
Pantau - Lebanon dan Israel menandatangani kesepakatan kerangka kerja yang disponsori Amerika Serikat di Washington pada Jumat sebagai hasil putaran kelima perundingan kedua negara untuk membuka jalan menuju perdamaian dan keamanan.
Kesepakatan Awali Proses Perdamaian
Seorang pejabat senior Lebanon yang tidak disebutkan namanya mengatakan kesepakatan tersebut mencakup penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan secara bertahap, meski belum dijelaskan jangka waktu maupun wilayah yang akan dikosongkan.
Upacara penandatanganan disiarkan secara langsung, namun rincian lengkap isi kesepakatan belum diumumkan kepada publik.
Sumber tersebut juga menyebut perundingan menghasilkan kemajuan terhadap sejumlah isu yang selama ini belum terselesaikan antara kedua pihak.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan kesepakatan tersebut menjadi langkah awal menuju perdamaian yang berkelanjutan.
“Ini adalah awal dari sebuah permulaan. Kami sama sekali tidak meremehkan sulitnya tugas yang ada di depan, tetapi kami memahami betapa pentingnya langkah ini,” ungkapnya.
Rubio menambahkan kesepakatan itu bertujuan membangun landasan perdamaian, memulihkan kedaulatan Lebanon, melucuti senjata Hezbollah, membongkar infrastrukturnya, serta memungkinkan Israel kembali ke perbatasannya setelah ancaman terhadap warganya dihilangkan.
Israel Sebut Jalan Menuju Perdamaian Terbuka
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter menyebut kesepakatan tersebut sebagai kemenangan bagi pendekatan perdamaian melalui kekuatan.
“Dalam kesepakatan kerangka trilateral berbasis kinerja ini, Iran keluar, Hizbullah keluar, dan jalan menuju perdamaian antara Israel dan Lebanon terbuka,” ujarnya.
Ia menambahkan tujuan akhir dari kesepakatan tersebut adalah terciptanya perdamaian yang menghormati dan melindungi kedaulatan kedua negara.
Hingga kini Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, termasuk kawasan yang telah dikuasai selama puluhan tahun maupun wilayah yang direbut dalam perang 2023–2024.
Menurut data resmi pemerintah Lebanon, sejak 2 Maret 2026 ofensif Israel telah menewaskan lebih dari 4.000 orang, melukai lebih dari 12.000 orang, serta menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi.
- Penulis :
- Aditya Yohan





