
Pantau - Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran dengan menetapkan pembatasan kepada 16 individu dan 11 perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan negara tersebut di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran.
Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan kebijakan sanksi terbaru tersebut pada Kamis (15/10/2026), sebagaimana dilaporkan dari Washington.
Seluruh 16 individu yang menjadi sasaran sanksi merupakan warga negara Iran, sedangkan 11 perusahaan yang masuk daftar pembatasan tercatat beroperasi atau terdaftar di Iran, Irak, China, dan Kuba.
Langkah tersebut menjadi bagian dari kebijakan tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran yang kembali diperkuat pemerintahan Presiden Donald Trump.
AS Perluas Sanksi Ekonomi terhadap Iran dan Perusahaan di Empat Negara
Departemen Keuangan AS menetapkan sanksi terhadap sejumlah individu dan perusahaan yang dinilai memiliki keterkaitan dengan Iran.
Sebanyak 16 warga negara Iran masuk dalam daftar sanksi terbaru, bersama 11 perusahaan yang tercatat di empat negara berbeda.
Perusahaan-perusahaan tersebut berada di Iran, Irak, China, dan Kuba, sehingga cakupan kebijakan pembatasan tidak hanya menyasar pihak yang berada di wilayah Iran.
Pengumuman ini merupakan kelanjutan dari kampanye tekanan ekonomi yang sebelumnya diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 20 Agustus 2026.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah AS berupaya meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan membatasi hubungan ekonomi yang melibatkan negara tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyampaikan bahwa Trump telah menghubungi sejumlah pemimpin dunia untuk meminta penghentian segala bentuk interaksi dengan Iran.
Permintaan tersebut menunjukkan upaya Washington untuk memperluas tekanan ekonomi melalui keterlibatan negara-negara lain.
Meski demikian, pengumuman yang tersedia belum memerinci identitas seluruh individu dan perusahaan yang terkena sanksi maupun bentuk pembatasan khusus yang diberlakukan terhadap masing-masing pihak.
Ketegangan AS dan Iran Berlanjut setelah Serangan Militer
Penerapan sanksi terbaru berlangsung ketika hubungan Amerika Serikat dan Iran masih diwarnai ketegangan akibat konflik militer yang belum terselesaikan.
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Iran.
Serangan tersebut kemudian mendapat balasan dari Iran yang melancarkan operasi serangan terhadap pihak lawan.
Rangkaian serangan itu meningkatkan ketegangan antara kedua pihak dan memperburuk hubungan Washington dengan Teheran.
Pada pertengahan Juni 2026, Iran dan Amerika Serikat sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan.
Namun, kesepakatan tersebut tidak mampu menghentikan konflik secara berkelanjutan karena kedua pihak kembali saling melancarkan serangan tidak lama setelah penandatanganan.
Hingga Oktober 2026, konflik antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan masih belum mencapai penyelesaian.
Pemerintahan Trump Lanjutkan Tekanan terhadap Teheran
Pemerintahan Presiden Donald Trump terus menggunakan kebijakan ekonomi sebagai salah satu instrumen tekanan terhadap Iran di tengah konflik yang berlangsung.
Pengumuman sanksi pada 15 Oktober 2026 memperluas daftar pihak yang menjadi sasaran pembatasan Amerika Serikat.
Kebijakan tersebut juga melibatkan perusahaan yang tercatat di luar Iran, termasuk Irak, China, dan Kuba.
Sementara itu, belum ada informasi lebih lanjut dalam pengumuman tersebut mengenai tanggapan resmi pemerintah Iran terhadap penerapan sanksi terbaru.
Dengan konflik yang masih berlangsung dan hubungan diplomatik yang belum membaik, kebijakan sanksi ekonomi AS menjadi bagian dari perkembangan ketegangan antara Washington dan Teheran.
- Penulis :
- Aditya Yohan




