
Pantau - Manajer Twentieth Century Fox Indonesia LTD Siegertsz menemui Presiden Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, pada 19 Juni 1954 untuk menawarkan pemutaran film “The Robe” di Istana yang dapat disaksikan Presiden bersama sejumlah pejabat.
Pertemuan tersebut tercatat dalam arsip ANTARA yang pada masa itu masih menggunakan ejaan lama dalam penulisan berita.
Siegertsz menyampaikan keinginan perusahaannya untuk memperoleh izin memutar film tersebut di Istana Merdeka.
"Kundjungannja itu ialah untuk menawarkan kepada JM, apakah JM suka memperkenankan perusahaannja untuk memutar film "The Robe" di Istana dihadapan JM serta pembesar2 lainnja."
Permintaan pemutaran film tersebut kemudian mendapat persetujuan, sedangkan waktu pelaksanaannya akan ditentukan kemudian.
"Permintaan tersebut diluluskan dan waktunja akan ditentukan lagi."
Izin Memperkenalkan Cinemascope Hampir Berakhir
Keinginan Twentieth Century Fox memutar “The Robe” di Istana berkaitan dengan masa izin memperkenalkan teknologi Cinemascope di Indonesia yang saat itu hampir berakhir.
"Diterangkan selandjutnja oleh Siegertsz, bahwa hasratnja jg begitu besar untuk memutar film di Istana ialah, karena idjin untuk memperkenalkan Cinemascope dinegeri ini telah hampir habis waktunja. Waktu itu ditetapkan hanja untuk 6 bulan."
Izin untuk memperkenalkan Cinemascope tersebut disebut diberikan untuk jangka waktu enam bulan.
Pertemuan Berlangsung di Istana Merdeka
Arsip ANTARA mencatat Siegertsz diterima Presiden di Istana Merdeka pada pagi hari.
"Pagi ini Siegertsz Manager Twentieth Century Fox Indonesia LTD telah diterima oleh JM Presiden di Istana Merdeka."
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari catatan sejarah perfilman Indonesia mengenai upaya perusahaan film internasional memperkenalkan teknologi perfilman kepada masyarakat pada era 1950-an.
- Penulis :
- Gerry Eka




