HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Ancam Gunakan Taktik Militer Baru Jika Amerika Serikat Kembali Lancarkan Perang di Timur Tengah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Iran Ancam Gunakan Taktik Militer Baru Jika Amerika Serikat Kembali Lancarkan Perang di Timur Tengah
Foto: (Sumber :Arsip foto - Para demonstran anti-perang menggelar protes di dekat Gedung Putih menentang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, di Washington DC, Amerika Serikat pada 7 April 2026. (ANTARA/Celal Güneş - Anadolu Agency).)

Pantau - Iran menyatakan siap menggunakan taktik militer baru dalam operasi balasan apabila Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap negara tersebut di tengah ketegangan yang belum mereda di kawasan Timur Tengah.

Anggota Parlemen Iran Feda Hossein Maleki mengatakan pihaknya terus memantau aktivitas militer Amerika Serikat, terutama di kawasan Timur Tengah dan sekitar Selat Hormuz.

Maleki menegaskan bahwa Iran telah menyampaikan peringatan kepada Washington mengenai kemungkinan perubahan strategi militernya jika konflik kembali meningkat.

"Kami memantau tindakan Amerika di kawasan dan sekitar Selat Hormuz. Kami telah menyampaikan kepada pihak AS bahwa jika mereka ingin memulai perang lagi, Iran akan menggunakan opsi baru," kata Maleki kepada RIA Novosti.

Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan mengenai langkah Amerika Serikat yang secara bertahap mengevakuasi personel militer dan diplomatiknya dari Timur Tengah.

Iran Siapkan Perubahan Strategi dan Taktik Militer

Feda Hossein Maleki menjelaskan bahwa opsi baru yang disiapkan Iran mencakup perubahan pendekatan dalam menjalankan operasi militer.

Menurutnya, perubahan tersebut meliputi cara pelaksanaan operasi, pendekatan taktis, serta penggunaan strategi baru dalam menghadapi Amerika Serikat.

Iran disebut telah mempertimbangkan sejumlah langkah yang dapat diterapkan apabila militer AS kembali melakukan serangan.

Maleki menyatakan pendekatan taktis baru tersebut "dapat mengejutkan" dunia dan para pakar militer.

Ia membandingkan kemungkinan tersebut dengan kemampuan rudal Iran yang menurutnya pernah mengejutkan dunia.

Meski demikian, Maleki tidak merinci bentuk taktik baru maupun jenis operasi yang akan digunakan Iran.

Pernyataan itu disampaikan sebagai peringatan terhadap kemungkinan berlanjutnya konflik bersenjata antara Teheran dan Washington.

Amerika Serikat Dilaporkan Evakuasi Personel dari Timur Tengah

Di tengah peringatan Iran, Amerika Serikat dilaporkan mulai mengurangi keberadaan personel militer dan diplomatiknya di kawasan Timur Tengah.

NBC News pada Rabu (21/10/2026) melaporkan bahwa proses evakuasi tersebut dilakukan secara bertahap berdasarkan keterangan sejumlah sumber.

Langkah itu disebut memiliki kemiripan dengan tindakan yang dilakukan Washington sebelum pecahnya perang terhadap Iran pada Februari 2026.

Laporan tersebut muncul ketika ketegangan antara kedua negara masih berlangsung meskipun sebelumnya telah dilakukan upaya penghentian permusuhan.

RIA Novosti kemudian meminta tanggapan Pentagon mengenai laporan penarikan personel Amerika Serikat dari Timur Tengah.

Namun, Pentagon menolak memberikan komentar terkait informasi tersebut.

Belum terdapat penjelasan resmi dari Pentagon mengenai tujuan maupun cakupan evakuasi yang dilaporkan NBC News.

Konflik Iran dengan AS dan Israel Dimulai pada Februari 2026

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat setelah Washington bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut kemudian memicu tindakan balasan dari Iran sehingga konflik berkembang menjadi rangkaian serangan antara kedua pihak.

Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian seiring berlanjutnya operasi militer tersebut.

Pada pertengahan Juni 2026, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan permusuhan.

Kesepahaman tersebut menjadi salah satu upaya untuk meredakan konflik setelah berlangsungnya serangan militer sejak Februari.

Namun, upaya penghentian permusuhan tidak bertahan lama karena kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.

Kondisi tersebut membuat konflik antara Iran dan Amerika Serikat belum mencapai penyelesaian hingga Oktober 2026.

Selat Hormuz Jadi Salah Satu Fokus Pemantauan Iran

Iran menyebut kawasan Selat Hormuz sebagai salah satu wilayah yang terus dipantau dalam perkembangan aktivitas Amerika Serikat.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu rute penting perdagangan energi internasional.

Pernyataan Maleki menunjukkan bahwa aktivitas Amerika Serikat di sekitar kawasan tersebut menjadi perhatian Teheran.

Iran juga menegaskan kesiapan untuk mengubah pendekatan militernya apabila kembali menghadapi serangan dari Washington.

Sementara itu, laporan evakuasi personel AS dari Timur Tengah belum disertai penjelasan resmi Pentagon mengenai kemungkinan perubahan kebijakan militernya.

Hingga Jumat (23/10/2026), konflik antara Iran dan Amerika Serikat masih belum terselesaikan, sementara kedua negara belum mencapai kesepakatan penghentian permusuhan yang bertahan lama.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026