
Pantau - Pemerintah China membantah melakukan penyensoran terhadap video kondisi banjir bandang dan longsoran lumpur di Pelabuhan Gyirong, Daerah Otonom Xizang, yang berbatasan dengan Nepal, setelah bencana tersebut menewaskan sedikitnya 951 orang dan membuat hampir 4.800 orang dilaporkan hilang.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyatakan operasi pencarian, penyelamatan, dan penyaluran bantuan masih berlangsung di wilayah terdampak.
"Operasi pencarian, penyelamatan, dan bantuan intensif masih berlangsung secara tertib di daerah yang terkena bencana. China telah terbuka, transparan, dan tepat waktu dalam merilis informasi sehingga fitnah dan disinformasi sangat tidak diperlukan dan diinginkan pada saat penanggulangan bencana," kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin (31/8/2026).
China Kirim Bantuan dan Tim Penyelamat ke Nepal
Menteri Luar Negeri China Wang Yi sebelumnya berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal pada Sabtu (29/8/2026) untuk membahas penanganan bencana.
"Pemerintah China telah memberikan bantuan tunai darurat dan bantuan kemanusiaan kepada Nepal. Gelombang pertama bantuan sebanyak 50 ton telah tiba di Kathmandu," tambah Guo Jiakun.
China juga mengirim dua tim penyelamat yang terdiri atas para ahli penyelamatan terowongan ke sejumlah daerah terdampak di Nepal.
"Kami juga telah berbagi informasi penting dengan pihak Nepal seperti citra satelit dan data hidrologi daerah yang terkena bencana, termasuk informasi peringatan dini tentang danau penghalang di hulu," tambah Guo Jiakun.
China turut membantu warga Nepal yang terjebak untuk kembali ke negaranya serta mengevakuasi warga China di wilayah terdampak yang berhasil dihubungi.
"Hingga kemarin siang, semua warga negara China di daerah yang terkena bencana di Nepal yang telah berhasil dihubungi kembali telah dipindahkan ke lokasi yang aman dengan selamat. Saat ini, kami sedang melakukan segala upaya untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang baik di dalam negeri maupun di luar negeri," ungkap Guo Jiakun.
China Bantah Proyek Infrastruktur Picu Bencana
Guo Jiakun juga membantah dugaan bahwa banjir dan tanah longsor tersebut disebabkan proyek konstruksi besar pembangkit listrik tenaga air maupun pembangunan infrastruktur China.
"Para ahli dan lembaga resmi China dan Nepal telah membuat beberapa analisis penyebab bencana, menurut mereka, tanah longsor dipicu oleh runtuhnya gletser dataran tinggi di Nepal dan dalam menghadapi bencana tragis seperti ini, kami menolak spekulasi jahat yang tidak memiliki dasar faktual," tegas Guo Jiakun.
Menurut Guo, China dan Nepal terus berkoordinasi dalam pencarian dan penyelamatan, pertukaran informasi, serta pencegahan bencana lanjutan.
"Kami telah memberikan data meteorologi dan hidrologi kepada Nepal, melakukan konsultasi bersama para ahli, dan berbagi informasi peringatan dini. China akan terus memberikan dukungan kuat kepada Nepal dalam upaya bantuan dan memperkuat kerja sama dengan Nepal dalam pencegahan dan pengendalian bencana untuk kepentingan bersama kedua bangsa," kata dia.
Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Mitigasi Bencana Nepal mencatat 903 korban meninggal di Nepal dan 4.247 orang masih hilang, termasuk 590 warga asing dari 39 negara.
Di wilayah China, sebanyak 16 orang dikonfirmasi meninggal dan 546 orang masih hilang di Kabupaten Gyirong, termasuk 261 warga negara asing.
Lebih dari 10.000 orang, termasuk lebih dari 323 warga asing, dilaporkan berhasil diselamatkan setelah bencana, sementara China mengerahkan lebih dari 2.100 personel bersama ratusan kendaraan dan ribuan peralatan penyelamatan.
Bencana terjadi pada Rabu (26/8/2026) ketika gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, retak pada ketinggian sekitar 5.200 meter dan memicu longsoran es serta bebatuan yang berkembang menjadi aliran puing besar menuju kawasan perbatasan Nepal-China.
- Penulis :
- Aditya Yohan




