
Pantau - Sebanyak 156 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat aksi demonstrasi mahasiswa yang berujung kerusuhan di Tirana, ibu kota Albania, sejak Selasa (13/10/2026), termasuk 97 personel kepolisian.
Menteri Dalam Negeri Albania Ervin Demo mengungkapkan jumlah korban tersebut pada Jumat (16/10/2026), setelah bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan berlangsung selama beberapa hari.
Aksi unjuk rasa dipicu oleh protes mahasiswa terhadap tingginya biaya pendidikan, buruknya kondisi belajar, serta terbatasnya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi lulusan.
Selain menyampaikan tuntutan terkait pendidikan dan ketenagakerjaan, para demonstran juga mendesak Perdana Menteri Albania Edi Rama mengundurkan diri dari jabatannya.
Kerusuhan terjadi setelah sebagian demonstran melemparkan batu, kembang api, dan bom molotov ke arah polisi serta sejumlah gedung pemerintah.
Sebanyak 97 Polisi Terluka dalam Kerusuhan di Tirana
Menteri Dalam Negeri Ervin Demo menyampaikan bahwa kerusuhan yang terjadi sejak Selasa telah menyebabkan ratusan orang terdampak, dengan 156 orang tercatat mengalami luka-luka.
"Secara keseluruhan, 156 orang luka-luka selama kerusuhan di Tirana, termasuk 97 personel kepolisian, 12 orang yang melintas, dan empat anak di bawah umur," kata Demo, seperti dikutip kantor berita Albania, ATA.
Dari total korban luka tersebut, sebagian besar merupakan anggota kepolisian yang bertugas mengamankan demonstrasi.
Selain polisi, warga yang sedang melintas di sekitar lokasi kerusuhan turut menjadi korban.
Empat anak di bawah umur juga tercatat mengalami luka-luka selama rangkaian aksi berlangsung.
Laporan tersebut tidak merinci kondisi seluruh korban maupun jumlah orang yang memerlukan perawatan di rumah sakit.
Demonstran Lempar Bom Molotov dan Serbu Gedung Pemerintah
Aksi mahasiswa yang awalnya menyuarakan persoalan pendidikan berkembang menjadi bentrokan dengan aparat keamanan.
Dalam beberapa hari terakhir, sebagian demonstran melemparkan batu, kembang api, dan bom molotov ke arah petugas kepolisian.
Sejumlah gedung pemerintah juga menjadi sasaran dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
Massa dilaporkan menyerbu gedung kementerian serta merusak jendela toko dan kios di sepanjang jalan utama Tirana.
Polisi merespons kerusuhan dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.
Aparat juga menggunakan meriam air dalam upaya mengendalikan situasi di lokasi demonstrasi.
Bentrokan tersebut menyebabkan kerusakan fasilitas serta menambah jumlah korban luka dari kalangan aparat dan masyarakat.
Mahasiswa Protes Biaya Pendidikan dan Minimnya Lapangan Kerja
Demonstrasi di Albania bermula dari ketidakpuasan mahasiswa terhadap kondisi pendidikan dan peluang kerja.
Para mahasiswa memprotes tingginya biaya pendidikan yang dinilai menjadi beban bagi mereka.
Selain persoalan biaya, demonstran menyuarakan keluhan mengenai buruknya kondisi belajar.
Terbatasnya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi para lulusan juga menjadi salah satu tuntutan utama.
Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi tuntutan politik yang ditujukan kepada pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama.
Para pengunjuk rasa mendesak Rama meletakkan jabatannya di tengah meningkatnya ketegangan di ibu kota.
PM Edi Rama Tolak Mundur dan Singgung Campur Tangan Asing
Perdana Menteri Albania Edi Rama menolak tuntutan demonstran yang memintanya mengundurkan diri.
Pemimpin Partai Sosialis tersebut juga mengecam aksi kekerasan yang terjadi selama demonstrasi.
Di tengah kerusuhan, Rama menyatakan adanya dugaan campur tangan asing yang bertujuan menghambat langkah Albania menuju keanggotaan Uni Eropa.
Namun, laporan tersebut tidak merinci pihak asing yang dimaksud maupun bukti yang mendukung tudingan tersebut.
Pernyataan Rama muncul ketika pemerintah Albania menghadapi tekanan akibat demonstrasi mahasiswa yang berlangsung selama beberapa hari.
Kedutaan Rusia Imbau Warganya Hindari Kerumunan
Situasi keamanan di Tirana turut mendapat perhatian perwakilan diplomatik asing yang berada di Albania.
Pada Kamis (15/10/2026), Kedutaan Besar Rusia di Albania mengeluarkan imbauan kepada warga negaranya yang berada di negara tersebut.
Warga Rusia diminta menghindari kerumunan besar menyusul demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi.
Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah kewaspadaan terhadap situasi keamanan di tengah berlangsungnya aksi massa.
Hingga laporan disampaikan pada Sabtu (17/10/2026), pemerintah Albania telah mencatat 156 korban luka akibat kerusuhan sejak Selasa.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Ahmad Yusuf




