HOME  ⁄  Ekonomi

Potongan Aplikasi Ojol 8 Persen Dinilai Bisa Tingkatkan Pendapatan Pengemudi dan Dorong Ekonomi Rakyat

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Potongan Aplikasi Ojol 8 Persen Dinilai Bisa Tingkatkan Pendapatan Pengemudi dan Dorong Ekonomi Rakyat
Foto: (Sumber :Sejumlah pengemudi daring atau pengemudi transportasi online (Ojol) antre di SPBU sebelum pembatasan aturan ganjil genap untuk plat kendaraan bermotor, di SPBU jalan Andi Pangeran Pettarani Makassar, Sulawesi Selatan pada Rabu, ( 9/9/2026). (ANTARA/Darwin Fatir.)

Pantau - Pembatasan potongan aplikasi ojek daring (ojol) menjadi maksimal 8 persen dinilai berpotensi meningkatkan pendapatan bersih pengemudi sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat melalui peningkatan daya beli dan aktivitas usaha kecil.

Kebijakan tersebut menjadi perhatian karena besaran potongan aplikasi berpengaruh langsung terhadap pendapatan yang diterima pengemudi setelah menyelesaikan setiap pesanan.

Dalam artikel opini yang ditulis Dadan Ramdani dari Sleman, Selasa (13/10/2026), pengurangan potongan aplikasi dipandang tidak hanya berkaitan dengan pembagian pendapatan antara perusahaan dan mitra pengemudi, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang lebih luas.

Tambahan pendapatan yang diterima pengemudi berpotensi kembali beredar di masyarakat melalui pembelian kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, bahan bakar, perlengkapan rumah tangga, hingga kebutuhan pendidikan anak.

Potongan Aplikasi 8 Persen Berpotensi Tambah Penghasilan Ojol

Besaran potongan aplikasi menjadi salah satu faktor yang menentukan jumlah pendapatan bersih pengemudi ojol dalam setiap transaksi.

Ketika potongan aplikasi berkurang, bagian pendapatan yang diterima pengemudi dapat meningkat selama tarif dan jumlah pesanan tetap.

Sebagai ilustrasi, apabila seorang pengemudi memperoleh pendapatan kotor Rp200.000 dengan potongan aplikasi sebesar 20 persen, maka potongan yang dikenakan mencapai Rp40.000.

Jika potongan tersebut diturunkan menjadi 8 persen, jumlah yang dipotong menjadi Rp16.000 sehingga pengemudi memperoleh tambahan Rp24.000 sebelum memperhitungkan biaya operasional.

Perhitungan tersebut merupakan ilustrasi untuk menunjukkan pengaruh perubahan persentase potongan terhadap pendapatan pengemudi, bukan data pendapatan aktual.

Tambahan penghasilan itu dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari membeli bahan makanan, membayar bensin, hingga mencukupi pengeluaran keluarga.

Bagi pengemudi yang mengandalkan pendapatan harian, perubahan kecil dalam besaran potongan aplikasi dapat memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Tambahan Pendapatan Ojol Berpotensi Menggerakkan UMKM

Peningkatan pendapatan bersih pengemudi ojol juga berpotensi memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam artikel tersebut, Dadan Ramdani menggambarkan seorang pengemudi bernama Santoso sebagai ilustrasi pekerja transportasi daring yang menggantungkan penghasilan pada pesanan harian.

Penghasilan Santoso digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti membeli beras, membayar sewa tempat tinggal, mencicil sepeda motor, serta membiayai pendidikan anak.

Ketika potongan aplikasi berkurang, tambahan pendapatan yang diterima dapat digunakan untuk berbelanja di warung makan, toko kelontong, maupun pedagang kecil di sekitar tempat tinggalnya.

Pengeluaran tersebut kemudian menjadi pemasukan bagi pemilik usaha yang juga membutuhkan uang untuk membeli persediaan barang dan memenuhi kebutuhan operasional.

Perputaran uang dari konsumen kepada pedagang hingga pemasok merupakan salah satu mekanisme yang dapat mendorong aktivitas ekonomi lokal.

Dengan demikian, manfaat pengurangan potongan aplikasi berpotensi tidak hanya dirasakan pengemudi, tetapi juga pelaku usaha yang menjadi tempat mereka membelanjakan penghasilan.

Pengurangan Potongan Aplikasi Berkaitan dengan Daya Beli Masyarakat

Hubungan antara pendapatan pengemudi ojol dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat dijelaskan melalui konsep perputaran uang dalam kegiatan konsumsi.

Ketika rumah tangga memperoleh tambahan pendapatan, sebagian uang tersebut dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa.

Belanja rumah tangga kemudian menjadi pendapatan bagi pelaku usaha yang menyediakan kebutuhan tersebut.

Dalam konteks pengemudi ojol, tambahan pendapatan dari pengurangan potongan aplikasi berpotensi meningkatkan kemampuan konsumsi, terutama untuk kebutuhan pokok.

Namun, besarnya dampak terhadap perekonomian bergantung pada jumlah pengemudi yang terdampak, nilai transaksi, perubahan tarif, serta pola penggunaan tambahan pendapatan.

Selain itu, pengaruh kebijakan terhadap perusahaan aplikasi dan keberlanjutan layanan juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

Kebijakan Potongan Ojol Perlu Memperhatikan Ekosistem Transportasi Daring

Pembatasan potongan aplikasi hingga 8 persen berkaitan dengan pembagian pendapatan antara perusahaan penyedia layanan dan mitra pengemudi.

Dari sisi pengemudi, potongan yang lebih rendah dapat meningkatkan pendapatan bersih untuk setiap transaksi dengan nilai tarif yang sama.

Sementara itu, perusahaan aplikasi membutuhkan pendapatan untuk membiayai operasional, pengembangan teknologi, pemeliharaan sistem, serta layanan bagi pengguna dan mitra.

Karena itu, dampak perubahan besaran potongan perlu dilihat dari berbagai sisi agar manfaat bagi pengemudi dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan layanan transportasi daring.

Gagasan yang disampaikan Dadan Ramdani menyoroti bahwa perubahan persentase potongan aplikasi dapat memiliki arti lebih besar bagi kehidupan pengemudi dibandingkan sekadar angka dalam transaksi digital.

Pengurangan potongan menjadi 8 persen berpotensi memberikan ruang tambahan bagi pengemudi untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus meningkatkan aktivitas belanja di lingkungan sekitarnya.

Meski demikian, manfaat ekonomi yang dihasilkan tetap bergantung pada penerapan kebijakan dan kondisi pendapatan pengemudi di lapangan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026