
Pantau - Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan belum akan kembali normal dalam waktu dekat meski Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut setelah hampir empat bulan konflik.
CEO Mitsui OSK Lines Jotaro Tamura mengatakan operator pelayaran masih menunggu bukti nyata bahwa kondisi keamanan di Selat Hormuz benar-benar pulih sebelum kembali melintasi jalur tersebut secara normal.
"Apa yang diperlukan bukan hanya sekadar kesepakatan antara negara-negara terkait, tetapi juga implementasi nyata di lapangan dan tercermin dalam situasi sebenarnya di Selat Hormuz, sehingga perusahaan pelayaran merasa nyaman untuk kembali melintas," ungkap Tamura kepada Financial Times.
Tamura menilai proses pemulihan lalu lintas pelayaran dapat memakan waktu beberapa pekan hingga satu bulan karena pelaku industri masih berhati-hati menyusul berbagai hambatan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Operator Kapal Masih Menunggu Kepastian Keamanan
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia yang sebelumnya dilalui lebih dari seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Selain energi, jalur tersebut juga menjadi rute penting pengiriman biji-bijian dan berbagai barang konsumsi menuju kawasan Teluk.
Sebelum konflik pecah, sekitar 135 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari, namun jumlah tersebut menurun drastis akibat gangguan keamanan.
Mitsui OSK Lines yang mengoperasikan lebih dari 900 kapal telah memindahkan empat armadanya dari kawasan Teluk sebelum kesepakatan dicapai.
Sedikitnya tujuh kapal lain milik perusahaan itu masih menunggu izin dan kepastian keamanan untuk melintasi Selat Hormuz.
IMO Siapkan Langkah Koordinasi Pemulihan
Perusahaan pelayaran dan pemilik kapal kini mendesak Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) untuk mengoordinasikan keberangkatan sekitar 500 kapal yang masih tertahan di kawasan Teluk.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan pihaknya sedang mengevaluasi kondisi keselamatan pelayaran sebelum memberikan rekomendasi pembukaan jalur secara penuh.
IMO juga berupaya menyiapkan koridor evakuasi aman bagi para pelaut yang telah tertahan lebih dari 100 hari di kawasan tersebut.
Sementara itu, perusahaan pelayaran peti kemas Hapag-Lloyd menyambut positif kesepakatan damai antara AS dan Iran dan berharap armadanya yang tertahan dapat segera kembali beroperasi.
Kesepakatan damai tersebut muncul setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk mengakhiri konflik, dengan penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni 2026.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








