
Pantau - Kedutaan Besar Jepang di Vatikan menggelar acara diplomasi kuliner dengan menyajikan hidangan belut tradisional Jepang kepada sejumlah duta besar dari berbagai negara, Kamis (8/10/2026), di tengah kontroversi mengenai usulan pembatasan perdagangan internasional spesies belut yang terancam punah.
Acara tersebut bertujuan memperkenalkan teknik memasak belut khas Jepang sekaligus menyampaikan pandangan pemerintah Jepang terkait regulasi perdagangan internasional komoditas tersebut.
Duta Besar Jepang untuk Vatikan, Koji Abe, menyatakan bahwa belut di negaranya tidak sedang menghadapi risiko kepunahan.
Dalam kesempatan itu, Abe juga menjelaskan alasan pemerintah Jepang menolak usulan regulasi perdagangan internasional terhadap seluruh spesies belut.
Perdebatan tersebut muncul setelah Uni Eropa dan Panama mengajukan usulan pengaturan perdagangan belut melalui mekanisme perlindungan satwa liar internasional.
Jepang Perkenalkan Belut Kabayaki kepada Diplomat Asing
Dalam acara tersebut, Kedutaan Besar Jepang menghadirkan Jin Ogata, pemilik sekaligus koki generasi keempat dari sebuah restoran khusus belut di Kitakyushu, Jepang.
Ogata memperagakan pembuatan Kabayaki, yakni hidangan belut bakar khas Jepang yang dimasak menggunakan saus bercita rasa manis dan gurih.
Hidangan tersebut menjadi salah satu sajian utama yang diperkenalkan kepada para diplomat asing yang menghadiri acara tersebut.
Selain Kabayaki, penyelenggara juga menyajikan belut yang dibumbui menggunakan anggur, saus ikan, dan madu.
Hidangan dengan perpaduan bumbu tersebut diyakini telah dikenal dan dinikmati masyarakat Romawi kuno.
Penyajian kedua jenis masakan itu memperlihatkan perbedaan tradisi pengolahan belut dalam budaya kuliner Jepang dan Eropa.
Duta Besar Hungaria untuk Vatikan, Peter Kveck, mengaku baru pertama kali mencicipi hidangan belut Kabayaki dalam acara tersebut.
Kveck menilai metode memasak belut khas Jepang itu sangat baik dan sehat.
Jepang Tolak Usulan Regulasi Perdagangan Seluruh Spesies Belut
Acara diplomasi kuliner tersebut berlangsung di tengah perdebatan internasional mengenai perlindungan spesies belut yang menghadapi ancaman kepunahan.
Pada Desember 2025, Uni Eropa bersama Panama mengusulkan pengaturan perdagangan terhadap seluruh spesies belut melalui konferensi para pihak Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah atau CITES.
Perjanjian internasional tersebut juga dikenal sebagai Konvensi Washington yang mengatur perdagangan spesies tumbuhan dan satwa liar guna memastikan aktivitas perdagangan tidak mengancam kelangsungan hidupnya.
Usulan Uni Eropa dan Panama bertujuan memasukkan seluruh spesies belut ke dalam cakupan pengaturan perdagangan internasional.
Namun, usulan tersebut tidak berhasil memperoleh persetujuan setelah mendapat penolakan dari Jepang.
Pemerintah Jepang mempertahankan pandangannya bahwa populasi belut di negaranya tidak berada dalam kondisi yang memerlukan pengaturan sebagaimana diusulkan.
Duta Besar Koji Abe kembali menyampaikan posisi tersebut ketika memperkenalkan hidangan belut kepada para diplomat di Vatikan.
Diplomasi Kuliner Jepang Berlangsung di Tengah Perdebatan Konservasi
Penyelenggaraan acara kuliner di Vatikan menjadi kesempatan bagi Jepang untuk memperkenalkan tradisi konsumsi belut sekaligus menjelaskan sikap negaranya dalam perdebatan regulasi perdagangan internasional.
Belut merupakan salah satu bahan pangan yang digunakan dalam berbagai hidangan tradisional Jepang, termasuk Kabayaki yang disajikan dengan saus khas.
Di sisi lain, usulan pengaturan perdagangan seluruh spesies belut menunjukkan adanya perhatian internasional terhadap perlindungan dan keberlanjutan populasi satwa tersebut.
Perbedaan pandangan antara Jepang dan negara-negara pengusul menjadi bagian dari pembahasan mengenai keseimbangan antara aktivitas perdagangan dan perlindungan spesies.
Melalui acara yang dihadiri para diplomat asing tersebut, Jepang memperkenalkan teknik pengolahan belut sekaligus menegaskan kembali penolakannya terhadap usulan regulasi perdagangan internasional yang mencakup seluruh spesies belut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




