan sebanyak 94.662 ton pisang kepok atau sekitar 73,2 persen dari total produksi provinsi yang mencapai 129.386 ton.

Dominasi tersebut menempatkan Kutai Timur sebagai sentra utama produksi pisang kepok di Kalimantan Timur.

Selain Kutai Timur, Kabupaten Paser juga memberikan kontribusi terhadap produksi pisang kepok dengan luas panen mencapai 727 hektare.

Dari luas tersebut, Kabupaten Paser mencatat total produksi sebesar 10.623 ton.

"Kabupaten Paser juga memberikan kontribusi signifikan dengan luas panen 727 hektare serta total volume produksi mencapai 10.623 ton," ujar Fahmi.

Sementara itu, Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas panen pisang kepok mencapai 515 hektare dengan total produksi sebesar 9.334 ton.

Kota Balikpapan turut menjadi salah satu wilayah pengembangan pisang kepok dengan luas panen mencapai 355 hektare.

Adapun Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat luas panen pisang kepok sebesar 149 hektare.

Secara keseluruhan, lima wilayah tersebut memiliki total luas panen mencapai 2.905 hektare atau sekitar 94,2 persen dari seluruh luas panen pisang kepok di Kalimantan Timur.

Besarnya konsentrasi luas panen di lima wilayah tersebut menunjukkan peran sentra pertanian daerah dalam mendukung ketersediaan komoditas pisang kepok.

DPTPH Kaltim Perkuat Budidaya Pisang Kepok Grecek dengan Bibit Unggul

Fahmi menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mendorong pengembangan budidaya pisang kepok, khususnya varietas pisang kepok grecek, untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan produksi.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan bantuan bibit unggul kepada petani di berbagai sentra produksi.

Selain penyediaan bibit, DPTPH Kalimantan Timur juga mendorong penerapan pemupukan berimbang agar kebutuhan unsur hara tanaman dapat terpenuhi secara optimal.

"Pengembangan potensi budidaya tanaman pisang kepok grecek ini terus kami pacu melalui berbagai bantuan bibit unggul serta pemupukan berimbang," tutur Fahmi.

Menurutnya, peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada ketersediaan bibit berkualitas, tetapi juga membutuhkan pengelolaan tanaman yang tepat dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, pemerintah daerah terus melakukan pendampingan kepada petani dalam menerapkan teknik budidaya yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Pendampingan tersebut mencakup pemeliharaan tanaman, penggunaan pupuk, hingga pengawasan terhadap potensi serangan hama dan penyakit.

Serangan Penyakit Layu Pisang Berhasil Ditekan hingga Lima Persen

Selain meningkatkan produktivitas, DPTPH Kalimantan Timur memperkuat penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu untuk melindungi tanaman pisang kepok dari berbagai ancaman Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Salah satu ancaman utama yang menjadi perhatian adalah penyakit layu pisang yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil panen.

Fahmi menjelaskan bahwa pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara konsisten melalui pendampingan serta pengawasan di berbagai sentra produksi.

Berdasarkan data DPTPH Kalimantan Timur, tingkat serangan penyakit layu pisang berhasil ditekan hingga tersisa sekitar lima persen.

Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budidaya pisang kepok agar produktivitas tanaman tetap terpelihara.

Selain pengendalian penyakit, pemerintah daerah juga memberikan bantuan sarana dan prasarana pertanian kepada kelompok tani.

Bantuan tersebut disertai pelatihan budidaya berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengelola tanaman pisang kepok.

"Fasilitasi bantuan sarana prasarana serta pelatihan budidaya berkelanjutan disalurkan secara merata ke seluruh sentra produksi daerah," kata Fahmi.

Melalui program tersebut, petani diharapkan mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih efektif sekaligus mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat serangan hama dan penyakit.

Pemerintah Bangun Fasilitas Pascapanen di Kutai Timur dan Paser

DPTPH Kalimantan Timur juga memperkuat dukungan terhadap kegiatan pascapanen untuk meningkatkan kualitas pengelolaan hasil produksi pisang kepok.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembangunan bangsal pengolahan hasil pertanian di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Paser.

Pembangunan fasilitas tersebut diarahkan untuk mendukung pengolahan pisang kepok setelah panen sehingga hasil pertanian tidak hanya dipasarkan dalam bentuk komoditas segar.

Dengan tersedianya infrastruktur pengolahan, hasil panen diharapkan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Penguatan kegiatan pascapanen juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya saing komoditas pisang kepok di pasar.

Selain pembangunan fasilitas pengolahan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mendorong penguatan kelembagaan kelompok tani agar pengelolaan usaha pertanian dapat berjalan lebih baik.

Penguatan kelompok tani diarahkan untuk meningkatkan kemampuan petani dalam mengembangkan usaha, mengelola hasil produksi, serta memperluas akses pemasaran.

Pemerintah daerah juga memberikan perhatian terhadap regenerasi petani melalui upaya mendorong keterlibatan generasi milenial dalam kegiatan pertanian.

Keterlibatan petani muda diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha budidaya pisang kepok sekaligus memperkuat pengembangan sektor hortikultura di Kalimantan Timur.

Pisang Kepok Kaltim Dibidik Tembus Pasar Ekspor dan Pasok Kebutuhan IKN

Fahmi menyampaikan optimisme bahwa pengembangan pisang kepok Kalimantan Timur memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.

Menurutnya, keberlanjutan produksi menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung perluasan pemasaran komoditas tersebut.

Selain diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, produksi pisang kepok juga diharapkan dapat mendukung penyediaan pangan di kawasan Ibu Kota Nusantara.

"Kami optimistis keberlanjutan produksi pisang kepok Kaltim mampu menembus pasar ekspor sekaligus menopang kebutuhan pangan Ibu Kota Nusantara," ungkap Fahmi.

Pengembangan pasar tersebut didukung oleh potensi produksi pisang kepok yang tersebar di sejumlah wilayah, terutama Kabupaten Kutai Timur, Paser, dan Kutai Kartanegara.

Pemerintah daerah terus mendorong peningkatan produktivitas melalui penyediaan bibit unggul, pemupukan berimbang, pengendalian penyakit, serta pelatihan budidaya berkelanjutan.

Di sisi lain, penguatan infrastruktur pascapanen, kelembagaan kelompok tani, dan regenerasi petani menjadi bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.

Dengan luas panen mencapai 3.085 hektare dan produksi sebesar 129.386 ton, DPTPH Kalimantan Timur berupaya mempertahankan keberlanjutan produksi pisang kepok untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

Pengembangan komoditas tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat tani, memperluas peluang pemasaran, serta mendukung kebutuhan pangan di kawasan Ibu Kota Nusantara.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026