HOME  ⁄  Lifestyle

Layanan Navigasi Pasien Didorong Percepat Diagnosis dan Pengobatan Kanker Paru di Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Layanan Navigasi Pasien Didorong Percepat Diagnosis dan Pengobatan Kanker Paru di Indonesia
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Kanker Paru. ANTARA/Pexels/am..)

Pantau - Penguatan layanan navigasi pasien atau patient navigation dinilai penting untuk mempercepat sekaligus mengoordinasikan proses skrining, diagnosis, rujukan, pengobatan, hingga tindak lanjut pasien kanker paru di Indonesia.

Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia Esra Erkomay mengatakan layanan navigasi membutuhkan standar yang jelas dan dukungan kebijakan agar dapat terintegrasi dengan sistem kesehatan.

"Layanan navigasi pasien tidak bisa berdiri sendiri. Agar benar-benar memberi dampak, kita membutuhkan komitmen jangka panjang, standar layanan yang jelas, dan dukungan kebijakan yang membuat layanan ini menjadi bagian dari sistem kesehatan, bukan hanya inisiatif sesaat," kata Esra dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Navigator Bantu Pasien Hadapi Hambatan Pengobatan

Layanan navigasi pasien merupakan pendampingan dan koordinasi bagi pasien, keluarga, serta caregiver dalam menjalani rangkaian penanganan kanker.

Navigator pasien membantu mengatasi berbagai hambatan mulai dari kurangnya informasi, proses administrasi, kendala transportasi dan biaya, hingga kebutuhan dukungan psikologis.

Layanan tersebut juga membantu pasien memahami hasil pemeriksaan, mengatur jadwal kontrol, terhubung dengan tenaga kesehatan yang tepat, serta mencegah keterlambatan pengobatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut navigasi pasien sebagai intervensi berbasis bukti untuk membantu pasien melewati sistem pelayanan kanker yang kompleks sehingga diagnosis dan pengobatan dapat diperoleh tepat waktu.

Dokumen Consensus Statement: Patient Navigation: Improving Care and Outcomes in Lung Cancer merangkum salah satu studi yang mengaitkan keberadaan navigator pasien dengan pengurangan rata-rata hampir 20 hari sejak temuan awal foto toraks hingga dimulainya pengobatan.

Beban Kanker Paru Masih Tinggi

Data GLOBOCAN 2022 mencatat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker paru di dunia atau 12,4 persen dari seluruh kasus kanker.

Kanker paru juga menyumbang sekitar 18,7 persen dari total kematian akibat kanker pada 2022.

"Ketika pasien dapat bergerak lebih cepat dari deteksi, diagnosis, hingga pengobatan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga oleh sistem kesehatan melalui koordinasi yang lebih baik, penggunaan sumber daya yang lebih efisien, dan beban pembiayaan yang lebih terkendali," ujar Esra.

Sejumlah negara telah mengintegrasikan navigasi pasien dalam penanganan kanker, termasuk Inggris melalui National Health Service (NHS) yang menempatkan Clinical Nurse Specialist sebagai titik kontak utama bagi pasien sejak diagnosis hingga tindak lanjut.

Penguatan sistem serupa di Indonesia membutuhkan keterlibatan pemerintah, BPJS Kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, organisasi pasien, akademisi, serta sektor swasta untuk membangun pelayanan kanker yang lebih terintegrasi.

Penulis :
Aditya Yohan