HOME  ⁄  Ekonomi

Menteri Transmigrasi Dorong Usaha Berorientasi Pasar, Petani Bangka Selatan Jajaki Pasokan Sayuran untuk Program Makan Bergiz

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Menteri Transmigrasi Dorong Usaha Berorientasi Pasar, Petani Bangka Selatan Jajaki Pasokan Sayuran untuk Program Makan Bergiz
Foto: Kegiatan Farmer Field and Business School (FFBS) pertemuan ke-7 sekaligus panen di Demplot Trans-Organik, Desa Sumber Jaya Permai, Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.

Pantau - Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong pengembangan usaha di kawasan transmigrasi agar berorientasi pada kebutuhan pasar dan peningkatan pendapatan masyarakat, salah satunya melalui penjajakan kerja sama pemasokan sayuran dari petani Batu Betumpang, Bangka Selatan, ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulau Besar.

Iftitah menegaskan bahwa pengembangan produk pertanian tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan produksi, tetapi juga harus mempertimbangkan kepastian pembeli dan manfaat ekonomi bagi petani.

“Jangan hanya melihat apa yang bisa dibuat, tetapi juga siapa yang akan membeli dan bagaimana produk tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (25/10/2026).

Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 IPB University kepada petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.

Tim tersebut menjajaki peluang kerja sama dengan SPPG Pulau Besar agar hasil panen sayuran petani memiliki akses pasar yang lebih pasti.

Petani Batu Betumpang Panen 107 Kilogram Sayuran

Penjajakan kerja sama pemasaran dilakukan melalui kegiatan Farmer Field and Business School (FFBS) pertemuan ketujuh yang berlangsung di Desa Sumber Jaya Permai, Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum panen di lahan percontohan atau demplot Trans-Organik.

Sebanyak 18 petani penggerak mengikuti kegiatan pendampingan dan panen bersama Tim Ekspedisi Patriot IPB University.

Dalam kegiatan itu, para petani berhasil memanen 107 kilogram sayuran yang terdiri atas pakcoy, selada, bayam, dan kangkung.

Hasil panen tersebut menjadi bagian dari pengembangan usaha hortikultura yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Melalui penjajakan dengan SPPG Pulau Besar, petani diharapkan memperoleh peluang penjualan yang lebih terarah sesuai kebutuhan pembeli.

Tim Ekspedisi Patriot IPB Ajarkan Petani Memahami Kebutuhan Pasar

Ketua TEP IPB University, Suprehatin, mengatakan peningkatan produksi pertanian harus disertai kemampuan memahami kebutuhan pasar.

Menurutnya, petani perlu mengetahui jenis sayuran yang dibutuhkan pembeli, standar kualitas, jumlah pesanan, hingga jadwal pengiriman.

Karena itu, pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada teknik budidaya tanaman.

Petani juga mendapatkan pembelajaran mengenai penyortiran, pemilahan berdasarkan kualitas, dan pengemasan hasil panen.

“Transisi pertanian tidak cukup berhenti pada bagaimana petani menghasilkan produk yang lebih baik. Kita juga perlu memastikan produk tersebut memiliki akses pasar,” kata Suprehatin.

Ia menilai akses pemasaran merupakan bagian penting dalam mendorong pengembangan usaha pertanian di kawasan transmigrasi.

Selama ini, ketidakpastian harga dan keterbatasan akses pasar menjadi tantangan yang dihadapi para petani.

Melalui kegiatan FFBS, petani didampingi untuk menyiapkan hasil pertanian sesuai kebutuhan calon pembeli.

Kerja Sama dengan SPPG Diharapkan Buka Peluang Pasar Baru

Tim Ekspedisi Patriot IPB University menjajaki kerja sama dengan SPPG Pulau Besar sebagai salah satu langkah memperluas pemasaran hasil pertanian warga.

Penjajakan tersebut diharapkan dapat membuka peluang penyerapan sayuran yang dihasilkan petani Batu Betumpang.

Selain SPPG, komunikasi dengan pedagang lokal juga menjadi bagian dari upaya pengembangan pasar.

Petani penggerak Desa Sumber Jaya Permai, Ayik Sofyan, menyambut positif langkah pendampingan dan pembukaan akses pemasaran tersebut.

“Adanya komunikasi dengan SPPG dan pedagang lokal memberikan harapan bagi pengembangan usaha hortikultura kami,” kata Ayik.

Meski demikian, kerja sama pasokan sayuran tersebut masih dalam tahap penjajakan dan belum dilaporkan sebagai kesepakatan pembelian tetap.

Program Trans-Organik Ditargetkan Tingkatkan Pendapatan Petani

Melalui program Trans-Organik, TEP IPB University berupaya membantu petani meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.

Pendampingan tersebut diarahkan agar petani tidak hanya mampu menghasilkan sayuran, tetapi juga memahami persyaratan produk yang dibutuhkan pasar.

Pengembangan usaha berbasis permintaan pembeli diharapkan dapat membantu petani menghadapi ketidakpastian harga dan pemasaran.

Kementerian Transmigrasi menempatkan peningkatan pendapatan masyarakat sebagai salah satu tujuan pengembangan usaha di kawasan transmigrasi.

Upaya penjajakan pasokan sayuran ke SPPG Pulau Besar menjadi salah satu contoh penerapan pendekatan tersebut di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026