HOME  ⁄  Geopolitik

Kuba Minta Solidaritas Internasional di Tengah Tekanan Amerika Serikat

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kuba Minta Solidaritas Internasional di Tengah Tekanan Amerika Serikat
Foto: (Sumber : Warga menaiki becak listrik dan sepeda saat pawai anti-imperialisme di tengah kekurangan yang terus berlanjut dan pemadaman listrik berkepanjangan, saat pulau itu menghadapi tekanan ekonomi yang semakin dalam di bawah embargo Amerika Serikat yang telah berlangsung selama beberapa dekade, Havana, Kuba (2/4/2026). ANTARA/Juancho Torres/Anadolu/pri..)

Pantau - Pemerintah Kuba meminta solidaritas internasional di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat yang dinilai mengancam kedaulatan dan kondisi ekonomi negara tersebut.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla menyampaikan permintaan itu dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada Selasa (26/5).

"Saya, dengan rendah hati meminta, sudah saatnya untuk menunjukkan solidaritas kepada Kuba, yang selama ini selalu menunjukkan solidaritas kepada pihak lain dan tidak pernah mundur menghadapi risiko apa pun, bahkan terkadang mempertaruhkan nyawa rakyat Kuba," ungkap Rodriguez.

Rodriguez juga mendesak negara-negara Amerika Latin dan Karibia mematuhi deklarasi Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) tahun 2014 yang menetapkan kawasan tersebut sebagai zona damai.

"Sudah waktunya bagi upaya internasional yang luas dan melampaui perbedaan politik, pendekatan ideologis, maupun perbedaan sejarah. Sudah waktunya untuk menetapkan batas dan mencegah tindakan yang mengancam serta merugikan kepentingan nasional, yang mengancam seluruh bangsa dan hak kedaulatan semua negara," ujarnya.

Kuba Soroti Tekanan Ekonomi dan Embargo AS

Pemerintah Kuba menilai kebijakan Amerika Serikat memperburuk kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat di negara itu.

Pada 29 Januari 2026, Amerika Serikat memberlakukan tarif terhadap impor dari negara-negara pemasok minyak ke Kuba dan menetapkan keadaan darurat terkait dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional AS.

Havana menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari embargo energi yang bertujuan menekan perekonomian Kuba.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez bahkan menilai ancaman militer Amerika Serikat terhadap Kuba telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ia menegaskan rakyat Kuba siap mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negaranya dari berbagai bentuk tekanan asing.

Dakwaan terhadap Raul Castro Dinilai Provokasi Politik

Ketegangan antara Kuba dan Amerika Serikat semakin meningkat setelah Departemen Kehakiman AS mendakwa mantan Presiden Kuba Raul Castro bersama lima perwira militer Kuba terkait insiden penembakan dua pesawat pada 1996.

Pemerintah Kuba menilai dakwaan tersebut sebagai provokasi politik dari Washington.

Havana juga menegaskan tindakan Kuba saat itu dilakukan untuk mempertahankan wilayah udara negara dari pelanggaran yang dilakukan kelompok pengasingan berbasis di Miami, Brothers to the Rescue.

Penulis :
Aditya Yohan