
Pantau - Hamas menyatakan tidak akan melakukan pelucutan senjata sebelum pasukan Israel mundur dari Jalur Gaza, menyusul pembahasan mengenai kesepakatan gencatan senjata dan rekonstruksi wilayah tersebut.
Hamas Kaitkan Pelucutan Senjata dengan Penarikan Pasukan
Anggota delegasi negosiasi Hamas, Ghazi Hamad, mengatakan isu pelucutan senjata berkaitan langsung dengan penarikan pasukan Israel dari Gaza dan proses rekonstruksi wilayah itu.
Dalam pernyataannya kepada saluran Al Jazeera yang berbasis di Qatar, Hamad menyebut Israel tidak akan memiliki peran dalam proses pelucutan senjata karena proses tersebut akan dilakukan oleh sebuah badan nasional Palestina.
Hamad menegaskan Hamas tidak akan mengambil langkah pelucutan senjata apa pun sebelum Israel memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai.
Dia menggambarkan proses perundingan itu "sulit dan berat."
Menurut Hamad, Hamas tetap berupaya memperoleh hasil terbaik dengan berkomitmen melindungi hak-hak rakyat Palestina.
Hamad juga menyampaikan terima kasih kepada Mesir, Qatar, dan Turki atas upaya mediasi dalam membantu tercapainya kesepakatan.
Pernyataan Muncul Setelah Pengumuman Trump
Pernyataan Hamad disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan telah tercapai kesepakatan mengenai pelucutan senjata secara menyeluruh terhadap Hamas dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya di Gaza.
Menurut Trump, penarikan pasukan Israel akan dilakukan secara bertahap dengan dukungan Pasukan Stabilisasi Internasional yang bekerja bersama kepolisian Palestina yang baru untuk mengambil alih tanggung jawab keamanan di Gaza.
Trump juga memuji peran Mesir, Qatar, dan Turki dalam membantu tercapainya apa yang ia sebut sebagai "terobosan bersejarah".
Menurut laporan Anadolu, perang di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 lainnya, sementara sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut dilaporkan mengalami kerusakan.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan di Gaza masih terus berlangsung dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan tambahan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



