HOME  ⁄  Geopolitik

Jepang Akui Salah Hitung Pasokan dan Respons Lamban Jadi Pemicu Krisis Beras

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Jepang Akui Salah Hitung Pasokan dan Respons Lamban Jadi Pemicu Krisis Beras
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Bendera Jepang di sebuah gedung. (ANTARA/Anadolu/py/am).)

Pantau - Pemerintah Jepang mengakui kesalahan dalam memperkirakan pasokan beras serta lambatnya respons dalam melepaskan cadangan darurat menjadi faktor utama yang memicu krisis beras dan lonjakan harga di negara tersebut.

Salah Perkiraan Pasokan dan Distribusi

Pemerintah Jepang menyatakan kekurangan beras mulai terasa sejak musim panas 2024 akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari gagal panen karena suhu tinggi, meningkatnya konsumsi wisatawan asing, hingga aksi penimbunan oleh warga yang khawatir terhadap potensi gempa besar.

"Berdasarkan asumsi bahwa produksi beras mencukupi, pemerintah tidak proaktif dalam mengumpulkan informasi mengenai kondisi distribusi, yang pada akhirnya memicu lonjakan harga," demikian isi laporan resmi pemerintah Jepang.

Pemerintah mengakui terlalu percaya bahwa produksi beras nasional masih mampu memenuhi kebutuhan pasar sehingga tidak segera memantau distribusi secara menyeluruh.

Akibatnya, kelangkaan beras terjadi dan harga eceran melonjak tajam di berbagai wilayah Jepang.

Cadangan Darurat Dilepas Terlambat

Untuk mengatasi krisis, pemerintah akhirnya melepaskan cadangan beras darurat yang selama ini disimpan untuk menghadapi kondisi luar biasa.

Namun, pemerintah juga mengakui langkah tersebut dilakukan terlambat sehingga gagal meredam kekhawatiran pedagang grosir dan masyarakat.

Pada puncak krisis, harga beras di Jepang sempat menembus 4.000 yen atau sekitar Rp446 ribu per lima kilogram.

Kondisi tersebut mendorong banyak rumah tangga beralih mengonsumsi mi dan roti sebagai alternatif makanan pokok.

Impor beras sektor swasta pada 2025 juga melonjak drastis hingga 95 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 96.834 ton.

Lonjakan Wisatawan dan Kekhawatiran Gempa Perparah Situasi

Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang sebelumnya memperkirakan permintaan beras akan terus menurun seiring berkurangnya jumlah penduduk.

Namun prediksi itu meleset karena meningkatnya jumlah wisatawan asing yang mendorong konsumsi beras nasional.

Selain itu, peringatan pemerintah terkait potensi gempa besar di Palung Nankai pada musim panas 2024 membuat sebagian masyarakat melakukan pembelian dan penyimpanan beras dalam jumlah besar.

Laporan yang disetujui Kabinet Perdana Menteri Sanae Takaichi itu juga mencatat ekspor produk pangan Jepang naik 12,8 persen menjadi 1,70 triliun yen atau sekitar Rp189 triliun sepanjang 2025.

Penulis :
Aditya Yohan