
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 62,48 poin atau 1,04 persen ke level 6.093,76 pada perdagangan Jumat (9/10/2026), sejalan dengan kenaikan mayoritas bursa saham di kawasan Asia.
Penguatan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dengan kenaikan sebesar 8,03 poin atau 1,35 persen ke posisi 601,67.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai penguatan IHSG menunjukkan ketahanan pasar saham domestik di tengah berbagai tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian global.
"IHSG jelang akhir pekan menguat di tengah tekanan eksternal. Penguatan tampaknya memberikan gambaran akan resilience dalam negeri terjaga di saat tekanan global," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Menurut Nico, sejumlah sentimen global masih menjadi perhatian investor, mulai dari perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran, tekanan pada industri kecerdasan buatan, hingga ketegangan perdagangan antara China dan Uni Eropa.
Di sisi lain, indikator ekonomi domestik yang menunjukkan ketahanan turut memberikan dukungan terhadap pergerakan positif pasar saham Indonesia.
Ketegangan AS-Iran dan Kekhawatiran Industri AI Bayangi Pasar Global
Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, terutama terkait kemungkinan tindakan militer Washington terhadap Teheran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah adanya pembicaraan antara pemerintah AS dan Iran yang dinilai produktif.
Menurut Nico, sikap Trump menunjukkan perubahan dibandingkan sehari sebelumnya ketika Presiden AS tersebut masih mempertimbangkan kemungkinan melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Meski menunda kemungkinan tindakan militer, Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran dan menegaskan tidak akan membiarkan negara tersebut memiliki senjata nuklir.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian investor karena ketegangan geopolitik berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan perekonomian internasional.
Selain persoalan geopolitik, pasar global juga menghadapi tekanan dari sektor teknologi, khususnya industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kekhawatiran terhadap prospek pendapatan OpenAI menjadi salah satu faktor yang membebani sentimen investor terhadap perusahaan teknologi yang bergerak dalam pengembangan kecerdasan buatan.
Kekhawatiran mengenai kemungkinan terbentuknya gelembung investasi atau bubble di industri AI kembali meningkat setelah laporan pendapatan terbaru OpenAI dinilai mengecewakan pasar.
Kondisi tersebut memicu aksi jual terhadap sejumlah saham teknologi di Amerika Serikat karena investor mulai mempertanyakan potensi pengembalian investasi dari besarnya dana yang telah dialokasikan untuk pengembangan AI.
Hubungan Dagang China dan Uni Eropa Turut Jadi Perhatian Investor
Sentimen eksternal lainnya berasal dari perkembangan hubungan perdagangan antara China dan Uni Eropa menjelang hasil pembicaraan pejabat kedua pihak di Beijing.
Investor mencermati pertemuan tersebut karena China dan Uni Eropa berupaya menghindari peningkatan ketegangan perdagangan yang berpotensi berkembang menjadi perang dagang.
Sebelumnya, kelompok industri Eropa mendesak tindakan segera terhadap praktik perdagangan China yang dinilai tidak adil dan berpotensi merugikan sektor manufaktur Uni Eropa.
Kelompok industri tersebut juga memperingatkan adanya risiko kehilangan lapangan pekerjaan apabila persoalan perdagangan tidak segera ditangani.
Pembicaraan antara China dan Uni Eropa merupakan kelanjutan dari diskusi selama tiga bulan mengenai defisit perdagangan barang Uni Eropa dengan China.
Selain membahas defisit perdagangan, kedua pihak juga mendiskusikan pembatasan ekspor mineral langka dan mineral penting lainnya yang diberlakukan pemerintah China.
Keyakinan Konsumen Indonesia Tetap Optimistis, Daya Beli Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, penguatan IHSG turut didukung hasil survei Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian masih terjaga.
Berdasarkan survei BI, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2026 tercatat sebesar 118,1 atau masih berada dalam kategori optimistis karena melampaui level 100.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa secara umum konsumen masih memiliki pandangan positif terhadap kondisi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.
Selain keyakinan konsumen, indikator penjualan eceran juga menunjukkan perkembangan positif berdasarkan hasil survei Bank Indonesia.
Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat tumbuh sebesar 1,3 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan Juli 2026 sebesar 1,1 persen yoy.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan aktivitas konsumsi masyarakat dan penjualan ritel dalam perekonomian domestik.
Nico menilai hasil survei BI menggambarkan ketahanan ekonomi Indonesia, meskipun pemerintah dan pemangku kepentingan tetap perlu memperhatikan kondisi daya beli masyarakat.
"Hasil survei tersebut memberikan gambaran kondisi ekonomi yang resilien namun demikian tentunya pasar berharap pada pemangku kepentingan jika tidak di jaga di Kelola dengan baik daya beli masyarakat. Pasar kuatir akan terjadi divergensi antara persepsi kondisi saat ini dan ekspektasi masa depan," ungkap Nico.
Menurutnya, pelaku pasar berharap daya beli masyarakat dapat terus dijaga agar tetap mendukung aktivitas perekonomian nasional.
Seluruh 11 Sektor Saham Menguat, Sektor Industri Pimpin Kenaikan
Dari sisi perdagangan, IHSG membuka sesi Jumat dengan penguatan dan berhasil mempertahankan pergerakannya di zona positif sepanjang sesi pertama.
Memasuki sesi kedua, indeks tetap bergerak di zona hijau hingga akhirnya menutup perdagangan dengan kenaikan sebesar 1,04 persen.
Berdasarkan klasifikasi indeks sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor saham di Bursa Efek Indonesia mencatatkan penguatan pada perdagangan tersebut.
Sektor industri memimpin kenaikan dengan penguatan sebesar 1,79 persen, disusul sektor barang baku yang meningkat 1,59 persen.
Sementara itu, sektor infrastruktur mencatatkan kenaikan sebesar 1,26 persen dan turut menopang penguatan IHSG menjelang akhir pekan.
Saham-saham yang mencatatkan kenaikan harga terbesar atau top gainers adalah STRK, SOSS, TCPI, TFCO, dan BIKE.
Adapun saham-saham yang mengalami penurunan harga terbesar atau top losers meliputi KDTN, TRIN, IDOOH, ALKA, dan FORU.
Aktivitas perdagangan saham di BEI tercatat mencapai 1,41 juta kali transaksi dengan volume sebanyak 37,53 miliar lembar saham.
Total nilai transaksi perdagangan sepanjang Jumat mencapai Rp9,91 triliun.
Dari sisi pergerakan harga, sebanyak 407 saham mencatatkan kenaikan, sedangkan 245 saham mengalami penurunan.
Sementara itu, sebanyak 311 saham lainnya ditutup stagnan atau tidak mengalami perubahan harga dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Bursa Asia Mayoritas Menguat, Hang Seng Naik 1,79 Persen
Penguatan IHSG berlangsung sejalan dengan pergerakan positif mayoritas indeks saham utama di kawasan Asia pada perdagangan Jumat sore.
Indeks Nikkei Jepang menguat sebesar 0,15 persen ke posisi 69.144,00, sementara indeks Shanghai China naik 0,05 persen ke level 3.813,79.
Penguatan lebih besar terjadi pada indeks Hang Seng Hong Kong yang melonjak 1,79 persen ke posisi 24.211,35.
Kenaikan Hang Seng menjadi yang terbesar secara persentase dibandingkan indeks regional lainnya yang tercatat dalam perdagangan tersebut.
Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, indeks Straits Times Singapura justru melemah sebesar 0,16 persen ke posisi 5.404,50.
Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan tidak menyelenggarakan perdagangan karena libur nasional untuk memperingati Hari Hangul atau Hangul Day.
Secara keseluruhan, penguatan IHSG ke level 6.093,76 menjelang akhir pekan berlangsung di tengah dukungan indikator ekonomi domestik dan kenaikan mayoritas bursa Asia.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ketegangan geopolitik AS-Iran, prospek investasi industri kecerdasan buatan, serta hubungan perdagangan China dan Uni Eropa yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan global.
- Penulis :
- Shila Glorya




