HOME  ⁄  Lifestyle

Tren Bawang Putih Fermentasi Madu Viral di Media Sosial, Ahli Peringatkan Risiko Botulisme hingga Kelumpuhan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Tren Bawang Putih Fermentasi Madu Viral di Media Sosial, Ahli Peringatkan Risiko Botulisme hingga Kelumpuhan
Foto: (Sumber :Ilustrasi rendaman bawang putih di dalam madu.)

Pantau - Tren mengonsumsi bawang putih yang difermentasi atau direndam dalam madu untuk meningkatkan daya tahan tubuh ramai dibagikan di media sosial, tetapi ahli gizi memperingatkan bahwa campuran tersebut berpotensi menyebabkan botulisme, penyakit serius yang dapat memicu kelumpuhan hingga gangguan pernapasan.

Ahli diet terdaftar Lauren Manaker, M.S., RDN, LD, CLEC, menjelaskan bahwa campuran bawang putih dan madu yang disimpan pada suhu ruang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan bakteri Clostridium botulinum berkembang dan menghasilkan racun berbahaya.

Mengutip laporan EatingWell pada Selasa (6/10/2026), Manaker menegaskan bahwa manfaat kesehatan dari kedua bahan tersebut tidak serta-merta membuat campurannya aman dikonsumsi setelah disimpan dalam waktu tertentu.

"Bawang putih dan madu dapat mendukung kesehatan jika dikonsumsi secara terpisah, tetapi mencampurkan keduanya dan membiarkannya pada suhu ruang dapat mengubah kondisinya secara signifikan," kata Manaker.

Mengapa Bawang Putih Fermentasi Madu Bisa Menyebabkan Botulisme?

Risiko botulisme pada campuran bawang putih dan madu berkaitan dengan perubahan kadar air serta kondisi penyimpanan yang memungkinkan bakteri berkembang.

Madu secara alami memiliki kadar air rendah sehingga pertumbuhan mikroorganisme cenderung terhambat.

Namun, bawang putih mengandung lebih banyak air yang dapat bercampur dengan madu selama proses perendaman dan meningkatkan kadar air di dalam wadah.

Perubahan tersebut berpotensi menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri Clostridium botulinum, terutama apabila campuran disimpan dalam kondisi minim oksigen dan tingkat keasamannya tidak cukup rendah.

Dalam kondisi yang sesuai, spora bakteri tersebut dapat berkembang dan menghasilkan toksin botulinum yang menyerang sistem saraf manusia.

Meskipun botulisme tergolong penyakit langka, dampaknya dapat membahayakan kesehatan dan membutuhkan penanganan medis segera.

Kenali Gejala Botulisme yang Bisa Memicu Kelumpuhan

Botulisme merupakan penyakit akibat paparan racun yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum dan dapat mengganggu fungsi saraf serta otot.

Gejala yang dapat muncul meliputi tubuh terasa lemah, kesulitan berbicara, gangguan pernapasan, sakit perut, mual, muntah, hingga diare.

Pada kondisi berat, toksin botulinum dapat menyebabkan kelumpuhan otot yang berisiko mengganggu kemampuan bernapas.

Gangguan pernapasan akibat botulisme termasuk kondisi darurat medis karena dapat mengancam keselamatan penderita.

Masyarakat yang mengalami gejala mencurigakan setelah mengonsumsi makanan fermentasi rumahan disarankan segera mencari pertolongan medis.

Ahli Sarankan Tidak Membuat Fermentasi Bawang Putih Madu Sembarangan

Manaker menyarankan masyarakat tidak mengandalkan campuran bawang putih dan madu buatan sendiri sebagai cara utama meningkatkan daya tahan tubuh.

Menurutnya, bawang putih dan madu tetap dapat dikonsumsi secara terpisah tanpa harus melalui proses perendaman atau fermentasi yang berpotensi menimbulkan risiko keamanan pangan.

Untuk mendukung sistem kekebalan tubuh, masyarakat dianjurkan menerapkan pola makan bergizi seimbang dengan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin dan mineral.

Beberapa sumber vitamin C yang dapat dikonsumsi antara lain jeruk, paprika, stroberi, dan brokoli.

Vitamin C memiliki peran penting dalam mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh dan membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Selain memperhatikan asupan makanan, aktivitas fisik dengan intensitas sedang secara rutin juga dikaitkan dengan fungsi kekebalan tubuh yang lebih baik.

Madu Mentah Juga Berbahaya bagi Bayi di Bawah Satu Tahun

Selain risiko dari campuran bawang putih dan madu, masyarakat perlu mengetahui bahwa madu mentah tidak boleh diberikan kepada bayi berusia kurang dari satu tahun.

Kelompok usia tersebut lebih rentan mengalami botulisme karena sistem pencernaannya belum berkembang sempurna untuk menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.

Larangan pemberian madu berlaku bagi bayi di bawah usia satu tahun, termasuk madu yang dicampurkan ke dalam makanan atau minuman.

Para orang tua diimbau memperhatikan keamanan bahan makanan sebelum memberikannya kepada anak.

Pengobatan rumahan juga tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan penanganan medis apabila seseorang mengalami gejala penyakit.

Masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan yang mengarah pada botulisme atau gangguan kesehatan lainnya.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026