HOME  ⁄  Ekonomi

M4CR Latih 32 Petani Kepiting di Sumatera Utara, Temukan Kualitas Air Tambak Jadi Penyebab Tingginya Kematian Kepiting

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

M4CR Latih 32 Petani Kepiting di Sumatera Utara, Temukan Kualitas Air Tambak Jadi Penyebab Tingginya Kematian Kepiting
Foto: (Sumber :Pelatihan Sekolah Lapang Livelihood M4CR di Desa Pangkalan Siata, Sumatera Utara..)

Pantau - Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Kementerian Kehutanan menggelar Sekolah Lapang Livelihood bagi 32 anggota kelompok tani hutan di Desa Pangkalan Siata, Sumatera Utara, untuk mengatasi tingginya kematian kepiting budidaya melalui peningkatan pemahaman kualitas air tambak.

Pelatihan tersebut melibatkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Bakau Rindang dan KTH Bakau Bahari yang menjalankan budidaya kepiting menggunakan sistem silvofishery.

Hasil pengukuran selama pelatihan menunjukkan bahwa kualitas air tambak belum memenuhi kondisi optimum bagi kehidupan kepiting.

Temuan tersebut menjelaskan bahwa tingginya kematian kepiting berkaitan dengan ketidakseimbangan parameter kimia air, bukan disebabkan oleh keberadaan tanaman mangrove.

PPIU Manager M4CR Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, menegaskan bahwa program pemulihan mangrove harus memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Petani Kepiting Keluhkan Tingginya Kematian di Tambak Silvofishery

KTH Bakau Rindang dan KTH Bakau Bahari sebelumnya menghadapi persoalan tingginya tingkat kematian kepiting yang dibudidayakan di tambak silvofishery.

Tingkat kematian kepiting di tambak yang dipadukan dengan mangrove dilaporkan lebih tinggi dibandingkan tambak tanpa mangrove.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani mengenai keberlanjutan usaha budidaya kepiting.

Sistem silvofishery merupakan metode budidaya perikanan yang menggabungkan kegiatan produksi dengan penanaman atau pelestarian mangrove dalam satu kawasan tambak.

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan ekonomi masyarakat diharapkan dapat berjalan tanpa mengabaikan fungsi ekologis hutan mangrove.

Untuk menjawab persoalan yang dihadapi petani, M4CR menyelenggarakan Sekolah Lapang Livelihood dengan pendekatan partisipatif dan dialog langsung bersama peserta.

"Pemulihan mangrove tidak bisa hanya berhenti pada penanaman. Masyarakat juga harus merasakan manfaat ekonominya. Karena itu, melalui Sekolah Lapang Livelihood ini kami mengajak petani berdialog dan belajar langsung dari persoalan yang mereka hadapi di tambak. Dengan memahami kualitas air, kami berharap budidaya kepiting di tambak silvofishery bisa berkelanjutan dan berjalan seiring dengan kelestarian mangrove," ujar Aditya.

Pengukuran pH dan Salinitas Ungkap Masalah Kualitas Air Tambak

Dalam sesi praktik, sebanyak 32 peserta mendapatkan pelatihan mengenai cara mengukur tingkat keasaman atau pH dan salinitas air tambak.

Pengukuran tersebut dilakukan untuk mengetahui kesesuaian kondisi air dengan kebutuhan hidup kepiting yang dibudidayakan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kualitas air pada tambak milik kelompok tani belum memenuhi kriteria optimum bagi kehidupan kepiting.

Ketidakseimbangan parameter kimia air diketahui menjadi faktor yang berkaitan dengan tingginya angka kematian kepiting.

Kondisi tersebut tidak dapat diketahui hanya melalui pengamatan langsung karena perubahan parameter kimia air tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Melalui pelatihan tersebut, petani diharapkan lebih memahami pentingnya pemantauan kualitas air secara berkala.

Pengetahuan mengenai pH dan salinitas juga diharapkan membantu peserta mengambil langkah pengelolaan tambak yang lebih tepat.

M4CR Bekali Petani dengan Strategi Pemasaran dan Pengelolaan Usaha

Selain pelatihan teknis budidaya, peserta Sekolah Lapang Livelihood memperoleh pembekalan mengenai pengembangan usaha kepiting.

Materi yang diberikan mencakup analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman menggunakan metode SWOT.

Peserta juga diperkenalkan dengan metode Business Model Canvas (BMC) untuk membantu menyusun strategi pengembangan usaha.

Melalui sesi tersebut, petani mempelajari cara meningkatkan pemasaran hasil panen dan memperkuat kelembagaan kelompok.

Pendampingan ini bertujuan membantu kelompok tani mengelola usaha secara lebih terencana dan berkelanjutan.

Petani Susun Rencana Perbaikan Tambak untuk Enam Bulan

Pada akhir pelatihan, peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk dilaksanakan selama enam bulan ke depan.

Rencana tersebut difokuskan pada perbaikan pengelolaan tambak dan pengembangan usaha budidaya kepiting.

M4CR berharap tindak lanjut pelatihan dapat membantu kelompok tani mengatasi persoalan kualitas air sekaligus meningkatkan hasil budidaya.

Program ini juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat pesisir tanpa mengurangi upaya pelestarian mangrove.

Melalui penerapan pengelolaan tambak yang lebih baik, KTH Bakau Rindang dan KTH Bakau Bahari diharapkan dapat mengembangkan usaha kepiting secara berkelanjutan di Desa Pangkalan Siata.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026