HOME  ⁄  Lifestyle

Dari Bantul ke Eropa, Apriyadi Kusbiantoro Wujudkan Mimpi Menjadi Ilustrator Resmi Komik Storm

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Dari Bantul ke Eropa, Apriyadi Kusbiantoro Wujudkan Mimpi Menjadi Ilustrator Resmi Komik Storm
Foto: (Sumber: Komikus asal Bantul yang karyanya mendunia, Apriyadi Kusbiantoro tengah menggambar tokoh dalam salah satu komik yang sedang ia garap di meja kerjanya, Bantul, Yogyakarta, Jumat (5/6). ANTARA/Agung Dwi Prakoso.)

Pantau - Komikus senior asal Bantul, Yogyakarta, Apriyadi Kusbiantoro, berhasil menembus industri komik internasional dan mewujudkan impian masa kecilnya menjadi ilustrator resmi komik legendaris Storm yang populer di Eropa.

Apriyadi yang kini berusia 50 tahun tinggal di Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Bantul.

Karyanya telah menembus pasar Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan berbagai negara Eropa lainnya.

Di rumahnya yang dipenuhi lukisan dan sampul komik, Apriyadi masih aktif berkarya dari ruang kerja sederhana berukuran sekitar lima meter persegi menggunakan kertas, kuas, dan cat air.

Kecintaannya terhadap komik dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Ia mengaku sering dimarahi orang tuanya karena buku pelajaran lebih banyak berisi gambar daripada catatan sekolah.

Apriyadi mengatakan, "Waktu SD, orang tua saya sering kesel melihat buku tulis saya yang penuh gambar dibandingkan catatan pelajaran."

Ia juga mengungkapkan, "Karena kala itu orang tua di sekitar saya menganggap kepintaran hanya didapat dari buku pelajaran."

Tokoh-tokoh komik seperti Batman, Superman, Captain America, Storm, dan Tintin menjadi sumber inspirasinya sejak kecil.

Komik Pertama Terbit Saat Kuliah

Saat duduk di bangku SMP, Apriyadi mulai membuat komik sendiri lengkap dengan cerita dan ilustrasinya.

Kesempatan menyelesaikan komik pertama datang ketika ia menjadi mahasiswa semester pertama Jurusan Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta pada 1994.

Ia menciptakan komik berjudul Bunglon yang mengisahkan superhero dengan kemampuan berubah warna menggunakan kostum termokromik.

Apriyadi mengatakan, "Teman SMP dulu ingin dibuatkan tokoh superhero yang bisa berubah warna karena dia punya mainan mobil termokromik yang bisa berganti warna."

Komik Bunglon yang terdiri dari 36 halaman kemudian diterbitkan Balai Pustaka pada 1995.

Meski menjadi karya perdananya yang terbit secara resmi, Apriyadi mengaku tidak lagi memiliki salinan fisik komik tersebut.

Ketika industri komik Indonesia mengalami kemunduran pada akhir 1990-an, ia beralih ke dunia desain grafis dan animasi.

Namun, pengalaman bekerja sebagai ghost artist membuatnya merasa kurang dikenal meski banyak menghasilkan karya.

Apriyadi mengatakan, "Saya pernah bilang ke ibu kalau iklan di televisi itu hasil karya saya. Tapi ibu bertanya, bagaimana dia bisa tahu kalau itu buatan saya."

Menembus Amerika hingga Menjadi Ilustrator Storm

Pada 2007, Apriyadi mulai mencari peluang menjadi ilustrator komik Amerika melalui berbagai forum dan platform daring.

Setelah empat tahun berusaha, kesempatan pertama datang pada 2011 ketika seorang penulis Amerika Serikat mengajaknya berkolaborasi menggarap komik Three Stooges.

Apriyadi mengatakan, "Jadi saya mulai mencari sejak 2007, baru dapat proyek pada 2011 dan masuk proses produksi."

Komik tersebut diterbitkan Bluewater Productions pada 2012.

Pada tahun yang sama, Dark Horse Comics mempercayainya mengerjakan komik pendek Radio Gaga.

Sejak saat itu berbagai proyek internasional mulai berdatangan.

Keinginannya menembus pasar komik Eropa akhirnya terwujud setelah karya fan art Storm yang diunggahnya di internet menarik perhatian kolektor komik asal Belanda.

Dari sana, Apriyadi diperkenalkan kepada penulis komik Belanda dan mendapat proyek De Verloren Verhalen van Lemuria yang diterbitkan Dark Dragon Books pada 2014.

Setelah komik tersebut terbit, ia diundang ke Belanda untuk melakukan tur promosi dan bertemu para pembaca.

Apriyadi mengatakan, "Aku yang masih anak bawang tiba-tiba seperti jadi superstar di sana, antrean tanda tangan panjang sekali."

Puncak kariernya terjadi ketika penulis asli Storm memintanya menjadi ilustrator resmi serial tersebut.

Ia mengatakan, "Pernah ada masa ketika saya berani bermimpi menjadi ilustrator Storm. Dan ternyata mimpi itu tercapai ketika penulis asli Storm meminta saya menjadi ilustratornya."

Pada 2024, Apriyadi menjadi ilustrator komik De Rover van Pasar Setan dalam serial Elang Jawa yang diterbitkan majalah komik Belanda Eppo Stripblad.

Ia menyebut proyek tersebut sebagai salah satu pencapaian paling membanggakan karena membawa cerita Indonesia ke pasar Eropa.

Apriyadi mengatakan, "Elang Jawa ini proyek kebanggaan saya karena merupakan komik Indonesia."

Dalam waktu dekat, ia akan kembali ke Eropa untuk meluncurkan komik Elang Jawa serta edisi terbaru Storm dalam bahasa Belanda dan Jerman.

Ia mengatakan, "Jadi di Eropa saya meluncurkan komik Indonesia pertama saya yang diterima pembaca Eropa, yaitu Elang Jawa."

Kesuksesan Apriyadi mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah DIY yang menilai pencapaiannya membuktikan talenta Yogyakarta mampu bersaing di tingkat global dan menjadi inspirasi bagi generasi muda di industri kreatif.

Penulis :
Gerry Eka