
Pantau - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth bertekad "menuntaskan perang ini" melawan Iran dan memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir di tengah konflik yang telah berlangsung selama enam bulan.
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam upacara peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001 di Pentagon, Jumat (11/9/2026), bersama Presiden AS Donald Trump dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
"Masih ada musuh yang membenci kita," kata Hegseth seraya menyebut Washington tetap "waspada" terhadap ancaman yang dihadapi AS.
Hegseth kemudian menyinggung Iran dan mengatakan AS telah "meluluhlantakkan" pihak yang dia sebut sebagai "sponsor negara untuk terorisme paling produktif di dunia" selama enam bulan terakhir.
"Namun, mereka tidak memperhitungkan presiden ini," kata Hegseth merujuk kepada Trump.
Hegseth Klaim AS Hancurkan Kekuatan Militer Iran
Hegseth mengatakan pasukan AS telah menewaskan para pemimpin Iran, menghancurkan angkatan udara dan angkatan laut negara tersebut, serta melumpuhkan pertahanan udaranya.
"Kami terus mengirim para teroris ke tempat yang semestinya bagi mereka, neraka, dan kapal-kapal tanker ke dasar laut, tempat yang memang menjadi tujuan mereka," kata Hegseth.
Ia menambahkan Washington berupaya memastikan Iran "tidak akan pernah memiliki senjata nuklir" sembari terus memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran.
"Kami menguasai Selat itu," ujar Hegseth merujuk pada Selat Hormuz.
"Kami akan menuntaskan perang ini," katanya.
Trump Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Trump dalam kesempatan yang sama memberikan penghormatan kepada pasukan AS yang bertugas dalam "perang melawan teror" serta petugas tanggap darurat dan aparat penegak hukum.
"Kami memberikan penghormatan kepada para anggota militer yang saat ini sedang bekerja untuk memastikan bahwa sponsor teror nomor satu di dunia, Republik Islam Iran, tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Trump.
"Tanggal 11 September mengingatkan kita akan kekuatan kebencian yang mengerikan," kata Trump seraya menyebut 25 tahun sejak serangan tersebut telah menunjukkan "kekuatan semangat Amerika yang jauh lebih besar untuk bertahan, bangkit, dan meraih kemenangan."
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
