
Pantau - Inggris akan mengirim drone bawah laut pemburu ranjau ke Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan pelayaran di salah satu jalur energi paling strategis di dunia yang belakangan menjadi pusat ketegangan geopolitik.
Langkah tersebut dilaporkan surat kabar Express pada Senin (1/6), menyusul kesiapan Kementerian Pertahanan Inggris untuk mengerahkan berbagai aset militer guna menjaga keamanan navigasi di kawasan tersebut.
Drone Defender-Viper Siap Deteksi dan Hancurkan Ranjau
Sistem drone bawah laut kendali jarak jauh Defender-Viper akan ditempatkan di atas kapal RFA Lyme Bay untuk memperkuat kemampuan Angkatan Laut Inggris dalam operasi penanggulangan ranjau.
Kapal RFA Lyme Bay sebelumnya telah berlayar dari Gibraltar sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan operasi keamanan maritim internasional di Selat Hormuz.
Defender-Viper dirancang untuk mendeteksi dan menghancurkan ranjau bawah laut yang berpotensi meledak saat bersentuhan dengan kapal.
Drone tersebut dapat dioperasikan secara manual maupun secara otonom menggunakan koordinat yang telah diprogram sebelumnya.
Personel khusus Angkatan Laut Inggris juga telah menjalani pelatihan untuk mengoperasikan sistem tersebut.
Setelah dikerahkan, mereka akan bertugas mengidentifikasi dan menetralisir ranjau yang ditemukan melalui sistem sonar bawah laut.
Inggris Pertimbangkan Tambahan Aset Militer
Selain drone pemburu ranjau, Inggris juga mempertimbangkan pengiriman aset antidrone ke kawasan Teluk.
Kementerian Pertahanan Inggris sebelumnya menyatakan kesiapan mengerahkan kapal perang, kapal penyapu ranjau tak berawak, dan jet tempur dalam misi pengamanan jalur pelayaran internasional.
Jet tempur Typhoon dan kapal perusak HMS Dragon juga masuk dalam opsi penguatan kehadiran militer Inggris di kawasan tersebut.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas dan keamanan lalu lintas maritim di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi global.
- Penulis :
- Aditya Yohan





