HOME  ⁄  Ekonomi

Pemkab Ngawi Percepat Sertifikasi Benih Padi Unggul Lokal, Hasil Panen Tembus 12 Ton per Hektare

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pemkab Ngawi Percepat Sertifikasi Benih Padi Unggul Lokal, Hasil Panen Tembus 12 Ton per Hektare
Foto: (Sumber :Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono didampingi anggota Forkopimda setempat saat melakukan Panen Raya Padi Unggul Lokal di lahan demplot Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi, Jatim, Selasa (13/10/2026). Hasil panen benih unggul tersebut berdasarkan ubinan menunjukkan angka sekitar 10–12 ton per hektare, lebih tinggi dari bibit padi biasa yang digunakan petani selama ini yang berkisar 6,5-9 ton per hektare. ANTARA/HO-Diskominfo Ngawi.)

Pantau - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, Jawa Timur, mendorong percepatan sertifikasi benih padi unggul lokal setelah hasil uji coba panen menunjukkan produktivitas mencapai 10–12 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan varietas yang selama ini digunakan petani.

Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan percepatan sertifikasi dilakukan untuk memberikan legalitas resmi terhadap benih unggul lokal sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian masyarakat.

"Langkah percepatan ini diambil untuk memastikan benih padi unggul lokal memiliki legalitas resmi sesuai aturan yang berlaku, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi para petani di Kabupaten Ngawi," ujar Ony di Ngawi, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, pengembangan benih unggul lokal menjadi bagian dari upaya mempertahankan posisi Kabupaten Ngawi sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Hasil Panen Padi Unggul Lokal Capai 12 Ton per Hektare

Pemkab Ngawi telah melakukan uji coba penanaman benih padi unggul lokal melalui lahan percontohan di Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas.

Panen raya di lahan tersebut dilaksanakan pada Selasa (13/10/2026) dengan melibatkan Bupati Ngawi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan metode ubinan, produktivitas padi unggul lokal mencapai sekitar 10–12 ton per hektare.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan hasil panen varietas padi yang biasa digunakan petani, yakni sekitar 6,5–9 ton per hektare.

Ony mengatakan hasil uji coba tersebut menunjukkan potensi pengembangan varietas lokal untuk meningkatkan produksi pertanian daerah.

"Penggunaan kimia sintetis secara berlebihan akan menghambat program pemerintah daerah. Maka, Kami menggunakan pendekatan Program Riset Lokasi Partisipatif (PRLP), dimana perhitungan hasil panen berdasarkan ubinan menunjukkan angka sekitar 10–12 ton per hektare," kata Bupati Ony.

Menurutnya, peningkatan produktivitas perlu diimbangi dengan penerapan teknologi pertanian dan metode budidaya yang sesuai dengan kondisi lahan.

Sertifikasi Benih Melalui Pengujian di Lima Desa

Ony menjelaskan bahwa proses sertifikasi benih padi unggul lokal membutuhkan sejumlah tahapan sebelum memperoleh legalitas resmi.

Tahapan tersebut meliputi pendaftaran varietas, pembuatan lahan percontohan, serta pengujian ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit.

Pemkab Ngawi telah menyiapkan lahan percontohan di lima desa yang tersebar pada lima kecamatan untuk mendukung proses pengujian.

Menurutnya, sertifikasi memerlukan kerja sama antara pemerintah daerah, pemulia benih, dan Kementerian Pertanian.

Proses tersebut dilakukan untuk memastikan varietas yang dikembangkan memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku.

"Jika teknologi pertanian terus ditingkatkan, kita dapat menjaga produktivitas padi yang tinggi. Hal-hal baik seperti ini harus ditindaklanjuti dengan mekanisme sesuai aturan yang berlaku agar manfaatnya terasa bagi petani," katanya.

Pemkab Ngawi berharap seluruh tahapan sertifikasi dapat diselesaikan sehingga benih unggul lokal memiliki dasar legal untuk dikembangkan lebih lanjut.

Pemkab Ngawi Utamakan Pemupukan Ramah Lingkungan

Varietas padi unggul lokal yang dikembangkan di Ngawi memiliki karakteristik batang tinggi dan berukuran besar menyerupai padi Ciherang generasi awal.

Karakteristik tersebut membuat tanaman membutuhkan asupan pupuk lebih banyak dibandingkan varietas yang biasa digunakan petani.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap mendorong penggunaan bahan pertanian yang ramah lingkungan.

Ony menekankan pentingnya pengendalian penggunaan bahan kimia sintetis agar tidak menghambat program pertanian berkelanjutan.

Pemkab Ngawi menggunakan pendekatan Program Riset Lokasi Partisipatif (PRLP) untuk mendukung pengembangan varietas sekaligus mengukur produktivitas tanaman.

Melalui perawatan yang konsisten dan penggunaan pupuk organik, pemerintah daerah berharap hasil panen tinggi dapat dipertahankan.

Produksi Padi Ngawi Capai 770 Ribu Ton per Tahun

Kabupaten Ngawi menjadi salah satu daerah penghasil padi yang berperan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi, rata-rata produksi padi daerah tersebut mencapai sekitar 770 ribu ton gabah kering giling (GKG) setiap tahun.

Untuk mendukung kegiatan pertanian, Pemkab Ngawi juga mengandalkan sekitar 22.000 unit infrastruktur sumur dalam sawah yang menjadi bagian dari Jaringan Irigasi Air Tanah.

Keberadaan fasilitas tersebut mendukung penyediaan air bagi lahan pertanian di wilayah Kabupaten Ngawi.

Pemerintah daerah berharap percepatan sertifikasi benih unggul lokal, penerapan pemupukan organik, dan dukungan infrastruktur irigasi dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga kontribusi Kabupaten Ngawi sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026