HOME  ⁄  Geopolitik

Pakistan dan Iran Mendorong Perundingan dengan AS Kembali Berjalan untuk Mengakhiri Perang

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pakistan dan Iran Mendorong Perundingan dengan AS Kembali Berjalan untuk Mengakhiri Perang
Foto: Arsip foto - Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Besar, Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Pantau - Pakistan dan Iran membahas upaya menghidupkan kembali perundingan langsung dengan Amerika Serikat (AS) yang terhenti di tengah dorongan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Pembahasan tersebut berlangsung melalui percakapan telepon antara Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Besar Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Kedua pejabat membicarakan situasi regional serta langkah yang dapat ditempuh untuk memperkuat perdamaian dan keamanan di Asia Barat.

Dalam percakapan itu, Munir dan Araghchi membahas "perkembangan regional serta cara-cara efektif untuk memperkuat perdamaian, stabilitas, dan keamanan di Asia Barat," demikian keterangan pemerintah Iran melalui unggahan di X.

Pakistan dan Qatar Mendorong Mediasi Baru

Kontak Munir dan Araghchi berlangsung ketika Pakistan dan Qatar kembali mendorong kedua pihak yang bertikai untuk melanjutkan perundingan setelah batas waktu 60 hari bagi tercapainya kesepakatan final berakhir.

Pakistan selama ini berperan sebagai salah satu mediator utama antara Iran dan AS serta terus menjalin komunikasi dengan kedua negara.

Sumber pemerintah Pakistan kepada Anadolu menyebut Munir diperkirakan mengunjungi Teheran "dalam beberapa hari mendatang" sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali perundingan langsung.

Namun, pemerintah dan Angkatan Darat Pakistan belum mengumumkan secara resmi rencana kunjungan Munir tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran juga belum memberikan perincian lebih lanjut mengenai hasil pembicaraan terbaru dengan Pakistan.

Perselisihan Selat Hormuz Menghambat Perundingan

AS dan Iran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni 2026 dan memulai perundingan untuk mencapai kesepakatan final.

Perundingan kemudian terhenti akibat perbedaan pendapat mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur strategis bagi pasokan energi serta perdagangan dunia.

Ketegangan kembali meningkat pada 8 hingga 24 Juli ketika AS dan Iran saling melancarkan serangan militer.

Washington menyerang sejumlah sasaran di Iran, sedangkan Teheran membalas dengan menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Penulis :
Gerry Eka