HOME  ⁄  Lifestyle

Ruwatan Kota Surabaya Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Jiwa Kota Modern

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Ruwatan Kota Surabaya Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Jiwa Kota Modern
Foto: (Sumber: Warga mengikuti Ruwatan Kota dan Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 di Halaman Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan budaya yang diisi kirab, ruwatan, dan pagelaran wayang kulit tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus upaya pelestarian warisan budaya Jawa di tengah perkembangan era digital. ANTARA-HO/Diskominfotik Surabaya.)

Pantau - Pemerintah Kota Surabaya menggelar Ruwatan Kota dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya ke-733 di kawasan Tugu Pahlawan sebagai upaya menjaga keseimbangan budaya di tengah pesatnya modernisasi kota.

Kegiatan budaya tersebut diisi dengan kirab gunungan, kidung Jawa, hingga pagelaran wayang kulit dengan lakon “Dewa Ruci”.

“Di tengah lalu lintas metropolitan, gedung tinggi, pusat belanja, dan layar digital yang tak pernah tidur, Surabaya tiba-tiba seperti berhenti sejenak untuk menengok dirinya sendiri,” demikian kutipan dalam artikel tersebut.

Ruwatan disebut bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan simbol refleksi sosial bagi kota besar yang terus berkembang.

Dalam budaya Jawa, tradisi ruwatan dimaknai sebagai upaya membuang sengkala atau energi buruk agar kehidupan kembali seimbang.

Tradisi tersebut lahir dari kesadaran bahwa manusia hidup dalam hubungan dengan alam, ruang sosial, dan nilai spiritual.

Dalam konteks kota modern, makna ruwatan meluas menjadi upaya meruwat arah pembangunan, menjaga ingatan kolektif, dan memperbaiki cara kota memperlakukan manusianya.

Modernisasi Dinilai Berisiko Mengikis Ruang Batin Kota

Artikel tersebut menilai Surabaya berkembang pesat sebagai kota metropolitan dengan jalan yang diperlebar, kawasan bisnis yang berkembang, serta apartemen dan pusat komersial yang terus bermunculan.

Namun, pembangunan modern dinilai memiliki risiko membuat kota menjadi efisien tetapi kehilangan ruang batin.

Fenomena yang muncul antara lain kehidupan masyarakat yang semakin individualistis, kampung kota yang terdesak modernisasi, hingga ruang interaksi warga yang terus menyusut.

Generasi muda juga dinilai semakin dekat dengan budaya digital global dibanding budaya tradisional lokal.

Artikel menyebut Surabaya tidak sendirian menghadapi tantangan tersebut.

Sejumlah kota dunia seperti Seoul, Jepang, dan Paris disebut turut menjaga identitas budaya melalui pelestarian kawasan tradisional, festival lokal, dan ruang seni publik.

“Pembangunan tidak cukup hanya mengurus beton dan aspal, tetapi juga memelihara ingatan kolektif masyarakatnya,” tulis artikel tersebut.

Wayang dan Tradisi Dinilai Harus Beradaptasi dengan Zaman

Lakon wayang “Dewa Ruci” dipilih karena dinilai memiliki makna filosofis mendalam tentang pencarian jati diri dan keseimbangan hidup.

Dalam kisah pewayangan, Bima diceritakan mencari air kehidupan sebelum menemukan hakikat dirinya sendiri.

Kisah tersebut dianggap relevan dengan kota modern yang sedang mencari keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kedalaman nilai budaya.

Artikel menilai budaya tidak cukup hanya dipamerkan dalam seremoni, tetapi harus terus dipraktikkan dan diberi makna baru sesuai perkembangan zaman.

Kehadiran dalang anak dalam pagelaran wayang kulit disebut menjadi simbol penting regenerasi budaya di tengah tantangan era digital.

Solusi yang ditawarkan antara lain menghadirkan wayang di platform digital, mengemas kirab budaya sebagai wisata edukatif, serta mengarsipkan tradisi lisan dalam format audiovisual.

“Ruwatan sejatinya bukan tentang menolak modernitas,” tulis artikel tersebut.

Artikel menilai ruwatan justru menjadi pengingat bahwa kemajuan tanpa keseimbangan dapat memunculkan krisis baru seperti polusi udara, tekanan ekonomi, hingga kesehatan mental warga kota.

“Ruwatan kota akhirnya menjadi lebih dari sekadar ritual Jawa. Ia berubah menjadi pengingat bahwa kota besar tetap membutuhkan jiwa,” demikian penutup artikel tersebut.

Penulis :
Gerry Eka