HOME  ⁄  Ekonomi

Mendag Budi Santoso Bidik Perluasan Ekspor Produk Manufaktur ke India, Indonesia Catat Surplus Perdagangan Rp8,99 Miliar Dola

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Mendag Budi Santoso Bidik Perluasan Ekspor Produk Manufaktur ke India, Indonesia Catat Surplus Perdagangan Rp8,99 Miliar Dola
Foto: (Sumber :Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso melakukan pertemuan dengan delegasi India dalam penyelenggaraan hari kedua Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (15/10/206). (ANTARA/HO-Kemendag).)

Pantau - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membahas peluang peningkatan ekspor produk manufaktur Indonesia ke India dalam pertemuan dengan delegasi bisnis India pada ajang Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (15/10/2026).

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pasar ekspor sekaligus memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan India.

Budi menilai produk manufaktur Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan penetrasi pasar India, tetapi diperlukan kerja sama yang lebih kuat antara pemerintah dan pelaku usaha.

"Perlu ada penguatan sinergi dunia usaha dengan pemerintah agar produk-produk Indonesia makin gencar masuk ke India, salah satunya melalui pemenuhan sertifikasi yang dipersyaratkan oleh otoritas India," ujar Budi dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Selain membahas ekspor, pertemuan tersebut juga membuka peluang investasi India di sejumlah sektor strategis Indonesia, termasuk otomotif, furnitur, dan mineral.

Mendag Dorong Produk Manufaktur Indonesia Perluas Pasar India

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama perdagangan antara Indonesia dan India untuk meningkatkan ekspor produk manufaktur nasional.

Menurut Budi, peluang ekspor ke India masih dapat dikembangkan melalui peningkatan daya saing produk dan pemenuhan berbagai persyaratan perdagangan.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah sertifikasi produk yang diwajibkan oleh otoritas India sebelum barang dapat dipasarkan di negara tersebut.

Pemenuhan ketentuan tersebut dinilai penting untuk mempermudah akses produk Indonesia ke pasar India.

Budi juga menyoroti perlunya penguatan komitmen perdagangan antara kedua negara melalui pembahasan kerja sama bilateral.

Pemerintah Indonesia memandang perundingan perdagangan sebagai salah satu langkah untuk mengatasi berbagai hambatan yang dapat memengaruhi aktivitas ekspor.

"Peningkatan komitmen perdagangan antara kedua negara dapat mendukung akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia," kata Budi.

Melalui penguatan hubungan perdagangan tersebut, pemerintah berharap semakin banyak produk manufaktur Indonesia dapat memasuki pasar India.

Indonesia dan India Jajaki Investasi Otomotif hingga Mineral Strategis

Selain membahas peluang ekspor, Menteri Perdagangan juga menjajaki kemungkinan peningkatan investasi India di Indonesia.

Sejumlah sektor menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut, termasuk industri otomotif dan furnitur.

Kedua sektor tersebut termasuk bidang manufaktur yang dibahas dalam upaya memperluas kerja sama ekonomi antara pelaku usaha Indonesia dan India.

Peluang investasi juga dibicarakan pada sektor mineral strategis, khususnya logam tanah jarang.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi kedua negara tidak hanya diarahkan pada perdagangan barang, tetapi juga peluang penanaman modal.

Pertemuan dengan delegasi bisnis India berlangsung pada hari kedua penyelenggaraan Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang.

Ajang tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra dagang dan investor dari berbagai negara.

Perdagangan Indonesia-India Capai 16,62 Miliar Dolar AS pada Januari-Agustus 2026

Hubungan perdagangan Indonesia dan India mencatatkan nilai transaksi yang cukup besar sepanjang delapan bulan pertama 2026.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan kedua negara pada Januari hingga Agustus 2026 mencapai 16,62 miliar dolar AS.

Dari jumlah tersebut, nilai ekspor Indonesia ke India tercatat sebesar 12,81 miliar dolar AS.

Sementara itu, nilai impor Indonesia dari India mencapai 3,81 miliar dolar AS.

Dengan capaian tersebut, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan terhadap India sebesar 8,99 miliar dolar AS.

Surplus tersebut menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke India masih lebih tinggi dibandingkan nilai impor dari negara tersebut.

Pemerintah berupaya mempertahankan hubungan perdagangan tersebut sekaligus memperluas jenis produk yang dapat diekspor ke pasar India.

Indonesia Catat Surplus Perdagangan 13,46 Miliar Dolar AS pada 2025

Pada tahun sebelumnya, hubungan perdagangan Indonesia dan India juga mencatatkan surplus bagi Indonesia.

Total perdagangan kedua negara sepanjang 2025 mencapai 23,13 miliar dolar AS.

Nilai ekspor Indonesia ke India pada periode tersebut tercatat sebesar 18,30 miliar dolar AS.

Sementara itu, impor Indonesia dari India mencapai 4,84 miliar dolar AS.

Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 13,46 miliar dolar AS sepanjang 2025.

Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama ekspor Indonesia ke India, terutama produk energi, perkebunan, dan industri pengolahan.

Produk utama ekspor Indonesia ke India pada 2025 meliputi:

  • Batu bara
  • Minyak sawit
  • Baja nirkarat
  • Asam lemak industri monokarboksilat
  • Korundum buatan

Sementara itu, sejumlah produk utama yang diimpor Indonesia dari India meliputi:

  • Daging sapi
  • Kacang tanah
  • Kendaraan bermotor pengangkut barang
  • Suku cadang traktor
  • Tembakau

Komposisi perdagangan tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan pengembangan kerja sama ekonomi kedua negara.

Melalui pertemuan dengan delegasi India pada Trade Expo Indonesia 2026, Kementerian Perdagangan berupaya memperluas peluang ekspor produk manufaktur sekaligus membuka akses investasi baru di Indonesia.

Pemerintah juga mendorong penguatan sinergi dengan dunia usaha dan pembahasan kerja sama bilateral untuk mengatasi hambatan perdagangan serta meningkatkan akses pasar produk nasional.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026