HOME  ⁄  Ekonomi

Kemarau Panjang Picu Defisit Air Bendungan di Jawa, Kementerian PU Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Tingkatkan Cadangan Air

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemarau Panjang Picu Defisit Air Bendungan di Jawa, Kementerian PU Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Tingkatkan Cadangan Air
Foto: (Sumber :Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumastuti (tengah) menjawab pertanyaan awak media ditemui usai Rapat Koordinasi Keterpaduan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (Rakorbangwil) di Jakarta, Selasa (20/10/2026). ANTARA/Harianto.)

Pantau - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi penyusutan volume air di sejumlah bendungan di Pulau Jawa akibat kemarau berkepanjangan yang dipengaruhi fenomena El Nino ekstrem sepanjang 2026.

Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti mengatakan berkurangnya cadangan air bendungan menjadi perhatian pemerintah karena dapat memengaruhi ketersediaan sumber daya air di berbagai wilayah.

Menurutnya, modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan dan membantu menjaga pasokan air bendungan.

Kemarau Panjang Akibatkan Volume Air Bendungan Menyusut

Diana menjelaskan bahwa musim kemarau berkepanjangan telah menyebabkan penurunan volume air di sejumlah bendungan, khususnya di Pulau Jawa.

Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Nino ekstrem yang berdampak pada berkurangnya pasokan air.

"Sebenarnya kalau bendungan-bendungan karena kemarau ya terus terang aja kan menyusut, ya kan? Masalah air dan sebagainya. Nah, untuk hal ini, kita berharap supaya bisa turun hujan ya, mungkin nanti kita dengan modifikasi cuaca ya," kata Diana saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Ia menyampaikan bahwa pemerintah berharap upaya modifikasi cuaca dapat membantu meningkatkan peluang hujan di wilayah yang mengalami kekurangan air.

Langkah tersebut dipersiapkan sebagai bagian dari penanganan terhadap penurunan cadangan air akibat kemarau.

Kementerian PU Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca

Kementerian PU berupaya menggunakan teknologi modifikasi cuaca untuk mendukung penambahan pasokan air pada bendungan yang mengalami penyusutan.

Operasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan sehingga cadangan air dapat kembali bertambah.

Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PU Adenan Rasyid turut menyampaikan bahwa pemerintah melakukan operasi modifikasi cuaca untuk membantu menambah pasokan air di wilayah yang membutuhkan.

Upaya ini menjadi salah satu langkah penanganan jangka pendek terhadap dampak kemarau pada infrastruktur sumber daya air.

Namun, informasi mengenai lokasi pelaksanaan, jadwal operasi, dan target penambahan volume air belum dirinci dalam keterangan tersebut.

Pemerintah Siapkan Kelanjutan Pembangunan Bendungan pada 2028

Selain menyiapkan penanganan jangka pendek, Kementerian PU mulai mengidentifikasi kebutuhan pembangunan bendungan yang belum selesai.

Identifikasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari penyusunan program pembangunan infrastruktur sumber daya air untuk tahun anggaran 2028.

Diana menyampaikan bahwa alokasi pembangunan bendungan pada 2027 pada dasarnya telah tersedia.

Sementara itu, kebutuhan pendanaan dan pelaksanaan proyek lanjutan pada 2028 akan dipersiapkan lebih awal.

Langkah tersebut bertujuan menghindari keterlambatan pembangunan bendungan yang masuk dalam daftar prioritas pemerintah.

Bendungan Jadi Bagian dari Penguatan Ketahanan Air

Diana menegaskan bahwa penyelesaian identifikasi kebutuhan pembangunan bendungan perlu segera dilakukan.

Menurutnya, proyek bendungan yang diprioritaskan diharapkan dapat memperkuat ketahanan sumber daya air di tengah meningkatnya risiko kekeringan.

Pemerintah juga berupaya menggabungkan penanganan jangka pendek melalui modifikasi cuaca dengan perencanaan pembangunan infrastruktur untuk jangka panjang.

Dengan demikian, Kementerian PU menyiapkan dua langkah penanganan, yakni menjaga cadangan air bendungan yang ada dan melanjutkan pembangunan infrastruktur sumber daya air pada tahun anggaran berikutnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026