HOME  ⁄  Geopolitik

Xi Jinping dan Kim Jong Un Gelar KTT di Pyongyang, Perkuat Aliansi Strategis di Tengah Sorotan Isu Nuklir

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Xi Jinping dan Kim Jong Un Gelar KTT di Pyongyang, Perkuat Aliansi Strategis di Tengah Sorotan Isu Nuklir
Foto: Arsip foto - Presiden China Xi Jinping dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (sumber: Anadolu)

Pantau - Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memulai pertemuan tingkat tinggi di Pyongyang pada Senin (8/6/2026) dalam kunjungan dua hari yang bertujuan memperkuat hubungan bilateral, menegaskan kembali kerja sama strategis, serta menindaklanjuti kesepakatan yang dicapai dalam KTT Beijing pada September 2025.

Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama Xi ke Korea Utara sejak 2019 dan berlangsung hingga 9 Juni 2026.

Pertemuan kedua pemimpin juga menjadi perhatian pengamat internasional karena adanya spekulasi mengenai kemungkinan pembahasan program nuklir Korea Utara.

Sebelumnya, setelah pertemuan Xi Jinping dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing pada pertengahan Mei 2026, Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin mendukung tujuan denuklirisasi Korea Utara.

Namun, pemerintah China tidak secara khusus menyinggung isu tersebut dalam pernyataan resminya.

Menanggapi pertanyaan mengenai status nuklir Korea Utara, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan bahwa kebijakan Beijing tetap mempertimbangkan kesinambungan dan stabilitas kawasan Semenanjung Korea.

Sorotan terhadap Isu Nuklir

Sehari sebelum pertemuan puncak berlangsung, Kim Yo Jong yang merupakan adik Kim Jong Un menyatakan bahwa pernyataan mengenai denuklirisasi Korea Utara yang dikaitkan dengan Trump dan Xi merupakan "informasi palsu."

Pernyataan tersebut dinilai mengindikasikan bahwa Korea Utara tidak berniat membahas program nuklirnya dalam pertemuan dengan Xi Jinping.

Pengamat Korea Utara dari Universitas Prefektur Niigata, Mitsuhiro Mimura, menilai Trump kemungkinan meminta Xi menjadi perantara dialog antara Amerika Serikat dan Korea Utara.

Menurut Mimura, denuklirisasi kemungkinan tidak dijadikan prasyarat utama dalam pembicaraan tersebut.

Ia menilai China tetap menginginkan Semenanjung Korea bebas senjata nuklir.

Namun, Beijing cenderung membiarkan Washington dan Pyongyang menyelesaikan persoalan tersebut secara langsung.

Sambutan Meriah dan Penguatan Hubungan Bilateral

Saat tiba di Bandara Pyongyang, Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, disambut langsung oleh Kim Jong Un bersama istrinya, Ri Sol Ju.

Setelah turun dari pesawat, Xi dan Kim terlihat berjabat tangan hangat di hadapan delegasi kedua negara.

Anak-anak Korea Utara kemudian menyerahkan bunga kepada Xi Jinping dan Peng Liyuan sebagai bentuk penghormatan.

Xi datang bersama sejumlah pejabat tinggi China, termasuk Menteri Luar Negeri Wang Yi dan Kepala Kantor Umum Partai Komunis China Cai Qi.

Untuk menyambut kunjungan tersebut, bendera China dan Korea Utara dipasang di berbagai jalan utama Pyongyang.

Media Korea Utara juga menampilkan pemberitaan khusus mengenai hubungan kedua negara.

Dalam artikel yang diterbitkan di surat kabar resmi Partai Buruh Korea, Rodong Sinmun, Xi Jinping menyatakan bahwa China dan Korea Utara harus menentang hegemonisme.

Ia juga menegaskan kedua negara harus menolak politik kekuasaan.

Xi menambahkan perlunya menentang upaya yang dapat menghidupkan kembali militerisme.

Ia menekankan pentingnya menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.

Pernyataan tersebut dinilai ditujukan kepada Amerika Serikat dan Jepang di tengah meningkatnya kritik Beijing terhadap kebijakan pertahanan Jepang di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Perselisihan juga dipicu oleh pernyataan Takaichi mengenai Taiwan dan kemungkinan keterlibatan Jepang apabila terjadi konflik antara China dan Taiwan.

Editorial Rodong Sinmun menegaskan bahwa Korea Utara akan terus melangkah maju bersama China.

Hubungan kedua negara juga didasarkan pada Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik China-Korea Utara 1961 yang menjamin bantuan militer dan dukungan lain apabila salah satu negara diserang.

Hubungan Beijing dan Pyongyang sempat mengalami ketegangan akibat meningkatnya kerja sama militer Korea Utara dengan Rusia serta pengiriman pasukan Korea Utara untuk membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina.

Dalam beberapa waktu terakhir, hubungan kedua negara kembali membaik.

China tetap menjadi sekutu terdekat Korea Utara sekaligus mitra ekonomi paling berpengaruh bagi Pyongyang.

Hubungan historis kedua negara berakar pada Perang Korea ketika China dan Korea Utara bertempur bersama melawan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipimpin Amerika Serikat.

Karena sejarah tersebut, kedua negara selama puluhan tahun menggambarkan hubungan mereka sebagai “saudara seperjuangan.”

Penulis :
Leon Weldrick