
Pantau - Duta Besar China untuk ASEAN Wang Qing menyerukan ASEAN dan China untuk memperkuat solidaritas serta menolak eksklusivitas di tengah berbagai tantangan global seperti unilateralisme, proteksionisme, serta krisis energi dan pangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Wang Qing dalam Forum Jakarta 2026 yang digelar di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin, dalam rangka memperingati lima tahun kemitraan strategis komprehensif ASEAN-China.
“Kita harus memastikan sikap saling percaya, solidaritas, dan kerja sama tetap menjadi dasar bersama, serta memastikan masa depan kawasan tetap di tangan kita sendiri,” ungkap Wang Qing.
“Kita harus menolak interferensi asing, upaya membentuk lingkar eksklusif atau memicu konfrontasi, serta upaya apapun untuk menghidupkan kembali militerisme yang mengacaukan stabilitas kawasan,” lanjutnya.
Dorong Kerja Sama Ekonomi dan Stabilitas Kawasan
Wang menilai ASEAN dan China memiliki peluang besar di tengah pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi dunia ke kawasan Asia.
Sebagai mitra dan tetangga dekat, kedua pihak dinilai perlu meningkatkan kerja sama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Menurut Wang, hubungan ASEAN dan China telah mencatat perkembangan signifikan sejak dialog bilateral dimulai pada 1991.
Ia menyebut nilai perdagangan bilateral pada 2025 telah mencapai 1 miliar dolar Amerika Serikat seiring ditetapkannya pembaruan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China atau FTA ASEAN-China 3.0.
Wang juga menyoroti proyek Kereta Api China-Laos dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung sebagai simbol keberhasilan kolaborasi kedua pihak.
Fokus pada Ketahanan Pangan dan Rantai Pasok
China mendorong peningkatan kerja sama di sektor prioritas seperti ketahanan pangan, ketahanan energi, konektivitas ekonomi, serta stabilitas rantai pasok kawasan.
Wang juga menyerukan percepatan implementasi FTA ASEAN-China 3.0 guna menciptakan pasar regional yang semakin terbuka dan kompetitif.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya menjunjung Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (Treaty of Amity and Cooperation/TAC) yang dinilai sejalan dengan Lima Prinsip Koeksistensi Damai yang diusung China.
China juga menegaskan dukungannya terhadap arsitektur kerja sama kawasan yang berpusat pada ASEAN, bersifat terbuka, dan inklusif untuk menjaga perdamaian serta stabilitas regional.
- Penulis :
- Aditya Yohan





