
Pantau - Kadar kolesterol dalam tubuh dapat meningkat tanpa gejala jelas akibat faktor genetika, kualitas tidur, dan peradangan kronis yang sering tidak disadari.
Faktor Genetika dan Risiko Tersembunyi
Ahli kardiologi menyebut faktor genetika menjadi salah satu penyebab utama peningkatan kolesterol yang kerap diabaikan.
Dokter Nathaniel Lebowitz mengatakan, "kondisi bawaan seperti kadar Lp(a) yang tinggi dapat secara signifikan meningkatkan risiko terlepas dari gaya hidup sehat" yang dijalankan.
Lipoprotein (a) atau Lp(a) merupakan partikel kolesterol yang dapat memicu pembekuan dan peradangan di arteri sehingga memperbesar risiko penyakit kardiovaskular.
Karena tidak dapat dikendalikan melalui pola makan atau gaya hidup, pemeriksaan rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko ini sejak dini.
Pola Tidur dan Peradangan Kronis
Selain genetika, kualitas tidur juga berpengaruh terhadap keseimbangan kolesterol dalam tubuh.
"Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kurangnya istirahat berkualitas dapat mengganggu hormon yang mengatur metabolisme, yang menyebabkan perubahan yang tidak menguntungkan pada kolesterol," ungkap Lebowitz.
Kurang tidur dapat meningkatkan hormon stres seperti kortisol yang berdampak pada kenaikan kolesterol jahat atau LDL.
Faktor lain adalah peradangan kronis yang berasal dari kondisi seperti penyakit autoimun, infeksi, atau gangguan gusi yang dapat mengganggu metabolisme lemak.
Para ahli menekankan pentingnya pola hidup sehat, tidur cukup, serta pemeriksaan profil lemak secara berkala untuk mengendalikan kadar kolesterol dan mencegah risiko penyakit jantung serta stroke.
- Penulis :
- Aditya Yohan





