HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp18.035 per Dolar AS, Analis Soroti Tekanan Pasar Saham dan Konflik Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp18.035 per Dolar AS, Analis Soroti Tekanan Pasar Saham dan Konflik Global
Foto: (Sumber :Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye.)

Pantau - Nilai tukar rupiah melemah 8 poin atau 0,04 persen menjadi Rp18.035 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026), di tengah tekanan dari sentimen pasar domestik dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Analis Doo Financial Lukman Leong menilai rupiah masih menghadapi tekanan internal dan eksternal, meskipun sejumlah langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi membantu memulihkan kepercayaan investor.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp18.027 per dolar AS.

“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan internal maupun eksternal, walau sanksi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) serta hearing BEI (Bursa Efek Indonesia) mungkin dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar,” ujar Lukman kepada wartawan di Jakarta, Senin.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS dengan mempertimbangkan berbagai sentimen yang memengaruhi pasar.

MSCI Usulkan Perubahan Status Pasar Saham Indonesia

Salah satu tekanan dari dalam negeri berasal dari laporan konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.

MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Dalam proses konsultasi tersebut, MSCI membuka kesempatan bagi pelaku pasar untuk menyampaikan masukan hingga 30 April 2027.

Keputusan akhir mengenai usulan perubahan klasifikasi tersebut diharapkan diumumkan sebelum 30 Juni 2027.

MSCI menyatakan bahwa pelaku pasar masih melihat kurangnya kemajuan yang konsisten dalam pembenahan pasar ekuitas Indonesia.

Lembaga tersebut juga menyoroti kekhawatiran mengenai dugaan praktik perdagangan terkoordinasi dan belum memadainya bukti penegakan aturan di pasar modal.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

OJK Jatuhkan Sanksi Rp2,1 Triliun kepada Tiga Emiten

Menanggapi persoalan di pasar modal, OJK menjatuhkan sanksi dan denda administratif dengan nilai total Rp2,1 triliun kepada tiga emiten.

Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Sanksi dijatuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan OJK terhadap dugaan pelanggaran ketentuan pasar modal.

OJK menemukan indikasi manipulasi perdagangan saham DSSA serta pelanggaran dalam proses penawaran umum saham BREN dan CUAN.

Langkah penegakan aturan tersebut dinilai berpotensi membantu memperbaiki kepercayaan pelaku pasar.

BEI Turunkan Batas ARB Saham Menjadi 7 Persen

Selain penindakan oleh OJK, BEI menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham dari sebelumnya 15 persen menjadi 7 persen.

Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026 dengan dukungan OJK.

Penyesuaian dilakukan untuk menjaga perdagangan efek tetap teratur, wajar, dan efisien sekaligus mengendalikan volatilitas pasar.

Batas ARB sebesar 7 persen berlaku untuk saham pada seluruh kelompok harga yang diatur dalam ketentuan terbaru.

Kelompok harga tersebut mencakup saham di atas Rp10 hingga Rp200, di atas Rp200 hingga Rp5.000, serta di atas Rp5.000.

Konflik Timur Tengah dan Rusia-Ukraina Tambah Tekanan Rupiah

Dari sisi eksternal, Lukman menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina sebagai faktor yang turut menekan nilai tukar rupiah.

Menurutnya, eskalasi konflik di kedua kawasan tersebut kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai prospek mata uang, termasuk rupiah.

“Di Timteng tentunya serangan Iran pada kapal-kapal di Selat Hormuz dan di Eropa, Rusia dan Ukraina meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak,” ucap Lukman.

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia.

Sementara itu, meningkatnya serangan terhadap fasilitas minyak dalam konflik Rusia-Ukraina turut menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Dengan mempertimbangkan kondisi domestik dan internasional tersebut, Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026