HOME  ⁄  Geopolitik

Beijing Nyatakan Tidak Puas atas Hasil Investigasi Penyusupan ke Kedutaan Besar China di Tokyo

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Beijing Nyatakan Tidak Puas atas Hasil Investigasi Penyusupan ke Kedutaan Besar China di Tokyo
Foto: (Sumber :Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (28/7/2026). ANTARA/Desca Lidya Natalia..)

Pantau - Kementerian Luar Negeri China menyatakan ketidakpuasan terhadap hasil investigasi Jepang terkait kasus penyusupan seorang anggota Pasukan Bela Diri Jepang ke Kedutaan Besar China di Tokyo pada Maret 2026 karena dinilai memperlambat penegakan keadilan.

China Soroti Penanganan Kasus oleh Jepang

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan penyelidikan kasus tersebut berlarut-larut dengan alasan evaluasi psikiatrik dan berbagai alasan lainnya.

Ia mengatakan, "Sudah empat bulan sejak Kodai Murata, seorang perwira aktif Pasukan Bela Diri Jepang, memasuki kedutaan besar China di Jepang secara ilegal dengan pisau. Meskipun kami telah melakukan protes keras, Jepang berulang kali memperpanjang penyelidikan dan penanganan kasus dengan dalih 'evaluasi psikiatrik' atau alasan lain, dan menunda keadilan."

Seorang pria diketahui menerobos kompleks Kedutaan Besar China di Distrik Minato, Tokyo, pada 24 Maret 2026 dan langsung ditangkap oleh staf kedutaan.

Petugas juga menemukan sebilah pisau di lokasi kejadian, namun tidak ada korban luka dari pihak kedutaan maupun masyarakat.

Beijing Singgung Ketegangan Hubungan China-Jepang

Lin Jian menyatakan China menyesalkan insiden tersebut karena dinilai menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang mengancam keamanan misi diplomatik China di Jepang.

Ia mengatakan, "China sangat menyesalkan hal ini. Selama beberapa waktu, sejumlah insiden tercela yang mengancam keamanan misi diplomatik China di Jepang terus terjadi. Banyak pihak menyoroti masalah-masalah mendasar di Jepang yang terungkap melalui serangkaian tren berbahaya."

Menurut Lin Jian, mengabaikan atau mengecilkan kasus tersebut berpotensi mendorong terulangnya insiden serupa dan menimbulkan dampak bagi Jepang maupun kawasan.

Hubungan China dan Jepang masih diwarnai ketegangan sejak pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 7 November 2025 mengenai potensi ancaman penggunaan kekuatan militer China terhadap Taiwan terhadap keamanan Jepang.

Penulis :
Aditya Yohan