HOME  ⁄  Geopolitik

Indonesia-China Perkuat Kerja Sama AI dan Maritim lewat Dialog Strategis Komprehensif Pertama

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Indonesia-China Perkuat Kerja Sama AI dan Maritim lewat Dialog Strategis Komprehensif Pertama
Foto: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin 24/8/2026 (sumber: ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Pantau - Indonesia dan China akan memperkuat kerja sama di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan maritim setelah kedua negara menggelar Dialog Strategis Komprehensif atau Comprehensive Strategic Dialogue (CSD) pertama di Jakarta pada 21 Agustus 2026.

Pertemuan yang dihadiri Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi tersebut menghasilkan kesepakatan untuk memperdalam penyelarasan strategi pembangunan kedua negara sekaligus memulai penyusunan Rencana Aksi Indonesia-China periode 2027–2031.

Rencana tersebut akan menjadi kelanjutan Rencana Aksi Indonesia-China periode 2022–2026 dan diarahkan untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor strategis.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyatakan CSD akan menjadi dukungan kelembagaan baru bagi pengembangan hubungan bilateral Indonesia-China.

"Mekanisme ini akan memberikan dukungan kelembagaan bagi hubungan China-Indonesia di era baru. Kedua pihak akan memperdalam kerja sama di bidang kekuatan produktif berkualitas baru seperti kecerdasan buatan (AI), serta mempercepat kerja sama maritim," ungkap Lin Jian.

AI, Energi, dan Pertambangan Jadi Fokus Kerja Sama

Kerja sama dalam kekuatan produktif berkualitas baru, khususnya AI, akan diperluas secara kuat seiring upaya kedua negara mendorong pembangunan dan perdagangan yang seimbang serta berkelanjutan.

Salah satu penerapan konkret yang dibahas adalah teknologi sistem peringatan dini meteorologi berbasis AI dari China yang telah mulai diuji coba di Indonesia untuk membantu menghadapi kondisi iklim ekstrem.

Indonesia dan China juga memandang pendalaman kerja sama energi dan pertambangan sebagai langkah yang sesuai dengan kepentingan bersama.

"Kedua negara berpandangan bahwa pendalaman kerja sama di bidang energi dan pertambangan sesuai dengan kepentingan kedua negara, dan menyatakan kesiapan untuk membentuk kemitraan yang komprehensif, terbuka, dan lebih peduli lingkungan," ungkap Lin Jian.

China menyatakan kesediaannya membantu Indonesia mengubah keunggulan sumber daya alam menjadi kekuatan pendorong pembangunan sekaligus mempercepat proses industrialisasi agar memberikan manfaat kepada masyarakat.

Kedua negara juga sepakat membangun kemitraan sumber daya energi dan mineral yang menyeluruh, terbuka, dan hijau.

Kerja sama teknologi di sektor pangan dan pertanian akan diperdalam, termasuk melalui pertukaran pengalaman mengenai pengurangan dan pengentasan kemiskinan serta penguatan ketahanan pangan.

Kerja sama bilateral turut mencakup bidang kesehatan, kebudayaan, pendidikan, kepemudaan, dan hubungan antardaerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua negara.

Menurut Lin Jian, pihak Indonesia dalam CSD juga memberikan penilaian positif terhadap kontribusi perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di Indonesia.

"Terlebih dalam pertemuan tersebut, pihak Indonesia memberi penilaian positif terhadap kontribusi perusahaan-perusahaan China di Indonesia dan menegaskan bahwa 'Keberhasilan perusahaan China di Indonesia merupakan keberhasilan Indonesia juga," ungkap Lin Jian.

Indonesia juga disebut bersedia menyediakan lingkungan usaha yang adil, transparan, dan bersahabat bagi kegiatan bisnis.

Whoosh dan BRI Terus Didorong

Hubungan ekonomi Indonesia-China selama ini juga berkembang melalui keterlibatan Indonesia dalam Belt and Road Initiative (BRI), dengan Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh menjadi salah satu proyek utamanya.

China menilai Whoosh terus beroperasi secara aman dan lancar sejak mulai melayani masyarakat serta telah membantu memperbaiki kondisi transportasi.

"Selain itu, sejak Kereta Cepat Jakarta-Bandung mulai beroperasi, layanan kereta tersebut terus berjalan dengan aman dan lancar. Kereta cepat tersebut telah secara efektif memperbaiki kondisi transportasi serta memberikan kemudahan bagi mobilitas masyarakat setempat," ungkap Lin Jian.

China menyatakan siap memanfaatkan mekanisme CSD untuk terus mendorong kerja sama BRI berkualitas tinggi dengan Indonesia sehingga menghasilkan lebih banyak capaian konkret dan mendukung modernisasi kedua negara.

Sebelum pembentukan CSD, Indonesia dan China telah memiliki mekanisme High-Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) yang sebelumnya dipimpin Wang Yi dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

CSD sendiri merupakan mekanisme bilateral baru pada tingkat menteri luar negeri yang dibentuk ketika Sugiono berkunjung ke Beijing pada April 2025.

CSD kedua dijadwalkan berlangsung di China pada 2027.

Indonesia-China Perkuat Keamanan dan Stabilitas Laut China Selatan

Dalam bidang politik dan keamanan, Indonesia dan China menyatakan sama-sama menentang campur tangan eksternal terhadap urusan dalam negeri masing-masing serta akan meningkatkan kerja sama politik, keamanan, dan pertahanan.

"Kedua negara juga sama-sama menentang campur tangan eksternal atas urusan dalam negeri masing-masing negara serta meningkatkan kerja sama di bidang politik, keamanan, dan pertahanan serta sepakat untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan," ungkap Lin Jian.

Dalam isu Laut China Selatan, kedua negara berkomitmen melaksanakan secara menyeluruh dan efektif Deklarasi Perilaku Para Pihak atau DOC serta mengupayakan tercapainya Kode Etik di Laut China Selatan sesegera mungkin.

Indonesia dan China juga ingin membangun narasi mengenai Laut China Selatan yang damai, bersahabat, dan kooperatif.

China memandang Indonesia dan China sebagai sesama negara berkembang sekaligus anggota penting Global South yang perlu memperdalam koordinasi strategis, solidaritas, dan kerja sama.

Selain CSD, kedua negara menggelar Pertemuan ke-2 Mekanisme Dialog 2+2 yang melibatkan menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan China Laksamana Dong Jun.

Indonesia dan China dalam mekanisme itu sepakat memperkuat kerja sama penegakan hukum dan keamanan untuk memberantas kejahatan lintas negara, termasuk pengejaran buronan dan pemulihan aset hasil kejahatan.

Kedua negara juga mendukung kerja sama internasional dalam pemberantasan penipuan telekomunikasi dan daring serta akan melaksanakan dokumen kerja sama keamanan maritim untuk menjaga keamanan dan kelancaran jalur pelayaran utama.

Mekanisme Dialog 2+2 berfokus pada Lima Pilar, yakni ekonomi, hubungan antarmasyarakat, maritim, politik, dan keamanan.

Pertemuan Dialog 2+2 pertama berlangsung di Beijing pada April 2025 sebagai kelanjutan dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden China Xi Jinping pada November 2024.

Penulis :
Shila Glorya