
Pantau - Indonesia dan Iran sepakat memperluas kerja sama sains dan akademis di bidang teknologi baru, penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga ketahanan pangan.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Brian Yuliarto dengan Wakil Menteri Sains, Riset, dan Teknologi Iran Masoud Shams-Bakhsh di sela Pertemuan ke-13 Menteri Pendidikan BRICS di Bhubaneswar, India, Sabtu (8/8/2026).
Shams-Bakhsh menilai hubungan kebudayaan, sejarah, dan agama yang telah terjalin lama antara Iran dan Indonesia menjadi fondasi untuk memperdalam kerja sama pendidikan dan riset.
Kerja sama tersebut juga diarahkan pada bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau STEM.
Indonesia Siap Tingkatkan Penelitian Bersama
Brian menyampaikan kesiapan Indonesia meningkatkan proyek penelitian bersama dengan Iran serta memperluas pertukaran mahasiswa dan pengajar pascasarjana.
Indonesia dan Iran juga membuka peluang belajar serta penyelenggaraan program akademik jangka pendek.
Brian turut mengundang Shams-Bakhsh bersama delegasi tingkat tinggi Iran untuk berkunjung ke Jakarta sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua negara.
Kedua pihak selanjutnya membahas peluang kerja sama melalui beasiswa, kursus pendidikan, dan penelitian bersama.
Ketahanan Pangan hingga Energi Terbarukan Dibahas
Indonesia dan Iran membahas sejumlah sektor yang dapat menjadi fokus penelitian bersama, antara lain perubahan iklim, ketahanan pangan, energi terbarukan, dan pertanian.
Kedua negara turut membahas peluang memperluas partisipasi perguruan tinggi Iran dalam jaringan universitas BRICS.
Indonesia dan Iran sepakat mendorong tercapainya kesepakatan kerja sama sekaligus mengimplementasikan berbagai inisiatif yang telah diusulkan secepat mungkin.
- Penulis :
- Gerry Eka
- Editor :
- Tria Dianti



