
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa kekerasan bersenjata, meningkatnya pengungsian, kelaparan, dan dampak fenomena El Nino semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang dihadapi warga sipil di Sudan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN OCHA) melaporkan serangan pesawat nirawak atau drone di Ed Damazine, ibu kota Negara Bagian Nil Biru, menewaskan empat orang pada Rabu (7/10/2026).
Informasi tersebut disampaikan berdasarkan laporan sumber-sumber lokal yang diterima UN OCHA dan diumumkan pada Kamis (8/10/2026).
Selain menghadapi ancaman kekerasan, ribuan warga Sudan terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari perlindungan di wilayah yang lebih aman.
Serangan Drone dan Kekerasan Picu Pengungsian Ribuan Warga Sudan
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan lebih dari 1.200 orang mengungsi dari sejumlah desa di wilayah Wad Al Mahi, Negara Bagian Nil Biru, pada Selasa (6/10/2026).
Gelombang pengungsian tersebut menambah jumlah warga yang sebelumnya telah meninggalkan rumah akibat situasi keamanan.
Sejak akhir September 2026, lebih dari 12.400 orang dilaporkan mengungsi di wilayah tersebut.
UN OCHA menyatakan para pekerja kemanusiaan terus meningkatkan operasi bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak di Negara Bagian Nil Biru.
Peningkatan bantuan dilakukan seiring bertambahnya kebutuhan tempat tinggal sementara, fasilitas sanitasi, dan layanan kesehatan bagi para pengungsi.
PBB Bangun 150 Jamban Darurat dan Salurkan Obat ke 50 Fasilitas Kesehatan
Sejak awal September 2026, salah satu mitra kemanusiaan PBB telah membangun 150 jamban darurat di lokasi pengungsian Al Karama.
Organisasi tersebut juga mendistribusikan perlengkapan kebersihan pribadi kepada lebih dari 4.000 orang yang berada di lokasi pengungsian.
Penyediaan fasilitas sanitasi dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang kehilangan akses terhadap fasilitas kebersihan.
Selain itu, mitra kemanusiaan lainnya menyalurkan obat-obatan penting ke 50 fasilitas kesehatan di wilayah Ed Damazine dan Baw selama sepekan terakhir.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga akses layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak konflik.
Lebih dari 22 Ribu Warga Darfur Timur Membutuhkan Bantuan Mendesak
Krisis kemanusiaan juga terjadi di Negara Bagian Darfur Timur, tempat puluhan ribu warga menghadapi kebutuhan bantuan yang mendesak.
UN OCHA menyebut lebih dari 22.000 orang membutuhkan bantuan kemanusiaan di desa Um Abariq, Um Ghubaisah, dan Um Eid.
Jumlah tersebut mencakup pengungsi serta warga yang terpaksa berpindah tempat tinggal di dalam wilayah Sudan.
Para mitra kemanusiaan melaporkan bahwa kebutuhan masyarakat semakin berat akibat terbatasnya akses terhadap pangan, layanan kesehatan, dan fasilitas dasar.
Kelangkaan obat-obatan juga menjadi salah satu persoalan yang ditemukan dalam penilaian kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Gangguan terhadap kegiatan pendidikan turut menimbulkan kekhawatiran mengenai keselamatan dan kesejahteraan anak-anak.
El Nino Perburuk Produksi Pertanian dan Ancaman Kelaparan
Selain konflik bersenjata, Sudan menghadapi tekanan terhadap ketahanan pangan akibat perubahan kondisi iklim.
Mitra kemanusiaan UN OCHA melaporkan curah hujan musiman yang tidak memadai akibat fenomena El Nino telah menurunkan produksi pertanian.
Berdasarkan laporan tersebut, kurang dari seperempat lahan pertanian menghasilkan panen.
Rendahnya hasil pertanian memperburuk kondisi masyarakat yang telah menghadapi keterbatasan akses pangan akibat kekerasan dan pengungsian.
Situasi tersebut menambah tekanan terhadap kebutuhan bantuan kemanusiaan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang bergantung pada hasil pertanian.
Dana Bantuan Sudan Baru Terpenuhi 43 Persen dari Kebutuhan
UN OCHA menyerukan perlindungan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di tengah berlanjutnya kekerasan di Sudan.
Lembaga tersebut juga meminta tambahan pendanaan internasional agar PBB dan mitra kemanusiaannya dapat memperluas bantuan penyelamatan jiwa.
Rencana respons kemanusiaan untuk Sudan pada 2026 membutuhkan dana sebesar 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp53,67 triliun berdasarkan kurs Rp17.890 per dolar AS.
Namun, hingga kurang dari tiga bulan menjelang akhir 2026, pendanaan yang terkumpul baru mencapai 43 persen dari kebutuhan.
Dengan demikian, masih terdapat kekurangan pendanaan sebesar 57 persen untuk memenuhi keseluruhan rencana respons kemanusiaan tersebut.
PBB menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan dukungan pendanaan tambahan untuk membantu masyarakat Sudan yang terdampak konflik, pengungsian, kelaparan, serta guncangan iklim.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




