Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Hikmah di Balik Pertanyaan Malaikat kepada Allah tentang Penciptaan Manusia

Oleh Latisha Asharani
SHARE   :

Hikmah di Balik Pertanyaan Malaikat kepada Allah tentang Penciptaan Manusia
Foto: Ilustrasi (Freepik)

Pantau - Pertanyaan para malaikat tentang keputusan Allah SWT untuk menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi diabadikan dalam Surat Al-Baqarah ayat 30. Malaikat, sebagai makhluk yang senantiasa taat dan tidak memiliki hawa nafsu, merasa heran mengapa makhluk yang berpotensi menumpahkan darah dan merusak bumi dipilih sebagai pemimpin. Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa ada hikmah di balik penciptaan manusia yang tidak diketahui oleh para malaikat.

Sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut:

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.' Mereka berkata, 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau!' Tuhan berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.'" (QS Al-Baqarah [2]: 30)

Ayat ini menimbulkan berbagai perdebatan di kalangan ulama dan ahli tafsir. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah apakah keberatan yang diajukan malaikat merupakan bentuk hawa nafsu seperti yang dimiliki manusia. Sebab, dalam ayat lain, Allah SWT menegaskan bahwa malaikat tidak memiliki hawa nafsu, sebagaimana disebutkan dalam QS At-Tahrim ayat 6 dan QS Al-Anbiya ayat 19.

Baca juga: Ayat Alquran tentang Penciptaan Manusia

Apakah Keberatan Malaikat Termasuk Hawa Nafsu?

Dalam menanggapi pertanyaan ini, Ustaz Ahmad Lc. MA dari Rumah Fiqih Indonesia sebagaimana dilansir dari Republika menjelaskan bahwa keberatan yang diajukan oleh malaikat dalam ayat ini bukanlah bentuk hawa nafsu seperti yang dimiliki manusia. Ia menegaskan bahwa nafsu manusia berkaitan dengan aspek jasmani, seperti makan, minum, dan syahwat. Sementara itu, malaikat adalah makhluk yang diciptakan untuk taat sepenuhnya kepada Allah dan tidak memiliki dorongan seperti manusia.

Menurut Ustaz Ahmad, malaikat tetap memiliki kemampuan berpikir dan berasumsi, meskipun tidak dengan hawa nafsu. Hal ini dapat dilihat dari kisah dua malaikat pada zaman Bani Israil yang berbeda pendapat mengenai nasib seorang pembunuh yang telah menghabisi 100 nyawa. Salah satu malaikat ingin membawa si pembunuh ke surga, sementara yang lain ingin membawanya ke neraka. Kejadian ini menunjukkan bahwa malaikat dapat berdiskusi dan memiliki pandangan yang berbeda, tetapi bukan dalam konteks hawa nafsu.

Lebih lanjut, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa malaikat juga berdoa. Jika malaikat berdoa, bukankah ini menunjukkan adanya harapan? Jika harapan merupakan bentuk emosi, apakah itu bisa dikategorikan sebagai hawa nafsu? Dalam konteks ini, Ustaz Ahmad menjelaskan bahwa malaikat memang memiliki emosi tertentu, seperti rasa kagum dan ketundukan, tetapi bukan hawa nafsu dalam pengertian manusia.

Baca juga: Keutamaan Membaca dan Tasbih Malaikat saat Hari Jumat Agar Rezeki Berlimpah

Malaikat dalam Peperangan: Bentuk Emosi atau Nafsu?

Dalam sejarah Islam, terdapat beberapa peristiwa di mana Allah SWT mengutus pasukan malaikat untuk membantu kaum Muslim dalam peperangan, seperti dalam Perang Badar. Jika peperangan sering dikaitkan dengan dorongan emosi dan hawa nafsu, bagaimana dengan malaikat yang turut serta dalam pertempuran?

Menurut Ustaz Ahmad, keikutsertaan malaikat dalam perang bukan karena hawa nafsu, melainkan sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah SWT. Malaikat tidak berperang atas dasar keinginan pribadi, melainkan karena diperintahkan oleh Allah untuk mendukung kaum Muslim. Ini menunjukkan bahwa peran malaikat dalam peristiwa-peristiwa tertentu tetap berada dalam koridor ketaatan tanpa adanya dorongan nafsu.

Tafsir Ulama tentang Khalifah di Bumi

Hikmah di Balik Pertanyaan Malaikat kepada Allah tentang Penciptaan Manusia
Ilustrasi (Freepik)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ada qiraah yang berbeda dalam membaca ayat ini, yaitu "Inni ja'ilun fil ardi khalifah" yang berarti "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah-khalifah di muka bumi." Hal ini menunjukkan bahwa khalifah dalam ayat tersebut tidak hanya merujuk kepada Nabi Adam AS secara individu, tetapi juga kepada keturunannya yang akan menjadi pemimpin di bumi.

Sementara itu, Al-Qurtubi mengutip pendapat dari Zaid bin Ali yang menyatakan bahwa istilah "khalifah" dalam ayat ini bukan hanya merujuk kepada Nabi Adam AS, tetapi kepada seluruh manusia yang akan memimpin dan mengatur kehidupan di bumi. Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, dan para ahli tafsir lainnya juga memiliki pendapat serupa.

Ada pula pendapat yang menyebut bahwa malaikat mengetahui kecenderungan manusia untuk berbuat kerusakan berdasarkan makhluk sebelumnya yang telah menghuni bumi sebelum penciptaan Adam. Oleh karena itu, keberatan mereka bukanlah bentuk protes terhadap Allah, melainkan refleksi dari pemahaman mereka tentang sifat dasar manusia. Namun, Allah SWT menjawab bahwa Dia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh para malaikat, yakni hikmah besar di balik penciptaan manusia sebagai khalifah.

Baca juga: Ayat Alquran Tentang Umur Manusia dan Hikmahnya

Kesimpulan

Surat Al-Baqarah ayat 30 mengajarkan bahwa keputusan Allah SWT dalam menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi memiliki hikmah yang mendalam. Malaikat, meskipun mempertanyakan keputusan ini, tetap tunduk dan taat sepenuhnya kepada Allah. Keberatan mereka bukanlah bentuk hawa nafsu, tetapi ekspresi dari pemahaman mereka terhadap sifat manusia berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Penafsiran mengenai ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan dan keadilan di bumi. Sebagai khalifah, manusia diberi tanggung jawab untuk menegakkan kebaikan dan menghindari kerusakan. Oleh karena itu, tugas manusia bukan hanya menikmati kehidupan di dunia, tetapi juga memastikan bahwa mereka menjalankan amanah yang telah diberikan oleh Allah dengan sebaik-baiknya.

Semoga pembahasan ini menambah pemahaman kita tentang peran manusia di bumi serta kebijaksanaan Allah SWT dalam menciptakan makhluk-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis :
Latisha Asharani