
Pantau - Muar di negara bagian Johor, Malaysia, menjadi salah satu wilayah yang masih menyimpan jejak kuat budaya Jawa, mencerminkan hubungan sejarah, migrasi, dan persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia yang telah terjalin sejak masa kolonial hingga saat ini.
Secara historis, migrasi masyarakat Jawa ke Semenanjung Melayu telah berlangsung sejak abad ke-19 sebagai respons terhadap tekanan penjajahan kolonial di tanah Jawa.
Budaya yang dibawa para migran kemudian berbaur dengan budaya lokal dan tetap bertahan hingga lintas generasi di berbagai wilayah Malaysia, termasuk Muar.
Pada 28–30 Mei 2026, ANTARA mengunjungi Kampung Sarang Buaya di Muar dalam kegiatan Familiarisation Trip yang diselenggarakan Tourism Malaysia untuk melihat langsung jejak budaya tersebut.
Keturunan Jawa Masih Menjaga Bahasa dan Ikatan Kekerabatan
Salah satu tokoh yang ditemui adalah Selamat Takim yang masih memiliki garis keturunan Jawa dan disebut memiliki hubungan keluarga dengan Sultan Pakubuwono XI Solo.
Saat ditemui, Selamat Takim menunjukkan kemampuannya berbahasa Jawa dengan mengatakan, "Iso ngomong jowo aku. Setunggal, kalih, tiga, sekawan, gangsal, sedoso."
Menurut Selamat, Muar dahulu menjadi tujuan hijrah masyarakat Indonesia yang meninggalkan tanah air akibat perang dan tekanan kolonial Belanda.
Masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan lebih dahulu bermigrasi ke pesisir Johor sebelum kemudian disusul masyarakat Jawa yang menetap dan berbaur dengan komunitas Melayu setempat.
Perkawinan antaretnis yang berlangsung selama beberapa generasi membuat banyak warga Muar saat ini memiliki hubungan keluarga dengan Indonesia.
"Kita ki sedulur. Wong serumpun. Jamane biyen kita satu rumpun. Iki dino kita pisah rong negoro kabehane merupakan nusantara yang terdiri dari masyarakat melayu yang bersatu menghormati, yang sama sama podo podo bayan biar negorone pada maju. Maju Indonesia, maju Malaysia, kita loro negoro jadi kuat ning Asia Tenggara. Hidup Indonesia, hidup Malaysia," ungkap Selamat Takim.
Pernyataan tersebut menegaskan pandangan bahwa Indonesia dan Malaysia merupakan bangsa serumpun yang memiliki akar sejarah dan budaya yang sama.
Keraton Mbah Anang Jadi Simbol Pelestarian Budaya Jawa
Tokoh lain yang aktif melestarikan budaya Jawa di Muar adalah Johar Paimin yang lahir dan besar di Malaysia serta memiliki leluhur dari Mojokerto, Jawa Timur.
Karena kecintaannya terhadap budaya leluhur, Johar membangun Keraton Mbah Anang yang memadukan unsur budaya Jawa dan Bugis.
Keraton tersebut memiliki gapura bergaya Mojokerto, batu bata yang didatangkan langsung dari Jawa, wayang gunungan berukuran besar, rumah joglo, gamelan, topeng tradisional, hingga reog atau barongan.
Johar juga menggelar kelas gamelan bagi anak-anak Malaysia untuk memperkenalkan budaya Jawa kepada generasi muda.
"Kenapa harus dilestarikan? Karena kita harus kembali semula kepada akar kita," ungkap Johar.
Ia mengaku berpegang pada filosofi Jawa "Sangkan paraning dumadi" yang mengajarkan pentingnya memahami asal-usul dan tujuan kehidupan.
Johar menegaskan bahwa budaya Jawa di Muar telah mengalami akulturasi dengan budaya Melayu sehingga memiliki karakter tersendiri.
"Apa yang kami bangun sebetulnya berbeda. Kami membangun budaya Jawa yang bercampur dengan Melayu, kami bukan lagi murni Jawa," katanya.
Jejak Jawa Terlihat dalam Seni, Kuliner, dan Nama Tempat
Menurut warga setempat Mohd Khairi bin Abu, kawasan Indonesia dan Malaysia pada masa lalu berada dalam rumpun budaya Melayu yang sama sebelum terbentuknya negara-negara modern saat ini.
"Dulu kita disebut Kepulauan Melayu. Kepulauan Melayu itu Malaysia, Indonesia, selatan Thailand, Singapura, semua kepulauan Melayu," ujarnya.
Jejak budaya Jawa di Muar masih terlihat melalui kesenian seperti Kuda Kepang dan barongan yang merupakan bentuk akulturasi dari Reog Ponorogo.
Pengaruh Jawa juga tampak pada kuliner seperti soto, ketupat, lepat, dan nasi ambeng yang masih populer di masyarakat setempat.
Selain itu, sejumlah nama tempat seperti Parit Jawa dan Sungai Gersik yang berasal dari kata Jawa "resik" menunjukkan kuatnya warisan budaya Jawa di kawasan tersebut.
Direktur Senior Divisi Iklan dan Digital Tourism Malaysia Akbal Setia menilai kondisi di Muar mencerminkan eratnya hubungan sosial dan budaya Indonesia-Malaysia yang telah terjalin sejak lama.
Kisah masyarakat Jawa di Muar menunjukkan bahwa hubungan persaudaraan Indonesia dan Malaysia telah dibangun melalui migrasi, perkawinan, bahasa, budaya, dan sejarah bersama jauh sebelum kedua negara meraih kemerdekaan.
- Penulis :
- Gerry Eka





