HOME  ⁄  Lifestyle

Dari Loteng Rumah hingga Pasok Program MBG, Kisah Arif Hermawan Bangun Usaha Hidroponik di Lumajang

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Dari Loteng Rumah hingga Pasok Program MBG, Kisah Arif Hermawan Bangun Usaha Hidroponik di Lumajang
Foto: (Sumber: Arif Hermawan menunjukkan hasil kebun hidroponiknya berupa sayuran selada (ANTARA/HO-Diskominfo Lumajang.)

Pantau - Kisah Arif Hermawan, warga Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menjadi contoh bagaimana keterbatasan lahan tidak menghalangi upaya membangun kemandirian pangan melalui pertanian hidroponik modern.

Arif memulai usaha hidroponiknya pada 2019 dari loteng rumah seluas sekitar 40 meter persegi dengan memanfaatkan 70 botol plastik bekas sebagai sistem hidroponik sederhana.

Pada masa awal, berbagai kendala dihadapi karena bibit selada tidak tumbuh optimal, akar tanaman lemah, daun menguning, dan sebagian tanaman mati sebelum panen.

Lulusan ekonomi syariah yang sebelumnya bekerja sebagai sales marketing itu mengaku mempelajari hidroponik secara mandiri melalui video dan berbagai informasi yang diperoleh dari internet.

Bertahan dari Kegagalan hingga Panen Perdana

Bersama istrinya, Arif terus memperbaiki sistem budidaya dengan menata ulang instalasi hidroponik, memperbaiki aliran air, serta meracik ulang nutrisi tanaman hingga berkembang menjadi 340 lubang tanam.

Meski demikian, berbagai masalah masih kerap muncul, mulai dari pompa air yang tidak berfungsi hingga aliran nutrisi yang tersendat.

Arif tetap bertahan dengan memantau tanaman setiap hari dan terus melakukan perbaikan terhadap sistem yang digunakan.

Perubahan mulai terlihat ketika tanaman selada tumbuh lebih hijau, akar berkembang lebih baik, dan tidak lagi mati secara bersamaan.

Panen pertama tidak dijual, melainkan dibagikan kepada para tetangga di sekitar rumahnya.

Respons positif dari warga yang menyukai hasil panennya menjadi titik awal Arif menekuni usaha hidroponik secara lebih serius.

Produksi Tembus 7 Kuintal dan Pasok Program MBG

Seiring meningkatnya permintaan, Arif memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai sales marketing dan mengajukan pinjaman modal sebesar Rp65 juta ke perbankan untuk mengembangkan usaha.

Usaha yang semula dijalankan di loteng rumah kemudian berkembang ke lahan sewa seluas sekitar 220 meter persegi dengan kapasitas 4.200 lubang tanam aktif.

Saat ini kebun hidroponiknya mampu menghasilkan lebih dari tujuh kuintal selada setiap 40 hari dengan harga jual sekitar Rp30 ribu per kilogram.

Dari produksi tersebut, Arif memperoleh omzet sekitar Rp21 juta dan keuntungan bersih sekitar Rp15 juta dalam setiap siklus panen.

Sebagian hasil panennya kini disuplai ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Klakah untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Arif, program MBG bukan hanya peluang usaha, tetapi juga bagian dari ekosistem gotong royong modern untuk membantu pemenuhan gizi anak-anak.

Dorong Generasi Muda Terjun ke Pertanian

Selain mengembangkan usaha, Arif mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) guna memberikan edukasi kepada masyarakat dan generasi muda mengenai pertanian modern.

Arif berharap usahanya terus berkembang, memberi manfaat bagi banyak orang, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Ia juga ingin membuktikan bahwa pertanian bukan pekerjaan kuno, melainkan sektor yang memiliki masa depan menjanjikan jika dikelola secara modern.

"Kalau bukan generasi muda yang mau turun tangan, nanti siapa yang melanjutkan? Mulailah dari kecil, jangan gengsi, jangan takut kotor, karena dari tanah justru bisa tumbuh masa depan yang besar," ungkap Arif Hermawan.

Pemerintah Kabupaten Lumajang mengapresiasi upaya tersebut melalui Program Pekarangan Sehat (PESAT) yang bertujuan mendorong kemandirian pangan keluarga, memperkuat ketahanan pangan rumah tangga, dan mendukung keberlanjutan pemenuhan gizi anak-anak.

Bupati Lumajang Indah Amperawati menilai Program PESAT menjadi strategi pembangunan berbasis kemandirian pangan sekaligus mendukung keberlanjutan Program MBG di daerah tersebut.

Penulis :
Gerry Eka
Editor :
Gerry Eka