
Pantau - Pola makan yang kaya antioksidan dan asam lemak sehat dapat membantu menjaga fungsi prostat, dengan tomat, sayuran krusifer, ikan berlemak, biji-bijian dan kacang, serta buah beri dan teh hijau menjadi sejumlah pilihan makanan yang dapat dikonsumsi.
Berdasarkan laporan laman kesehatan EatingWell pada Selasa (22/9/2026), ahli urologi Jason B. Carter, M.D. menjelaskan kelenjar prostat rentan mengalami peradangan kronis dan kerusakan sel akibat stres oksidatif seiring bertambahnya usia pria.
Konsumsi makanan utuh atau whole foods yang bersifat antiinflamasi disebut dapat menjadi bagian dari pola makan untuk mendukung kesehatan prostat.
Tomat, Brokoli hingga Ikan Berlemak
Tomat merupakan sumber likopen, yakni senyawa karotenoid dengan sifat antioksidan yang terkonsentrasi di jaringan prostat.
Likopen lebih mudah diserap tubuh ketika tomat telah melalui proses pemanasan, seperti diolah menjadi sup atau saus pasta, terutama apabila dikombinasikan dengan sedikit minyak zaitun.
Sayuran krusifer atau cruciferous seperti brokoli, kembang kol, kubis, dan kale mengandung fitokimia sulforafan atau sulforaphane.
Senyawa tersebut berperan dalam proses detoksifikasi pada tingkat seluler dan membantu melindungi jaringan dari kerusakan sel.
Ikan berlemak dari perairan dingin seperti salmon, sarden, kembung, dan makerel menjadi sumber asam lemak omega-3 rantai panjang.
Asupan omega-3 dapat membantu mengurangi inflamasi sistemik sekaligus menjadi alternatif sumber protein untuk menggantikan daging merah olahan.
Biji Labu, Buah Beri dan Teh Hijau
Biji labu atau pumpkin seeds dan aneka kacang mengandung sejumlah mineral esensial, termasuk seng atau zinc dan selenium.
Kelenjar prostat secara alami memiliki konsentrasi seng yang tinggi dan mineral tersebut memiliki peran dalam fungsi reproduksi pria.
Buah beri seperti stroberi, blueberry, dan rasberi mengandung vitamin C serta antosianin, sedangkan teh hijau mengandung polifenol katekin seperti EGCG.
Kandungan antioksidan tersebut membantu melawan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel.
Para ahli menegaskan pola makan bergizi bukan pengganti pemeriksaan maupun tindakan medis untuk menangani penyakit prostat.
Pria, khususnya yang berusia 50 tahun ke atas atau memiliki riwayat keluarga penyakit prostat, dianjurkan berkonsultasi dengan dokter mengenai pemeriksaan kesehatan yang sesuai, termasuk skrining antigen spesifik prostat atau prostate-specific antigen (PSA).
- Penulis :
- Aditya Yohan




