HOME  ⁄  Ekonomi

Pasar Jadul Pangupo Jiwo di Lereng Gunung Wilis Diserbu Pengunjung, Dagangan 14 Lapak Ludes Kurang dari Dua Jam

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pasar Jadul Pangupo Jiwo di Lereng Gunung Wilis Diserbu Pengunjung, Dagangan 14 Lapak Ludes Kurang dari Dua Jam
Foto: Pedagang dan pembeli bertransaksi menggunakan mata uang tradisional sebagai alat tukar di Pasar Kuliner Pangupojiwo, Desa Dompyong, Bendungan, Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (11/10/2026).

Pantau - Pasar Jadul Pangupo Jiwo di kawasan hutan pinus kaki Gunung Wilis, Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, ramai diserbu pengunjung hingga seluruh dagangan dari 14 lapak habis terjual dalam waktu kurang dari dua jam pada Minggu (11/10/2026).

Pasar kuliner bernuansa Jawa tempo dulu tersebut menghadirkan aneka makanan tradisional dengan konsep perdagangan masa lampau, termasuk penggunaan alat tukar khusus berupa gebog dan koin kuno.

Sebanyak 14 lapak yang berpartisipasi dikelola oleh 10 kelompok wanita tani (KWT) dan empat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari Kecamatan Bendungan.

Sejak dibuka pukul 08.00 WIB, pengunjung berdatangan dari berbagai desa hingga luar daerah untuk menikmati kuliner tradisional sekaligus merasakan suasana pasar zaman dahulu.

Dagangan 14 Lapak Ludes Kurang dari Dua Jam

Antusiasme masyarakat terlihat dari cepatnya makanan dan jajanan tradisional yang dijual para pedagang habis dibeli pengunjung.

Pasar Pangupo Jiwo menyajikan berbagai kuliner lokal menggunakan wadah alami, seperti daun, gerabah, batok kelapa, dan gelas bambu.

Penggunaan wadah tradisional tersebut menjadi bagian dari konsep pasar yang berupaya menghadirkan kembali suasana perdagangan masyarakat Jawa pada masa lalu.

Selain penyajian makanan, sistem transaksi juga dibuat berbeda dari pasar modern.

Pengunjung menggunakan alat tukar berupa gebog dan koin kuno untuk membeli makanan serta jajanan yang tersedia.

Pendamping KWT Putri Wilis, Indah Ayu Lestari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan penyelenggaraan ketiga sejak pasar pertama kali dibuka pada Agustus 2026.

“Ini merupakan pasar jadul ketiga yang kami gelar sejak 2 Agustus lalu. Kami merancang pasar ini bersama Pemerintah Kecamatan Bendungan dengan konsep perdagangan masa lalu,” kata Indah.

Pasar Tradisional Digelar Setiap Minggu Legi

Pasar Jadul Pangupo Jiwo dirancang sebagai kegiatan wisata kuliner yang berlangsung sebulan sekali, bertepatan dengan Minggu Legi dalam penanggalan Jawa.

Kegiatan perdana dilaksanakan pada 2 Agustus 2026 dengan melibatkan kelompok wanita tani dan sejumlah pihak pendukung.

Penyelenggaraan awal dilakukan secara swadaya dan swadana oleh Paguyuban KWT Putri Wilis bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Brawijaya Malang serta Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Pemerintah Kecamatan Bendungan dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bendungan turut memberikan pendampingan dalam pelaksanaan kegiatan.

Mantan Camat Bendungan Sujatmiko menjadi salah satu penggagas pasar tersebut ketika masih menjabat.

Sujatmiko menjelaskan bahwa Pasar Pangupo Jiwo dibentuk untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal.

"Kegiatan ini sejalan dengan tagline kami, 'nguri-uri budoyo, nguripi ekonomi ekonomi warga' (melestarikan budaya, menghidupkan ekonomi masyarakat lokal). Dari semangat inilah kemudian lahir ide rintisan pasar jadul ini," kata Sujatmiko.

Sejak Pembukaan Perdana, Kuliner Tradisional Selalu Diminati

Pasar Jadul Pangupo Jiwo telah menarik perhatian masyarakat sejak penyelenggaraan pertama pada 2 Agustus 2026.

Saat itu, seluruh makanan dan jajanan yang dijual peserta habis dalam waktu kurang dari satu jam.

Tingginya minat pengunjung kemudian menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara untuk memperbaiki kesiapan dagangan dan pengelolaan kegiatan.

"Pada gelaran pertama, jualan kuliner peserta ludes dalam tempo kurang dari sejam. Kami lalu lakukan evaluasi dan pengembangan agar eventnya semakin semarak dan maksimal," ujar Sujatmiko.

Pada penyelenggaraan kedua, 6 September 2026, pengelolaan pasar dilanjutkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dompyong.

Keterlibatan masyarakat desa diharapkan dapat menjaga keberlangsungan pasar sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi pelaku usaha setempat.

Pasar Pangupo Jiwo Didorong Jadi Ikon Wisata Kuliner Trenggalek

Pasar Jadul Pangupo Jiwo tidak hanya berfungsi sebagai tempat berjualan makanan tradisional, tetapi juga menjadi sarana promosi produk lokal.

Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada kelompok wanita tani dan pelaku UMKM untuk memperkenalkan hasil usaha mereka kepada pengunjung dari berbagai wilayah.

Sujatmiko, yang pensiun pada 1 Oktober 2026 dengan jabatan terakhir Camat Bendungan, berharap pasar tersebut dapat berkembang menjadi salah satu ikon wisata kuliner bernuansa tempo dulu di Kabupaten Trenggalek.

Konsep pasar tradisional di tengah kawasan hutan pinus juga menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis masyarakat di Kecamatan Bendungan.

Penyelenggara terus melakukan evaluasi terhadap ketersediaan produk, kesiapan pedagang, serta pengelolaan lapak untuk menghadapi tingginya jumlah pengunjung.

Pasar Pangupo Jiwo diharapkan dapat terus berlangsung setiap Minggu Legi sebagai sarana pelestarian tradisi Jawa, penguatan gotong royong, dan penggerak perekonomian masyarakat setempat.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026