
Pantau - Pemerintah Prancis mengerahkan sekitar 70.000 personel kepolisian dan gendarmerie untuk mengamankan demonstrasi lanjutan pada Sabtu (24/10/2026), menyusul gelombang unjuk rasa nasional yang sebelumnya diikuti ratusan ribu orang.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengumumkan pengerahan besar-besaran tersebut dalam konferensi pers pada Jumat (23/10/2026).
"Besok, 70.000 anggota kepolisian dan gendarmerie akan dikerahkan," kata Nunez.
Pemerintah juga menyiapkan dukungan personel militer, unit khusus kepolisian, helikopter, pesawat nirawak, kendaraan lapis baja, serta meriam air untuk mendukung pengamanan.
Langkah tersebut dilakukan di tengah berlanjutnya aksi protes yang bermula dari tuntutan perbaikan sistem pendidikan dan kemudian meluas menjadi demonstrasi terkait kenaikan harga di Prancis.
Puluhan Ribu Polisi dan Gendarmerie Disiagakan
Nunez menjelaskan bahwa sekitar 70.000 personel kepolisian dan gendarmerie akan dilibatkan dalam operasi pengamanan demonstrasi.
Gendarmerie merupakan aparat keamanan berstatus militer yang menjalankan fungsi kepolisian di Prancis.
Namun, tidak seluruh personel yang dikerahkan akan bertugas langsung menghadapi massa demonstran.
Sebagian aparat akan ditempatkan untuk menjaga gedung-gedung dan menjalankan tugas pendukung bagi penegak hukum.
Pemerintah Prancis juga berencana melibatkan personel militer serta unit khusus elite dari kepolisian dan gendarmerie.
Pembagian tugas tersebut dilakukan untuk mendukung pengamanan di berbagai lokasi selama berlangsungnya aksi protes.
Helikopter, Drone, dan Kendaraan Lapis Baja Dikerahkan
Selain pengerahan personel, pemerintah Prancis menyiapkan sejumlah peralatan pendukung operasi keamanan.
Nunez menyebut helikopter dan pesawat nirawak atau drone akan dilibatkan dalam pengamanan demonstrasi.
Kendaraan lapis baja dan meriam air juga disiapkan sebagai bagian dari perlengkapan aparat keamanan.
Pengerahan peralatan tersebut menyusul pengalaman pengamanan demonstrasi sebelumnya yang diwarnai tindakan aparat terhadap massa.
Pada aksi nasional 17 Oktober 2026, petugas keamanan menggunakan gas air mata, granat setrum, dan meriam air untuk menghadapi demonstran.
Demonstrasi Prancis Bermula dari Protes Pelajar dan Mahasiswa
Gelombang demonstrasi di Prancis bermula pada pertengahan September 2026 ketika siswa sekolah menengah atas dan mahasiswa menggelar aksi di pinggiran Paris.
Para pelajar dan mahasiswa menuntut perbaikan sistem pendidikan serta kondisi sekolah.
Aksi tersebut kemudian mendapat dukungan dari kelompok masyarakat yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap kenaikan harga.
Bergabungnya berbagai kelompok masyarakat membuat demonstrasi meluas ke sejumlah wilayah di Prancis.
Pada 22 Oktober 2026, mahasiswa juga menggelar aksi protes di Sciences Po Paris, salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di negara tersebut.
Demonstrasi 17 Oktober Diikuti 550.000 Orang
Gelombang protes mencapai salah satu titik terbesarnya ketika demonstrasi nasional digelar pada Sabtu (17/10/2026).
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 550.000 orang mengikuti aksi tersebut.
Aparat keamanan menggunakan sejumlah perlengkapan pengendalian massa, termasuk gas air mata, granat setrum, dan meriam air.
Besarnya jumlah peserta pada demonstrasi sebelumnya menjadi latar belakang peningkatan kesiapan aparat menghadapi aksi lanjutan.
Pemerintah Prancis kini menyiapkan pengamanan dengan melibatkan puluhan ribu personel dan berbagai sarana pendukung untuk menjaga keamanan selama demonstrasi Sabtu (24/10/2026).
- Penulis :
- Aditya Yohan




