
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan hampir 12.000 warga Republik Demokratik (RD) Kongo terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat meningkatnya kekerasan di wilayah tenggara negara tersebut, menyusul serangan yang menewaskan dua warga sipil dan menyebabkan sejumlah korban luka serta penculikan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyampaikan laporan tersebut pada Rabu (21/10/2026), berdasarkan informasi dari mitra kemanusiaan yang beroperasi di wilayah terdampak.
Menurut OCHA, gelombang pengungsian terbaru terjadi pada Senin (19/10/2026), ketika ribuan warga meninggalkan wilayah Nambya di Provinsi Haut-Lomami menuju wilayah Mitwaba di Provinsi Haut-Katanga.
Peningkatan kekerasan yang berlangsung sejak Agustus 2026 telah memaksa ribuan penduduk meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari perlindungan.
Hampir 12 Ribu Warga Mengungsi Setelah Serangan Mematikan
OCHA menyebut hampir 12.000 orang mengungsi dari Nambya menuju Mitwaba setelah serangan terbaru yang dilaporkan terjadi di kawasan tersebut.
Serangan itu dilaporkan mengakibatkan dua warga sipil meninggal dunia, sejumlah orang mengalami luka-luka, dan beberapa orang menjadi korban penculikan.
Peristiwa tersebut memicu gelombang perpindahan penduduk menuju wilayah yang dianggap lebih aman.
Para pengungsi terbaru bergabung dengan sekitar 14.500 orang yang sebelumnya telah meninggalkan rumah mereka akibat serangan serupa sepanjang Oktober 2026.
Dengan demikian, jumlah warga yang dilaporkan mengungsi dalam dua gelombang tersebut mencapai sekitar 26.500 orang.
OCHA menyatakan situasi keamanan yang belum stabil berpotensi menyebabkan perpindahan penduduk dalam jumlah lebih besar apabila kekerasan terus berlanjut.
Kedatangan Pengungsi Menambah Tekanan terhadap Masyarakat Setempat
Gelombang pengungsian baru menyebabkan meningkatnya kebutuhan bantuan kemanusiaan di wilayah tujuan pengungsian.
Menurut OCHA, masyarakat yang menerima kedatangan para pengungsi menghadapi tekanan tambahan karena harus berbagi sumber daya dan fasilitas yang tersedia.
Kebutuhan mendesak mencakup tempat tinggal sementara, makanan, layanan kesehatan, air bersih, dan fasilitas sanitasi.
Selain kebutuhan dasar tersebut, perlindungan terhadap warga sipil menjadi perhatian utama karena situasi keamanan masih berisiko.
Bertambahnya jumlah pengungsi juga meningkatkan kebutuhan dukungan bagi masyarakat setempat yang menampung keluarga-keluarga terdampak.
OCHA memperingatkan bahwa kekerasan lanjutan dapat memperburuk kondisi kemanusiaan sekaligus menyulitkan upaya penyaluran bantuan.
PBB Serukan Perlindungan Warga Sipil dan Akses Bantuan Kemanusiaan
PBB kembali menyerukan seluruh pihak yang terlibat dalam kekerasan di RD Kongo untuk mengutamakan keselamatan masyarakat sipil.
OCHA menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum humaniter internasional dalam setiap situasi konflik.
Lembaga tersebut juga meminta agar petugas kemanusiaan diberikan akses yang aman dan berkelanjutan untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Menurut OCHA, memburuknya situasi keamanan dapat menghambat pergerakan pekerja kemanusiaan menuju wilayah terdampak.
Hambatan tersebut berisiko memperlambat penyaluran makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta bantuan perlindungan kepada para pengungsi.
PBB mendesak semua pihak memastikan akses kemanusiaan tidak terhalang agar kebutuhan mendesak masyarakat terdampak kekerasan dapat segera ditangani.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




