HOME  ⁄  Ekonomi

KKP Terapkan Teknologi Pompa Modern di Sentra Garam Rote Ndao, Buka Sejarah Baru Produksi Garam Indonesia

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

KKP Terapkan Teknologi Pompa Modern di Sentra Garam Rote Ndao, Buka Sejarah Baru Produksi Garam Indonesia
Foto: (Sumber :Kepala Balai Besar Garam Kupang Muhamad Zaki Mahasin memberikan keterangan saat ditemui di Kupang, NTT. ANTARA/Kornelis Kaha.)

Pantau - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerapkan teknik produksi garam berbasis pengembangan lahan dan teknologi pompa modern di Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai langkah baru dalam pengembangan industri pergaraman Indonesia.

Kepala Balai Besar Garam Kupang Muhamad Zaki Mahasin mengatakan pengembangan tambak garam di Rote Ndao dilakukan melalui pembukaan lahan baru seluas lebih dari 500 hektare dengan dukungan teknologi modern.

Menurutnya, penerapan teknik tersebut menjadi perkembangan penting karena pemerintah mengembangkan kawasan produksi garam baru dalam skala luas.

“Teknik produksi garam dengan tetap menggunakan lahan atau yang dikenal dengan sebutan ekstensifikasi lahan ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia, dan Rote Ndao menjadi lokasi yang cocok untuk penerapan teknik tersebut,” kata Zaki saat ditemui di Kupang, Kamis (15/10/2026).

Teknologi Pompa Kurangi Ketergantungan pada Pasang Surut Air Laut

Zaki menjelaskan penggunaan pompa menjadi salah satu komponen utama dalam pengembangan K-SIGN Rote Ndao.

Teknologi tersebut memungkinkan air laut dialirkan menuju tambak garam tanpa harus menunggu kondisi pasang air laut.

Sistem pemompaan juga memungkinkan pengelola mengatur jumlah dan kecepatan aliran air yang masuk ke kawasan produksi.

“Sehingga kita tidak lagi bergantung pada waktu pasang surut air laut. Dengan ada pompa kita bisa mengalirkan air laut ke lokasi tambak dengan memperhatikan kecepatan aliran air, banyaknya air dan lainnya,” ujar dia.

Pada pembangunan tahap pertama, KKP telah memompa air laut menuju lokasi tambak dengan jarak penyaluran mencapai 12,5 kilometer.

Zaki menyebut pekerjaan pemasangan pompa pada tahap pertama telah selesai, meskipun masih terdapat kegiatan pemeliharaan di sejumlah lokasi.

“Memang untuk tahap satu ini pekerjaan pompa sudah selesai, tetapi masih ada pemeliharaan di beberapa tempat pekerjaan pompa sudah selesai,” tambah dia.

Kawasan Garam Rote Ndao Capai 10 Ribu Hektare

KKP mencatat luas kawasan K-SIGN Rote Ndao mencapai sekitar 10.000 hektare yang direncanakan untuk pengembangan industri garam.

Pembangunan kawasan tersebut dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan pengembangan tambak pada tahap pertama dan kedua.

Pada 2026, pembangunan kedua tahap tersebut menggunakan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Luas lahan yang dikembangkan pada tahap pertama mencapai sekitar 600 hektare, sedangkan tahap kedua mencakup sekitar 700 hektare.

Zaki mengatakan pemerintah juga membuka peluang keterlibatan investor untuk mengembangkan sisa kawasan menjadi sentra industri garam.

“Untuk sisa lahannya, kami akan undang investor menjadikan kawasan itu menjadi sentra industri garam,” tambah dia.

Pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk memperluas kapasitas produksi garam melalui pemanfaatan lahan dan teknologi pengelolaan air laut.

Produksi Garam Tahap Pertama Sudah Berjalan

Zaki mengungkapkan bahwa pembangunan K-SIGN Rote Ndao tahap pertama telah mulai menghasilkan garam.

Namun, ia belum menyampaikan jumlah produksi yang telah dicapai dari kawasan tersebut.

Menurutnya, pengelolaan produksi tidak hanya berfokus pada volume garam, tetapi juga memperhatikan kualitas hasil produksi.

KKP melakukan pengaturan penyaluran air laut menuju tambak, termasuk kecepatan aliran dan jumlah air yang digunakan.

Pengaturan tersebut diperlukan agar kandungan senyawa lain dalam air laut tidak mengganggu kualitas garam yang dihasilkan.

Teknik Ekstensifikasi Pernah Diterapkan pada Masa Kolonial

Zaki menjelaskan teknik pengembangan produksi garam melalui perluasan lahan sebenarnya pernah diterapkan di Indonesia pada masa kolonial.

Menurutnya, praktik tersebut sebelumnya dilakukan di Madura, tetapi bukan melalui program Pemerintah Indonesia seperti yang saat ini dikembangkan di Rote Ndao.

Perbedaan pengembangan K-SIGN terletak pada pembukaan kawasan baru dalam skala luas dengan pemanfaatan teknologi modern.

KKP kini memusatkan perhatian pada penyelesaian pembangunan tahap pertama dan kedua sebelum memperluas pengembangan melalui keterlibatan investor.

Kawasan Rote Ndao diharapkan menjadi salah satu pusat produksi garam nasional dengan dukungan infrastruktur pemompaan air laut dan pengelolaan tambak yang memperhatikan kualitas hasil produksi.

=

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026