
Pantau - Sejumlah imigran yang tiba di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, mengeklaim otoritas Maroko membantu mereka menyeberangi perbatasan di tengah krisis migrasi yang melanda kawasan tersebut.
Laporan The New York Times menyebut beberapa imigran mengaku mendapat kemudahan dari aparat Maroko saat menuju perbatasan Ceuta, meski sebelumnya media Cadena SER melaporkan polisi Maroko menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang hendak menyeberang.
Imigran Sampaikan Pengakuan
Ajoub El-Arrot mengaku perbatasan dibuka sehingga para imigran dapat melintas menuju Ceuta.
"Mereka membuka perbatasan dan membolehkan semuanya lewat begitu saja," ungkap Ajoub El-Arrot.
Imigran lain, Youssef Alaoui, mengatakan personel kepolisian Maroko diduga menunjukkan arah menuju Ceuta.
"Pergi ke sana, pergi ke sana," ujarnya mengutip perkataan yang diduga disampaikan aparat Maroko.
Sementara itu, Mohammed Ahmidho mengaku mengetahui adanya gelombang penyeberangan dari media sosial.
Ia juga mengatakan petugas penegak hukum Maroko diduga menyuruhnya menuju wilayah Spanyol.
"Datang ke Spanyol," ungkap Ahmidho menirukan ucapan yang menurutnya disampaikan aparat.
Namun, Ahmidho memutuskan kembali ke Maroko setelah tidak memperoleh makanan, air, maupun tempat tinggal di Ceuta.
Ribuan Imigran Padati Ceuta
Pada Kamis, ribuan pemuda Maroko berkumpul di perbatasan menuju Ceuta dan ratusan di antaranya berhasil memasuki wilayah Spanyol tersebut.
Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas pada Jumat menyatakan sekitar 60.000 orang memasuki Ceuta dari Maroko hanya dalam satu hari.
Laporan media juga menyebut sedikitnya 57 imigran meninggal dunia saat berupaya memasuki Ceuta, sementara sekitar 48.300 orang telah kembali ke Maroko.
- Penulis :
- Aditya Yohan



