
Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai memiliki ego politik besar yang memengaruhi sikap negaranya dalam Perang Iran, termasuk keinginan untuk meraih kemenangan mutlak tanpa kompromi.
Dalam telaah yang ditulis Jafar M Sidik, Trump disebut memandang kehidupan politik sebagai pertarungan yang harus dimenangkan sepenuhnya melalui konsep winner takes all atau pemenang mengambil semuanya.
Menurut laporan The Independent, sejak 7 Maret hingga 5 Mei 2026, Trump sedikitnya telah 12 kali menyatakan Amerika Serikat menang dalam perang melawan Iran.
Mentalitas Politik Trump Jadi Sorotan
Trump disebut memiliki pandangan politik yang berpegang pada teori zero-sum game, yakni kemenangan satu pihak harus dibayar dengan kekalahan mutlak pihak lain.
Sikap tersebut dinilai terlihat dalam perjalanan politiknya, termasuk tetap mencalonkan diri sebagai presiden setelah mengalami kekalahan pada Pemilu sebelumnya.
Trump tercatat menang pada pemilihan pertama, kalah pada periode berikutnya, lalu kembali memenangkan pemilu selanjutnya.
Mantan Menteri Perburuhan AS Robert Reich dalam opininya di The Guardian pada 8 Mei menyebut Trump menolak menerima kekalahan karena menganggap kekalahan sebagai sesuatu yang menyakitkan.
Kritik Terhadap Strategi Perang Iran
Sikap Trump dalam Perang Iran juga menuai kritik dari sejumlah tokoh internasional.
Paus Leo XIV disebut menolak pengaitan agama dengan konflik Iran, sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai Iran telah mempermalukan Amerika Serikat.
Merz juga menyebut Trump tidak memiliki strategi yang jelas dalam perang tersebut serta belum menawarkan jalan keluar konkret.
Telaah itu menilai pendekatan Trump yang terlalu berorientasi pada kemenangan politik berisiko memperpanjang konflik dan memperumit upaya perdamaian internasional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





