Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Tradisi Ngapungkeun Balon di Garut Jadi Simbol Kebersamaan dan Potensi Wisata Lebaran

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Tradisi Ngapungkeun Balon di Garut Jadi Simbol Kebersamaan dan Potensi Wisata Lebaran
Foto: (Sumber: Sejumlah warga menyaksikan proses menerbangkan balon raksasa di Kampung Panawuan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (20/3/2026). (ANTARA/Feri Purnama).)

Pantau - Tradisi Ngapungkeun balon menjadi salah satu cara warga Garut merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan menerbangkan balon raksasa di Kampung Panawuan, Kecamatan Tarogong Kidul.

Tradisi Lebaran yang Turun Temurun

Kegiatan ini berlangsung setelah Shalat Id dan menjadi momen yang dinantikan warga setiap tahun.

“Ini adalah hal yang ditunggu tunggu di Hari Raya Idul Fitri bareng sama teman teman saudara saudara di sini,” ungkap Syakira Salwa.

Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1960-an dan menjadi warisan budaya masyarakat setempat.

Warga berkumpul di lapangan terbuka untuk menyaksikan penerbangan balon yang berukuran besar.

Dalam satu lokasi, lebih dari dua balon raksasa dapat diterbangkan dengan ukuran mencapai diameter 20 meter dan panjang 10 meter.

Gotong Royong dan Potensi Wisata

Proses pembuatan balon dilakukan secara gotong royong selama sekitar tujuh hari dengan biaya sekitar Rp700 ribu per balon.

Warga terlibat mulai dari perancangan hingga penerbangan termasuk menyiapkan tungku api dan menjaga keseimbangan balon.

“Nilainya sebagai ajang silaturahmi masyarakat berkumpul di sini sekaligus menjadi hiburan di Hari Raya Lebaran,” ungkap Atep.

Tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan tanpa memandang perbedaan status sosial.

Kepala Disparbud Garut Beni Yoga Gunasantika menilai tradisi tersebut memiliki potensi sebagai daya tarik wisata.

“Kami memandang kegiatan ini sebagai potensi atraksi wisata berbasis kearifan lokal yang sangat menarik dan memiliki daya tarik kuat,” ungkapnya.

Tradisi Ngapungkeun balon menjadi simbol kebahagiaan dan kebersamaan masyarakat saat Lebaran.

Penulis :
Gerry Eka