
Pantau - Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) dan Danantara meminta PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyusun rencana induk transformasi perkeretaapian untuk mengantisipasi pertumbuhan penumpang KRL Jabodetabek yang diproyeksikan mendekati 600 juta orang per tahun pada 2036.
Kepala BP BUMN sekaligus Direktur Operasional atau Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan transformasi diperlukan untuk meningkatkan kapasitas angkutan, kualitas pelayanan, serta kesiapan infrastruktur perkeretaapian dalam jangka panjang.
"Saya minta nanti dibikinin r*oadmap, master plan* mengenai transformasi publik kereta api ini," ujar Dony dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
KAI diminta menyiapkan peta jalan pengembangan yang mencakup kebutuhan sarana dan prasarana, peningkatan kapasitas jaringan, serta perbaikan pengalaman pelanggan.
BP BUMN dan Danantara Minta KAI Susun Rencana Transformasi
BP BUMN dan Danantara menilai pengembangan layanan kereta api perlu direncanakan secara menyeluruh untuk menghadapi peningkatan kebutuhan transportasi masyarakat.
Penyusunan rencana induk atau master plan menjadi salah satu langkah untuk memastikan pengembangan infrastruktur dan layanan KAI berjalan terarah.
Rencana tersebut diharapkan memuat kebutuhan armada kereta, penguatan prasarana, serta strategi peningkatan kapasitas jaringan.
Selain aspek operasional, KAI juga diminta memperhatikan kualitas pelayanan dan kenyamanan penumpang.
Dony menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang agar peningkatan jumlah pengguna transportasi kereta api dapat diimbangi dengan kesiapan layanan.
Perhatian khusus diberikan kepada KRL Jabodetabek yang memiliki jumlah penumpang besar dan terus menunjukkan pertumbuhan.
Penumpang KRL Jabodetabek Diperkirakan Capai 375 Juta pada 2026
Berdasarkan proyeksi KAI, jumlah penumpang KRL Jabodetabek sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 375 juta orang.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan target awal perusahaan yang ditetapkan sebesar 369 juta penumpang.
Dengan demikian, proyeksi jumlah penumpang tahun ini melampaui target sebanyak enam juta orang.
Hingga September 2026, jumlah pengguna KRL Jabodetabek telah mencapai 271 juta orang.
Capaian tersebut menjadi salah satu dasar bagi KAI dalam menyusun strategi peningkatan kapasitas angkutan.
Pertumbuhan jumlah penumpang juga mendorong perlunya penyesuaian layanan agar operasional KRL dapat memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat.
KAI Antisipasi Lonjakan Penumpang hingga 600 Juta Orang pada 2036
Dalam proyeksi jangka panjang, jumlah penumpang KRL Jabodetabek diperkirakan mendekati 600 juta orang per tahun pada 2036.
Perkiraan tersebut menunjukkan kebutuhan kapasitas angkutan yang lebih besar dibandingkan kondisi saat ini.
Untuk mengantisipasi pertumbuhan tersebut, KAI menyiapkan sejumlah langkah peningkatan layanan.
Salah satu strategi yang direncanakan adalah memperpendek jarak waktu antarperjalanan kereta agar frekuensi layanan dapat ditingkatkan.
KAI juga menyiapkan penambahan kapasitas rangkaian untuk mengangkut lebih banyak penumpang dalam setiap perjalanan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan operasional KRL Jabodetabek yang akan dimasukkan dalam perencanaan transformasi perkeretaapian.
KAI Targetkan Jarak Antar-KRL Jalur Serpong–Rangkasbitung Kurang dari 10 Menit
Salah satu jalur yang menjadi perhatian dalam peningkatan kapasitas adalah lintas hijau atau Green Line menuju Serpong dan Rangkasbitung.
Pada jalur tersebut, KAI menargetkan jarak waktu antarperjalanan kereta menjadi kurang dari 10 menit.
Peningkatan frekuensi perjalanan direncanakan menggunakan rangkaian SF-12 atau kereta dengan formasi 12 unit dalam satu rangkaian.
Penggunaan rangkaian tersebut menjadi bagian dari strategi peningkatan daya angkut penumpang.
Dengan frekuensi perjalanan yang lebih rapat dan kapasitas rangkaian yang lebih besar, KAI berupaya menyiapkan layanan untuk menghadapi pertumbuhan jumlah pengguna.
Namun, jadwal penerapan target jarak antarperjalanan tersebut belum dirinci dalam keterangan yang disampaikan.
Transformasi KRL Difokuskan pada Kapasitas dan Kualitas Pelayanan
BP BUMN dan Danantara menekankan bahwa transformasi perkeretaapian tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah kereta.
Pengembangan juga perlu mencakup kesiapan jaringan, kebutuhan prasarana, serta peningkatan kualitas pengalaman penumpang.
Rencana induk yang diminta kepada KAI diharapkan menjadi acuan dalam menentukan kebutuhan pengembangan layanan secara bertahap.
Penyusunan strategi tersebut dilakukan untuk memastikan pertumbuhan jumlah penumpang dapat diantisipasi melalui peningkatan kapasitas yang terencana.
Dengan proyeksi hampir 600 juta penumpang per tahun pada 2036, pengembangan KRL Jabodetabek menjadi salah satu fokus transformasi layanan transportasi publik yang didorong BP BUMN dan Danantara.
- Penulis :
- Aditya Yohan




