HOME  ⁄  Lifestyle

Studi Terbaru Ungkap Perubahan Suara Bisa Berkaitan dengan Risiko Demensia, Terutama Jika Disertai Gangguan Pendengaran

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Studi Terbaru Ungkap Perubahan Suara Bisa Berkaitan dengan Risiko Demensia, Terutama Jika Disertai Gangguan Pendengaran
Foto: (Sumber :Ilustrasi Alzheimer (ANTARA/Shutterstock/Orawan Pattarawimonchai).)

Pantau - Penelitian terbaru dari Drexel University College of Medicine di Philadelphia, Amerika Serikat, menemukan bahwa gangguan suara, seperti perubahan nada, volume, dan kejernihan suara, berkaitan dengan peningkatan kemungkinan seseorang mengalami demensia atau gangguan kognitif di kemudian hari.

Penelitian yang melibatkan 833.417 peserta berusia 50 tahun ke atas tersebut menunjukkan bahwa individu dengan gangguan suara sekaligus gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 104 persen lebih tinggi mengalami gangguan kognitif atau demensia dibandingkan kelompok pembanding dalam penelitian.

Profesor sekaligus Ketua di Drexel University College of Medicine, Robert Sataloff, mengatakan hubungan paling kuat ditemukan pada peserta yang mengalami kedua gangguan tersebut secara bersamaan.

“Kami menemukan hubungan paling kuat dengan demensia pada pasien yang mengalami gangguan suara dan gangguan pendengaran,” kata Sataloff sebagaimana dikutip dari laporan New York Post yang terbit Minggu (4/10/2026).

Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah Journal of Voice dengan fokus pada hubungan gangguan suara dan pendengaran terhadap kemungkinan munculnya gangguan fungsi otak, termasuk penyakit Alzheimer.

Penelitian Libatkan Lebih dari 833 Ribu Peserta Berusia 50 Tahun ke Atas

Tim peneliti menganalisis data 833.417 peserta berusia minimal 50 tahun untuk mengetahui hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, dan risiko gangguan kognitif.

Penilaian dilakukan mulai satu tahun setelah peserta memperoleh diagnosis gangguan suara atau gangguan pendengaran.

Penelitian tersebut membandingkan kemungkinan terjadinya demensia atau gangguan kognitif pada kelompok peserta dengan kondisi gangguan yang berbeda.

Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi mengalami demensia atau gangguan kognitif di kemudian hari.

Sementara itu, peserta yang mengalami gangguan suara sekaligus gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 104 persen lebih tinggi.

Pada seluruh peserta dengan gangguan suara, baik disertai gangguan pendengaran maupun tidak, peningkatan kemungkinan mengalami demensia atau gangguan kognitif tercatat sebesar 29 persen.

Adapun peserta yang hanya mengalami gangguan pendengaran menunjukkan peningkatan risiko sebesar 27 persen.

“Kami menemukan bahwa mereka yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pasien yang hanya mengalami gangguan pendengaran,” kata Sataloff.

Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara gangguan suara dan kondisi kognitif, meskipun penelitian ini tidak membuktikan bahwa gangguan suara secara langsung menyebabkan demensia.

Perubahan Nada dan Kejernihan Suara Termasuk Gangguan yang Perlu Diperhatikan

Gangguan suara dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk perubahan tinggi rendahnya nada, volume suara, dan kejernihan ketika seseorang berbicara.

Menurut Cleveland Clinic, beberapa kondisi yang termasuk gangguan suara antara lain laringitis, kelumpuhan pita suara, lesi pita suara, serta disfonia spasmodik atau distonia laring.

Laringitis merupakan peradangan pada laring yang dapat menyebabkan suara menjadi serak atau mengalami perubahan.

Sementara itu, kelumpuhan pita suara dan lesi pita suara dapat memengaruhi kemampuan seseorang menghasilkan suara secara normal.

Disfonia spasmodik merupakan gangguan yang memengaruhi otot-otot pada laring sehingga dapat mengganggu proses berbicara.

Penelitian tersebut mengidentifikasi hubungan antara kondisi gangguan suara dan kemungkinan gangguan kognitif, tetapi tidak menetapkan perubahan suara sebagai tanda pasti seseorang akan mengalami demensia.

Gangguan Bicara dan Pendengaran Bisa Mengurangi Aktivitas Sosial

Para peneliti juga menyoroti kemungkinan hubungan antara gangguan komunikasi dan berkurangnya keterlibatan seseorang dalam aktivitas sosial.

Gangguan pendengaran maupun kesulitan berbicara dapat membuat seseorang enggan berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kesempatan seseorang mengikuti kegiatan sosial yang dapat memberikan stimulasi terhadap fungsi otak.

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas sosial dapat membantu menjaga fungsi kognitif dan berperan dalam upaya pencegahan demensia.

Sataloff menilai hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, dan kondisi kognitif merupakan sesuatu yang “wajar”.

Menurut dia, seseorang yang mengalami rasa sakit atau ketidaknyamanan ketika berbicara mungkin menjadi lebih jarang mengikuti aktivitas sosial maupun kegiatan lain yang mendukung kesehatan otak.

Karena itu, penanganan gangguan suara dinilai dapat memberikan manfaat tidak hanya terhadap kemampuan berkomunikasi, tetapi juga terhadap kesempatan seseorang untuk tetap aktif secara sosial.

Peneliti Tegaskan Gangguan Suara Bukan Kepastian Terkena Demensia

Meski menemukan hubungan yang cukup kuat, para peneliti menegaskan bahwa gangguan suara tidak selalu berarti seseorang akan mengalami demensia atau penurunan fungsi kognitif pada masa mendatang.

Perubahan suara juga tidak dapat langsung dianggap sebagai gejala awal penyakit Alzheimer tanpa pemeriksaan dan penilaian medis lebih lanjut.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya keterkaitan statistik antara gangguan suara dan peningkatan kemungkinan gangguan kognitif, bukan hubungan sebab-akibat yang telah dipastikan.

Oleh karena itu, perubahan suara tetap perlu dinilai berdasarkan kondisi kesehatan masing-masing individu dan kemungkinan penyebab lainnya.

Penanganan gangguan suara maupun pendengaran dapat membantu mempertahankan kemampuan komunikasi serta mendukung keterlibatan seseorang dalam aktivitas sehari-hari.

Penelitian ini menambah informasi mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan kesehatan kognitif pada kelompok usia 50 tahun ke atas, terutama yang mengalami gangguan komunikasi.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026